
Kaivan melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Anya,yang sudah ia anggap sebagai mertua.Ana telah menghubungi bahwa mereka akan datang untuk makan malam.
Saat mobil sudah masuk pekarangan rumah,Bu Ida dan Bapak Heri sudah menunggu mereka.
"Ibu kok nunggu di luar?"Ana bertanya yang tampa sadar sedikit berlari menghampiri kedua orang tersebut.
"sayang..jangan lari - lari."Ucap Kaivan khawatir.Ia ngeri membayangkan anaknya terguncang - guncang di dalam perut istrinya.
Bapak Heri dan Bu Ida hanya tertawa melihat raut wajah Kaivan.
"sudah lama ya,anak ibu gak main ke sini."Ucap Ibu Ida setelah menerima salam dari anak dan menantunya.
"makanya mumpung ada waktu,sekarang Ana mampir ke sini."Jawab Ana."Sini mas,aku bawa kuenya ke dalam."
Kaivan menggeleng,menolak.Ia meminta Ana duduk saja di ruang tengah menemani ibu dan ayah."aku aja.kamu ngobrol aja dulu sama ibu."ucapnya sambil melenggang ke arah dapur.
Bapak Heri jadi penasaran melihat tingkah anak dan menantunya malam ini.Jadi ia mengikuti Kaivan ke arah dapur.
"Kenapa,Kai.Kalian terlihat aneh."Ujar Bapak Heri.Kaivan tertawa mendengarnya.
"Kalau orang lagi hamil,gak boleh capek - capek kan pak?"Kaivan balik bertanya.Membuat kerutan di dahi Bapak Heri.
"Ana.."
__ADS_1
"iya..Bapak bakalan punya cucu."Sahut Kaivan mewakili kalimat Bapak Heri yang tak selesai.
Mata tua itu sudah basah karena buncahan haru dan bahagia.
"BAPAK!!!!!"terdengar suara Anya di ruang tengah.Membuat Bapak Heri bergegas menuju ke tempat asal suara.
Di sana sudah ada Anya dan Didin yang baru turun dari kamar mereka.Dan yang membuat mata orang tua itu membeliak.
Istrinya dan Ana menangis sambil saling berpelukan.
"Bapak kita mau punya cucu."Jelas Bu Ida masih menangis sesegukan.
"Ya Tuhan...Bapak pikir ada apa."Ucapnya.Kepanikan yang sempat melandanya lansung luntur.
Meja makan keluarga itu terdengar riuh malam ini.Berbagai macam pesan dan saran yang Ibu Ida dan Bapak Heri berikan untuk anak dan menantunya.Bahkan Anya dan Didin juga kena dampaknya.
Setelah makan malam semua orang berkumpul di ruang tengah.Ibu Ida di bantu Anya membawa teh dan dua penuh lemper hasil buatannya sore tadi.
"nih..pesanan kamu."Ibu Ida menyodorkan satu piring pada Ana yang di sambut dengan suka cita oleh wanita itu.
"Ibu sempat heran loh.kamu minta buatin sesuatu.Biasanya tiap di tanya mau apa,selalu jawab apa aja asal buatan ibu."Ibu Ida duduk di samping suaminya.
"eehh..ternyata ngidam ya,Bu?"Jawab Anya yang tengah membagi gelas teh pada setiap orang.
__ADS_1
Ana hanya meringis saja.Ia memang sangat menginginkan lemper buatan Ibu Ida dari siang tadi sehingga tercetuslah ide makan malam di rumah ini.
"gak tau...tiba - tiba aja tadi siang pengen lemper buatan ibu."Ucapnya sambil menerima lemper dari Kaivan yang sudah di buka dari bungkus daun pisangnya."Maaf ya,Bu.Ana ngerepotin."
"ya gak apa - apa.Buat anak sendiri kok.Kalau ingin sesuatu bilang aja sama ibu.Ibu senang bisa buatin sesuatu untuk kamu."Ibu Ida mengelus lengannya pelan.
"oh iya Bu,tadi Ana sempat nangis di kantor loh."Cerita Anya yang mengundang atensi semua orang.
Kaivan sudah menebak cerita Anya.Pasti berhubungan dengan hormon hamil istrinya.
Didin yang penasaran lansung bertanya."kenapa,yang?"
"Masa Ana nangis cuma gara - gara Mila Lupa nyiram bunga clivianya."Ungkap Anya.
"ya kasian.Tanahnya sampe kering.Pasti dia kehausan."Jelas Ana merujuk pada bunga tersebut.
Semua orang hanya tertawa mendengar pembelaan Ana.Namanya juga ibu hamil,sensitifnya minta ampun.
\=\=\=\=
holla readers...
see you next episode
__ADS_1