OUR RELASIONSHIPS AND TRAUMA

OUR RELASIONSHIPS AND TRAUMA
Tak ada yang siap untuk sebuah kehilangan


__ADS_3

Ana mendesis pelan saat terbangun,ia tak ingin membangunkan Kaivan yang tidur dengan posisi tak nyaman di samping ranjangnya sambil terus menggenggam tangannya.


Ana melihat kesekitar dan tak menemukan siapa pun.Sejak ia di perbolehkan pulang yang ia lakukan hanya berbaring di ranjang,makan,dan tidur.


Ana menghela nafasnya dalam - dalam sambil menatap langit - langit kamar.


"Maafin mama ya kak,mama gak bisa menjaga kamu dengan baik."Lirihnya dengan suara yang hampir tak terdengar.


Dengan perlahan tangannya meraba perut yang kembali rata.Tak ada perut yang mulai membesar karena kehadiran sang buah hati.


Pada hal baru kemaren mereka iseng mencari nama - nama bayi untuk calon anak pertama mereka.


Bahkan Anya dan Didin dengan senang hati mengubah tempat kencan mereka ke rumah ini untuk bermain dengan mereka.Supaya Ana dan Kaivan juga bisa kencan berdua di luar.


Ana juga sempat memergoki Kaivan membeli beberapa buku parenting saat kencan mereka Minggu lalu.


Semua begitu indah,sampai kebahagian itu sirnah begitu saja.Dengan gerakan yang lemah,tangan yang tadinya meraba perut pindah ke kepala Kaivan.


"maafin aku ya mas."ia mengusap rambut sang suami yang halus di bawah sentuhannya.

__ADS_1


Maaf karena mereka harus kehilangan calon anak mereka akibat kecerobohannya.Maaf karena membuat pria sekuat Kaivan harus menangis diam - diam di kamar mandi.Dan masih banyak maaf yang ingin Ana sampaikan.


"maafin aku."Ucap Ana lagi dengan suara serak menahan tangis.


Ia merasa bersalah teramat sangat pada sang suami.Mereka belum mengetahui jenis kelaminnya,wajahnya lebih mirip Ana atau Kaivan.


"sayang?"


Panggilan itu membuat Ana menggigit bibirnya keras - keras.Tidak,ia tidak ingin menangis dan membuat Kaivan kembali sedih.Tapi rasanya dada Ana terlalu sesak.


"sakit banget mas,dada aku sesak rasanya.."gumam Ana pelan.


"Memang manusia tidak pernah siap untuk kehilangan dan tak ada seorang pun yang siap melepaskan seseorang dalam hidup mereka."Ujar Kaivan sambil membantu menghapus air mata Ana yang mengalir di pipi wanita itu.


"Tapi ayo kita hadapi berdua,bersama - sama.Mari kita saling menopang dan bersandar.Tak perlu berlari,pelan saja tapi pasti."Suara tangis Ana semakin keras.Kaiva membawa sang istri ke dalam pelukannya.


"Satu hal lagi mas mohon teramat sangat.Jangan menyalahkan dirimu sendiri.Mas juga bersalah disini."Akhirnya mereka menangis bersama.


Mereka saling berbagi kesedihan untuk saling menguatkan.Saling kehilangan untuk saling menemukan dan saling merasa lemah kemudian untuk kuat bersama - sama.

__ADS_1


Cukup lama mereka menangis.Kaivan mengurai pelukan dan menghapus air mata Ana.Ia juga mengusap sudut matanya.


Tak apa hari ini mereka menangis untuk kemudian kembali tertawa bersama lagi.Mereka memang kehilangan tapi juga saling memiliki satu sama lain.


Tak apa hari ini hujan bahkan badai tapi esok pasti akan ada hari cerah dan pelangi.


Ketukan pintu mengembalikan mereka ke dunia nyata."Permisi,tuan.ada teman - teman nyonya menanti di depan."Itu suara bibi Shopie.


"ya Bu.tolong siapkan minuman.kami akan turun sebentar lagi."ujar Kaivan.


Ana menatap ke arah Kaivan.Prianya itu terlihat sangat kelelahan."Aku saja yang menemui mereka.Mas istirahat saja."


Sebuah gelengan yang Ana dapatkan.Mana mungkin Kaivan membiarkan istrinya sendirian menemui teman - temannya."Ayo bilas dulu wajahnya.Mas akan temani kamu menemui mereka."


\=\=\=\=


Holla readers...


see you next episode

__ADS_1


__ADS_2