
Ana terbangun saat elusan demi elusan ia rasakan di wajahnya.Ia membuka mata yang lansung menyipit,menyesuaikan dengan pencahayaan di sekitarnya.
"Selamat siang,sayangku."
"hhmm.."Ana tersenyum saat tau perbuatan siapa yang telah membangunkannya."jam berapa sekarang?"
"setengah dua belas siang.ayo bangun,kamu belum makan apapun dari pagi."
Ana duduk saat Kaivan telah berdiri dan merapikan dasinya di depan cermin.
"mas mau kemana?"
"Mas ada urusan di kantor sebentar.tapi setelah beres mas akan lansung pulang."
Ana merenggangkan tubuhnya.Ia benar - benar kelelahan tapi juga sangat bahagia.
Kaivan mengecup keningnya dan bersiap untuk pergi."oh ya makan siang mu sedang di masak bibi Sarah,segeralah mandi dan makan siang."Lalu pria itu menghilang di balik pintu.
Ana yang masih setengah mengantuk beranjak mandi.Ia tak ingin terlambat makan siang setelah melewatkan sarapannya hari ini.
\=\=\=\=
__ADS_1
Kaivan memasuki ruang kerja di ikuti Didin dengan wajah serius."Apa yang sebenarnya terjadi ?"
"Sepertinya rencana ini sudah dipersiapkan dari lama pak."Didin menyerahkan beberapa berkas dan tablet berisikan video dan foto - foto.
Kaivan menghempaskan tubuhnya pada kursi kerja dengan wajah lelah.Ia tengah tertidur lelap sebelum Didin mengabarkan ada penghianat di antara jajaran direksinya.Seseorang itu berusaha menghasut yang lainnya untuk menggeser posisinya dengan alasan yang sangat tak masuk akal.
"segera persiapkan rapat dan undang mereka semua secepatnya."Kaivan memijit pangkal hidungnya,Setelah Didin keluar untuk melaksanakan perintahnya.
Ia menghubungi seseorang yang sepertinya berada di balik ini semua.
Di sering kedua teleponnya di angkat.seakan ia memang menunggu Kaivan menghubunginya.
"aku hanya ingin membuatmu tahu konsekuensinya telah menikahi wanita tak jelas asal - usulnya itu."
Kaivan tertawa lantang.Bukan tawa kegembiraan melainkan tawa tidak percaya dengan alasan wanita itu.
"dengar ya wanita sialan.Saya akan membalas mu karena telah mengganggu dan merusak citra istri saya."Kaivan menggenggam erat teleponnya menahan amarah.
"Dan apa yang kamu lakukan,jujur saja menguntungkan saya karena bisa melihat siapa yang benar - benar mendukung saya dan perusahaan ini."
Ia lansung mematikan sambungan teleponnya tanpa mendengar ucapan wanita kepala batu itu.
__ADS_1
Kaivan meminum soft drink dari kulkas mini di sudut ruangannya.Ia membutuhkan minuman dingin untuk meredakan emosi yang sebenarnya jarang ia sentuh itu.
Ketukan Pintu dan suara Didin mengalihkan Kaivan yang tengah berdiri menghadap jendela kaca di ruang kerjanya."Semua telah siap,pak."
Kaivan mengangguk dan siap beranjak pergi.Ia akan menyelesaikan semua secepatnya.Agar ia cepat kembali pada istri yang pasti tengah menunggu kepulangannya.
Kaivan memasuki ruang meeting berisi 20 kursi yang sudah di tempati semua orang dengan wajah dingin.Ia duduk di bangku paling tengah dan paling besar di sana.
Sebagai pewaris dan pemilik Hutama Land Kaivan sudah sangat tahu seluk-beluk dunia bisnis.Apa lagi ia banyak belajar dari pamannya di Australia saat ia kuliah di sana.
"saya sudah mendengar semua.Jadi lansung saja.Siapa yang menginginkan saya di pecat karena masalah yang bahkan di dengar dari orang lain."Kaivan menatap tajam seseorang yang terlihat salah tingkah di salah satu kursi.
Kaivan tersenyum miring saat orang itu menghindari tatapannya."Jika tidak ada yang bisa menjawab,maka saya yang akan memecat kalian semua."ucapnya tajam.
Semua orang lansung gelagapan mendengar ucapannya.Bukan suatu perkara sulit bagi Kaivan mengancam mereka semua.Lagi pula ada beberapa di antara mereka yang sangat setia padanya
\=\=\=\=
holla readerss..
see you next episode
__ADS_1