
Sebuah rumah model klasik terdiri dari 3 lantai berdiri tampak gagah di hadapan Ana.
Setelah satpam membukakan pintu pagar yang tinggi itu.Kaivan membawanya masuk dan di sambut seorang wanita tua dengan wajah asing.
"Selamat malam nona."Beliau sedikit menunduk memberikan senyum terbaiknya.
"perkenalkan ini bibi shopie.penjaga rumah ini." Kaivan memperkenalkan Ana.
"Kami akan berkeliling dulu."Kaivan menggenggam tangan Ana mengajaknya menuju lantai dua.
Dilantai pertama hanya terdapat pajangan dan lukisan mahal.Ana sangat kagum di buatnya.Di lantai dua terdapat banyak sekali foto - foto yang tidak Ana kenali.Kaivan mengajak Ana menatap foto paling besar berisi sepasang manusia yang tengah tersenyum berlatar tempat sebuah pernikahan.
"perkenalkan,ini kedua orang tuaku." Kaivan menatap foto tersebut dengan pandangan sendu dan rindu.
Ana menatap seorang pria yang tampan dengan wajah asli Indonesia sedangkan wanita seperti orang luar menggunakan baju pengantin.Pantas saja Kaivan memiliki wajah balsteran.
"ibu ku Celine Miller berasal dari Australia dan ayahku Putra Hutama asli Indonesia.Mereka definisi cinta yang sesungguhnya menurutku."Ana menatap ke arah Kaivan yang tersenyum menatap foto besar itu.
"kamu tau sweety,mereka dua orang yang berlatar belakang dan budaya yang jauh berbeda tapi cinta tetap menyatukan mereka.Bahkan tanpa kata mereka bisa mengerti satu sama lain."Kaivan menatap Ana sejenak.
"Hari itu kami baru pulang setelah dinner di luar.Aku duduk di bangku belakang sedangkan orang tua ku mengobrol sambil bergandengan tangan.tiba - tiba sebuah mobil menabrak dari depan hingga membuat kedua orang tua terluka parah.Sampai maut menjemput aku menyaksikan kalau kedua orang ku saling tersenyum dan mengatakan cinta satu sama lain."
"Semenjak hari itu setiap mendengar kata cinta dari seseorang membuatku takut.Aku akan berlarian setelah orang mengatakan cinta kepadaku.aku takut kejadian itu akan terulang kembali."Kaivan menggenggam tangan Ana.
__ADS_1
"Jadi hal ini yang membuatmu berubah waktu itu ? Membuatmu meninggalkan aku tanpa memberi tahu apa permasalahannya."Ana membalas genggaman Kaivan.
Kaivan mengangguk pelan"maaf,aku hanya terlalu terkejut dan tak tau caranya menjawab.Tapi aku tidak pernah meninggalkanmu,aku hanya meminta waktu."
Ana tidak tau harus mengatakan apa karena mereka memiliki trauma yang sama walau ceritanya berbeda.Ia ingin menyemangati Kaivan sementara ia juga masih berkubang di sana.
"tapi semenjak aku mengenalmu,aku mulai mengerti apa yang di rasakan ayahku ketika bersama ibu ku.Kamu dengan segala hal tentang dirimu membuat aku merasa aku membutuhkanmu."Dengan menatap Ana dalam Kaivan membuat jantung Ana berdebar kencang.
"Entah itu apa namanya tapi aku ingin terus bersama mu.aku ingin kamu untuk diriku sendiri.Apakah kita tidak bisa bersama - sama lagi?"
Ana memeluk Kaivan erat sambil menangis haru.
"mari kita berjuang mas,mari kita mulai untuk saling membutuhkan.Aku tidak tau entah apa yang aku perbuat selama ini hingga bertemu denganmu."
\=\=\=\=
Setelah sempat menangis bersama Kaivan maupun Ana kembali menelusuri lorong rumah tersebut.
"ini rumah peninggalan orang tuaku.Aku berkunjung hanya jika merindukan mereka.Tapi rumah ini selalu di jaga oleh bibi Sophie dia berasal dari negara yang sama dengan ibuku.Dan dia juga sudah ku anggap seperti ibu."Pantas saja rumah ini masih terawat dengan baik gumam Ana.
Sekembalinya mereka di lantai bawah bibi Sophie sudah menanti."Mari saya antar." Jawab wanita itu sambil mengarah ke taman belakang.
Ana sangat takjub melihat taman yang sangat indah walaupun di malam hari.Ia di arahkan ke sebuah tempat terbuat dari kaca dengan banyak bunga - bunga memenuhinya.
__ADS_1
Disana terdapat sebuah meja yang sudah di tata cantik lengkap dengan lilin dan perlengkapan makan.
Kaivan mempersilahkan Ana duduk di kursi yang sudah ia siapkan.setelahnya ia duduk dengan nyaman di hadapan Ana.
Bibi Sophie mulai menghidangkan makanan,walaupun sudah terlihat berumur wanita itu masih begitu cekatan dan gesit.
Kaivan dan Ana mulai makan menyantap makanan dalam diam sambil sekali - kali saling lirik dan tersenyum.
Setelah makanan habis bibi Sophie kembali dengan sebuah kue dan lilin yang menyala.
Ana menutup mulutnya takut sebuah teriakan keluar dari sana.
"Apa aku harus bernyanyi ?" sarkas Kaivan.Ia mengeluarkan sebuah kotak ntah datang dari mana lalu mengeluarkan isinya.
Kaivan berjalan ke arah Ana dan memasangkan sebuah kalung ke leher Ana.Sebuah kalung berliontin bunga mawar yang sangat cantik.
"Selamat ulang tahun sayang.terima kasih kami sudah bertahan sejauh ini.sekarang mari saling berbagi bersamaku."Kaivan mengecup dahi Ana dan berpelukan dengan suka cita.
\=\=\=\=
holla readerssss...
udah Taukan kenapa Kaivan begitu takut dengan komitmen dan kata cinta.
__ADS_1
see you next episode