
"Bub,kayak nya aku salah makan deh."Anya mengadu pada sang suami.Ini sudah 3 bulan sejak pernikahan mereka.
"memangnya tadi kamu makan apa,babe?" Didin memperhatikan wajah sang istri yang terlihat pucat dan lemas.
"Cuma makan bebe Peking,sama bantuin Ana menghabiskan jatah cemilannya."Seru Anya menyandarkan kepalanya pada sang suami.Mereka sudah di atas ranjang,bersiap untuk tidur setelah seharian sibuk bekerja.
Didin meraih tubuh sang istri untuk ia peluk dan mengusap punggungnya.Anya yang tadinya merasa lemas,lansung rileks dan tertidur.Didin yang masih ingin bertanya jadi urung melihat istrinya yang kelelahan.
"good night,babe."Ucapnya sambil mengecup kening sang istri.
Suara muntahan seseorang membangunkan Dino yang tertidur nyenyak.Ia melihat jam di atas nakas menunjukan pukul 4 pagi.
Ia segera menuju kamar mandi dan mendapati Anya terduduk lemas di wastafel,membuat pria itu cemas seketika.
"babe,kamu kenapa?"
Anya menggeleng lemah,ia juga tidak mengerti.Anya termasuk orang yang jarang sakit,bahkan baru pertama kali ia mengalami hal yang seperti ini.
Dino membantu Anya berdiri setelah membersihkan mulut wanita itu dari muntahan yang bahkan tidak ada.Perutnya bergejolak tanpa mengeluarkan apapun.
"aku mau gosok gigi."Ujar Anya menghentikan langkah mereka keluar dari kamar mandi.
"aku temani,yuk."Dino kembali memutar arah tapi sebuah gelengan ia dapati dari Anya.
__ADS_1
"aku mau sendiri,bub."Melihat wajah suaminya yang terlihat ragu,membuat Anya tersenyum.
"aku gak apa - apa.mungkin cuma masuk angin."Anya meyakinkan Dino,agar tak terlalu khawatir padanya.
Setelah berhasil meyakinkan sang suami,Anya berdiri di depan wastafel,saat hendak menggosok gigi,Anya menyadari pasta gigi yang biasa ia gunakan telah habis.
Kemudian ia meraih pasta gigi baru yang terletak di sebelah pembalutnya.Ia menyadari sesuatu.Pembalut itu sudah tidak ia gunakan dari sebulan yang lalu.
"ya Tuhan..jangan - jangan..."tanpa ba-bi-bu lagi Anya meraih tespack yang selalu ia stok semenjak menikah itu untuk berjaga - jaga.
Tak butuh waktu lama hingga Anya menangis haru mendapati hasilnya yang garis dua.Ia hamil.
\=\=\=\=
Anya tidak keberatan sama sekali karena Bunda Renata menyayanginya seperti anak sendiri.Mereka memang sepakat setiap akhir pekan kesana karena di hari biasa mereka tinggal di rumah orang tua Anya.
jangan di tanya kenapa,sudah pasti permintaan Ibu Ida dan tentu saja karena Anya anak semata wayang mereka.Didin tidak keberatan sama sekali karena orang tua Anya tidak mengganggu privasi mereka sama sekali.
"Apa kita kasih tau ibu,bub?"tanya Anya yang masih menatap foto USG anaknya.Setelah mengetahui istrinya hamil Didin lansung mengajak Anya melakukan pemeriksaan pada dokter kandungan kenalannya.
"Hhmm.. boleh.nih pakek handphone aku aja."Didin menyerahkan teleponnya kepada Anya.
Tak butuh waktu lama hingga ibu Ida mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Iya nak Dino,kenapa?Anya muntah lagi?"Anya terkekeh mendengar rentetan pertanyaan yang di lontarkan sang ibu.
"Satu - satu atuh Bu,Anya bingung jawab yang mana."
"loh,kamu ternyata,kenapa?"Jawab Ibu Ida saat mendengar suara anaknya lah yang terdengar.
"Anya minta do'anya..."
"ibu selalu do'ain kok.kamu kenapa?jangan bikin ibu takut ya."
"Dengarkan dulu Bu,belum selesai ini."Anya jadi sewot sendiri."Anya minta do'a nya supaya cucu ibu sehat - sehat terus."
tidak ada suara yang terdengar,
"Bu..halo ibu...ibu gak apa - apa."
"Ibu..ibu gak apa - apa.Ibu tutup dulu."Tanpa menunggu jawaban Anya Ibu Ida menangis karena terlalu bahagia.
Tapi yang tak di ketahui oleh Ibu Ida,sambungan telepon masih terhubung.Dan Anya mendengar dengan jelas kalau ibunya menangis.
\=\=\=\=
holla readers...
__ADS_1
see you next episode.