
"Putri,apa kabar,ya?"Tanya Ana saat mobil yang di kendarai Kaivan menuju kediaman Hutama.
Kaivan yang tengah fokus mengemudi menoleh memandangi istrinya sekilas.
Malam ini mereka memenuhi undangan sang paman yang ingin makan malam bersama mereka setelah berbulan - bulan yang lalu Kaivan enggan untuk menginjakkan kaki di kediaman Hutama lagi.
"kenapa nanyain ?"
"Penasaran aja."Ana menatap keluar jendela,melihat apapun yang tertangkap Indra penglihatannya."aku bahkan lupa kapan bertemu dengannya."
"Minggu lalu mas bertemu paman di bandara.Kamu ingat pas mas mau ke Singapura."Tanya Kaivan yang di Jawa anggukan oleh Ana.
Minggu lalu memang Kaivan sempat ke Singapura selama dua hari untuk perjalanan bisnis.Jelas Ana mengingat,karena ia akhirnya bisa memakan popiah (lumpia khas Singapura).
Makanan yang berisi daging cincang,buncis dan berbagai sayuran lainnya yang sempat Ana cicipi di negara singa tiba - tiba terlintas di benaknya saat Kaivan mengatakan akan melakukan perjalanan dinas kesana.
"Dia berangkat ke Malaysia untuk menjemput Putri.Dia ingin menghentikan pengobatan dan akan pindah ke Bali."Tutur Kaivan setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
"Kenapa...maksudku dia baik - baik saja."
__ADS_1
Kaivan mengangkat bahunya."Mas tidak tahu."Jujur saja semenjak ia tahu Putri berusaha mencelakai Ana,ia enggan mengetahui apapun tentang wanita itu.
Kaivan beranjak keluar dan beralih ke pintu penumpang untuk membantu Ana keluar.Sebenarnya Ana ingin bertanya satu hal lagi tapi ia urung karena sudah memasuki kediaman Hutama ini.
\=\=\=\=\=
"Berani sekali kamu kesini !!" Seru Mariska saat Ana tak sengaja berpapasan ya di tangga.
Ana yang baru selesai membantu Asisten rumah tangga di dapur untuk menyiapkan makan malam menaiki tangga untuk memanggil Kaivan yang tengah mengobrol dengan pamannya di balkon lantai dua.
Tanpa sengaja berpapasan dengan Bibi Mariska.Awalnya Ana berpikir wanita itu berada di Bali menemani Anaknya karena tak melihat keberadaannya di rumah ini.Nyatanya wanita itu tengah menatap penuh kebencian padanya saat ini.
"Kenapa kamu kesini.Semenjak kamu menginjakkan kakimu ke rumah ini,menjadi awal bencana bagi kami."Ucapnya berapi-api.
"Kaivan tidak bisa mendapatkan istri yang setara dengannya dan Putri menderita penyakit yang bahkan tidak tahu kapan akan merenggut nyawanya."Mariska terus turun melangkah mendekati Ana yang berdiri di pertengahan tangga.
"Dan suami saya bahkan menyalahkan saya dengan semua ini.Semua ini karena kamu."Tunjuk nya pada Ana.
Ana yang merasa tidak memiliki salah atas apa yang terjadi menatap Bibi Kaivan itu dengan berani."Kaivan memiliki hak atas kehidupan dan pendamping hidupnya sendiri,bibi.Dan aku tidak memiliki andil atas apa yang terjadi pada Putri.Salahnya sendiri memiliki hubungan terlarang dengan sembarang pria sementara sudah memiliki tunangan."Ujar Ana.
__ADS_1
"Apa yang kamu tahu tentang kesetaraan.Kamu hanya ingin meraup harta Kaivan seperti lintah darat."Mariska menatap tajam kearahnya.Ia sedikit membuat Ana mundur satu langkah.
"Dan siapa kamu berani merendahkan Anakku.Kamu bahkan tak lebih dari seorang gold digger."Ucapnya sambil mendorong Ana cukup keras.
Ana yang tak siap atas dorongan itu terjatuh hingga ke lantai dasar.Perut bagian bawahnya lansung terasa amat sakit hingga tanpa sadar ia berteriak cukup keras.
Bibi yang berada tak jauh dari tempat Ana yang terjatuh dan sempat mendengar 'obrolan' mereka segera berlari membantu Ana.
Kaivan dan Paman Petra lansung berlari menuju sumber suara.Kaivan lansung berlari panik mendekati Ana yang terus memegangi perutnya.
"Mas...anak kita."Ucap Ana sebelum ia tak sadarkan diri.
"Darah...darah.."Ucap Asisten rumah tangga pelan sambil menunjuk genangan darah dari balik rok yang Ana kenakan.
\=\=\=\=
Holla readers..
See you next episode
__ADS_1