OUR RELASIONSHIPS AND TRAUMA

OUR RELASIONSHIPS AND TRAUMA
Beban Pikiran


__ADS_3

Ana terpaku di dalam mobil saat dalam perjalanan pulang.Ia mengingat setiap kata yang di sampaikan Bibi Mariska tadi.


"Kamu tidak tahu apa - apa Ana."Bibi Mariska melipat tangan ke dada sambil menyandar ke kursi."Keluarga kusuma menduduki pemerintahan.Entah itu DPR,BUMN dan jabatan lain yang srategis.Proyek pembangunan apartment atau perkantoran sering kalau tak di setujui oleh pemerintahan dan Kaivan sering ki bekerja keras untuk mendapatkan persetujuan.Kalau bisa di selesaikan dengan mudah perjodohan ini tak mesti dilakukan."


"tapi perizinan ke pemerintahan itu sulit dan lama turunnya. Hal itu banyak menyebabkan proyek terhambat.Kalau dengan perjodohan ini bisa membuat Hutama Land memudahkan segala urusan itu kenapa tidak di lakukan?"


Ana sudah tidak perduli kan sekitarnya lagi.Sejujurnya ia merasa sedikit insecure saat Bibi Mariska menjabarkan visi dan misi perjodohan Kaivan dan Valarie ini.Ia yang memiliki dunia yang berbeda jauh dari Kaivan memang tidak mengerti akan hal itu.


"Baik lah,saya mengerti."Ana menganggukan kaki dan segera siap beranjak "saya pamit".


Bibi Mariska tidak mencegah Ana,Ia hanya mengangguk mengiyakan dan dan membiarkan tunangan ponakan yang tak pernah ia anggap pergi meninggalkannya dengan makanan yang tidak tersentuh sama sekali.


\=\=\=\=


Kaivan memasuki ruang kerjanya sambil melonggarkan dasinya.Meeting panjang yang ia jalani sepanjang hari benar - benar menguras energinya.Beruntung meeting itu selesai,karena pembahasan yang cukup pelik,ia pikir akan terkurung di ruang meeting sampai jam pulang kantor.


"Ada yang perlu saya bantu lagi pak."Tanya Didin yang mengikuti Kaivan ke ruangannya dengan tablet di tangannya.


"Setelah ini,saya tidak ada Jadwal meeting lagi kan?"

__ADS_1


Didin menggeleng "tidak ada,pak."


Kaivan duduk di kursi dan membuka laptopnya untuk melihat hasil meeting hari ini"bagus,saya mau pulang on time hari ini."


"baik,pak."


Setelah Didin menghilang di balik pintu,Kaivan baru teringat ponsel yang ia silent dari tadi.Pesan dari Ana yang pertama kali muncul di layar ponselnya.Setelah membaca pesan tersebut,tanpa ragu Kaivan menghubungi Bibi Mariska.


Telepon diangkat pada dering ke tiga.seolah - olah ia memang di tunggu untuk menghubungi istri dari pamannya ini.


"perlu berapa kali saya tekan kan kalau saya tidak tertarik dengan perjodohan itu?apa perlu saya memberi anda uang untuk biaya operasi telinga sehingga anda bisa mendengar orang lain dengan baik."


Kaivan tidak peduli dengan Mariska yang membentaknya "berhenti mengusik hidup saya atau hidup anda tidak akan tenang setelah hari ini."


Kaivan menghela nafas dengan gusar setelah mengakhiri panggilannya sepihak.Kaivan lansung menghubungi Ana dengan hati tak menentu.Kaivan memang meminta Ana untuk selalu memberitahukan keberadaan dan bertemu dengan siapa saja wanita itu.Ia tak ingin ada hal buruk lagi yang menimpa tunangannya itu.


Jadi saat Ana memberitahunya kalau ia bertemu Bibi Mariska membuat Kaivan senang sekaligus Khawatir.Senang karena wanita itu mau memenuhi permintaanya dan khawatir karena Bibi Mariska salah satu orang yang harus mereka jauhi.


"Halo"

__ADS_1


Suara merdu Ana menyapa pendengarannya dan membuat Kaivan tanpa sadar menegakkan posisi duduknya dan bertanya cepat "are you okay ?"


Ana memberi jeda sejenak yang membuat Kaivan ketat - ketir."Not Really ." Ana menjawab dengan jujur "rasanya aku lelah sekali."


Kaivan mengepalkan tangannya erat.Entah apa yang di bicarakan Bibi Mariska kepada wanitanya.


"kamu sudah di apartment ?"


"hhmm.."


"oke,tunggu aku pulang."


"iya..aku tunggu."Jawab Ana.


\=\=\=\=


holla readerss...


see you next episode

__ADS_1


__ADS_2