
Kaivan bergerak gelisah di kursi penumpang.Sopir yang membawanya pulang sempat meliriknya beberapa kali.Takut ia melakukan kesalahan padahal sudah bekerja sebaik mungkin.
Yang supir nya tidak ketahui Kaivan gelisah memikirkan janji yang akhirnya ia ingkari karena pekerjaan yang baru selesai tepat pukul 7 malam.
Kaivan mengingat kembali betapa keras kepalanya pihak yang ingin menjatuhkan nya tadi.
"Anda tidak bisa memimpin perusahaan ini lagi."teriaknya setelah mendengar ancaman Kaivan.
Kaivan yang mendengar teriakan itu menaikkan alisnya,kemudian ia menyeringai.
"Anda seharusnya menikahi wanita yang bisa menambah kekokohan pondasi perusahaan ini.Kita semua tahu kalau saat ini ada sebuah proyek yang mangkrak cukup lama karena perizinannya sulit di dapatkan."
"Apakah sekarang kehidupan pribadi saya urusan anda?bukankah selama ini perusahaan berjalan sangat baik bahkan jauh lebih baik dari pimpinan papa saya.Soal perizinan itu sudah saya bereskan sebelum saya menggelar pesta pernikahan beberapa Minggu lalu."Kaivan tersenyum melihat lawan bicaranya mati kutu.Ia memang belum melanjutkan proyek tersebut karena harus mengurus pernikahan di tambah Ana sempat mengalami kecelakaan.
Karena sempat mengalami masalah perizinan itu, Kaivan ingin ia sendiri yang memastikan proyek itu berjalan.
"bukankah seharusnya anda duduk diam dan menikmati hasil kerja keras saya?apa anda begitu 'memperhatikan' saya hingga mengetahui tentang perizinan tersebut?"Kaivan melipat tangannya ke atas meja dengan mata menatap tajam.
"itu...sa..saya hanya tidak ingin ada proyek yang gagal di perusahaan kita."Jawabnya terbata.Semua mata tertuju padanya membuat ia yang awalnya percaya diri akan bisa mempengaruhi semua jajaran direksi kini terlihat menghakiminya.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan pembelaan pria itu Kaivan mengode Didin untuk memperlihatkan hasil temuannya.
proyektor menampilkan gambar pertemuan pria itu dengan seorang pria dan wanita.Yang Kaivan ketahui Paman dari wanita yang sempat di jodohkan dengannya dan Mariska istri dari pamannya sendiri.
"Apakah pengkhianatan anda ini bersangkutan dengan kedua orang ini?"Tanya Kaivan.
"ini...itu tidak seperti yang anda pikirkan.kami hanya kebetulan bertemu."ucapnya gelagapan.
"hhmm..kebetulan bertemu ya.Kalau begitu kebetulan sekali anda di perbolehkan pulang dan istirahat hari ini."Kaivan tersenyum ramah seperti ia yang biasanya.
Pria yang di maksud Kaivan menatap sekelilingnya,Ia gagal dan merasa malu pada rekan lainnya.segera berdiri dan siap pergi,besok pagi ia akan berbicara dengan yang lainnya.
"Apa anda tidak akan memecatnya?"Tanya seseorang yang berjarak dua kursi dari Kaivan.
Kaivan hanya menyeringai "apa anda pikir saya terlalu baik sehingga membiarkan tikus hidup di perusahaan saya ?"Tanyanya balik.
Mereka semua bersitatap,mengerti.Kaivan tidak pernah berbuat baik kepada pengkhianat,tapi ia akan sangat peduli pada orang - orang yang loyal padanya.
Kaivan mungkin bisa memaafkannya sebagai sesama manusia tapi sebagai pimpinan ia tidak bisa begitu saja melepaskan pria tersebut.Ia di pecat bahkan sebelum tahu ia sudah di pecat.
__ADS_1
Sesampainya di penthouse Kaivan mencari - cari keberadaan Ana.
"sayang,mas pulang."Teriaknya.
Suasana di ruang keluarga sepi.Kaivan berlari ke arah kamar tanpa melihat yang lainnya lagi.Ia yakin istrinya berada di sana.Tapi saat Kaivan masuk dan mencari ke seluruh kamar bahkan kamar mandi sekalipun istrinya tidak ada.
Kaivan keluar kamar dan ia mencium sesuatu yang lezat,membawa langkahnya ke arah dapur.
"sayang,kok gak jawab panggilan mas sih?"Kaivan lansung memeluk istrinya yang lansung tertawa geli.
"mas..mandi dulu sana.kita makan malam bersama."Ana mengusir Kaivan tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"oke,10 menit."Kaivan mengecup sekilas leher Ana yang tengah mengaduk capcay yang ia masak.
\=\=\=\=\=
Holla readerss
see you next episode
__ADS_1