
Kaivan bersandar pada pintu mobil dengan kedua tangan di masukan ke saku celana.Seharusnya Ana sebentar lagi keluar dari lobi gedung kantor kalau perhitungannya tak salah.
"Mas ?"
Kaivan tersenyum dan segera menegakkan tubuhnya.Begitu Ana berada dalam jangkauan pria itu segera memeluknya singkat.
"Hai,sayang ?"
"udah lama,mas?"Kaivan menggeleng sebagai jawaban."malam ini om mengundang kita untuk makan malam.kamu mau datang nggak ?"
"hmm.. boleh "Ana menatap penampilannya sejenak.berpikir apakah pakaiannya pantas untuk datang atau ia harus ganti baju.
Ana yang hari ini mengenakan kemeja biru yang di masukan kedalam rok jeans panjang menutupi hingga betisnya.dan menggunakan sneakers putih itu terlihat manis di mata Kaivan.
"Pantas kok.ayo nanti keburu macet."Kaivan menghela Ana untuk memasuki mobil.
"emang dadakan ya?" Ana bertanya setelah mereka duduk di kursi penumpang.Sedangkan sopir melajukan mobil ke arah kediaman Hutama berada.
"Gak juga,aku yang lupa."Kaivan terkekeh dengan kecerobohannya.Seandai pamannya tidak menghubungi untuk mengingatkan makan malam itu Kaivan mungkin akan benar - benar lupa.
Mereka sampai di kediaman Hutama yang masih tampak sepi."Bapak masih di jalan,mas."Jawab asisten rumah tangga saat Kaivan bertanya tentang keberadaan Pamannya.
Dering telepon Kaivan mengintrupsi dan ia memberi kode ingin mengangkatnya di taman samping rumah.Ana mengangguk dan berjalan ke arah dapur.
__ADS_1
Di dapur Ana menemukan dua asisten yang tengah menyiapkan makan malam dan ia segera membantu menata meja makan.
"mbak Ana,duduk saja.Biar kami yang menyiapkan."ujar salah satu asisten rumah tangga,ramah padanya.
"gak apa - apa mbak,biar aku ada kegiatannya."
Para asisten itu hanya mengangguk pasrah dan menerima bantuan Ana.
"Mbak Ana .."
"iya ?"
"Bahagia terus ya sama Mas Kai."
"Kami senang liat Mas Kai sama mbak Ana sekarang."
"makasih,mbak."jawab Ana dengan tulus.
sepuluh menit kemudian meja sudah tertata dan Ana pamit untuk mencari keberadaan Kaivan.Ia berpapasan dengan Mariska yang terlihat menuruni tangga.
"Selamat malam,bibi."
"bibi ?"Mariska terdiam sejenak."sampai kapan pun saya tak akan pernah menjadi bibimu."
__ADS_1
Salak Mariska dengan marah."jangan berani - berani kami memanggil saya,bibi."
Ana menggigit bibir bagian dalamnya,menahan diri untuk membantah.Ia dan Kaivan sudah bertunangan walau tak di saksikan oleh keluarga Hutama.Bukankah sebentar lagi Ia dan Kaivan akan menikah sehingga bibi Kaivan akan menjadi bibinya juga.Ana hanya....mencoba membiasakan diri.
"sekali lagi saya dengar kamu memanggil saya bibi.saya akan......"
"akan apa?"Kaivan mengintrupsi 'obrolan' mereka dan lansung merangkul pinggang Ana,posesif.
"itukan cuma panggilan,kenapa harus di permasalahkan?masih untuk dia masih mau memanggil anda,bibi."
"kalau begitu maaf,saya telah lancang."Ujar Ana mencoba menghentikan perang yang sebentar lagi akan meledak.
Mariska mendengus dan berlalu ke ruang makan dengan kemarahan yang masih membara di dadanya.
"are you okay ?"Kaivan sedikit menjauhkan dirinya menatap Ana dari atas hingga bawah,memastikan.Saat mereka hanya tinggal berdua saja.
"i'm okay...padahal aku gak di apa - apain." Ana tertawa melihat Kaivan yang berubah perhatian.
\=\=\=\=
holla readerss...
see you next episode
__ADS_1