
Hari ini Ana sudah di perbolehkan pulang.Setelah enam hari ia di rawat di rumah sakit yang sebenarnya ia sudah merasa baik - baik saja sejak dua hari yang lalu.Tetapi Kaivan bersikeras ia harus di rawat hingga benar - benar tak memiliki keluhan apa pun.
Ana hanya duduk diam di kursi roda yang entah dari mana Kaivan dapatkan.Ia cemberut dan malu secara bersamaan karena perawat terus menatapnya.
"aku bisa jalan loh,mas"Ana berkata untuk kesekian kalinya sejak ia di paksa duduk di atas sana.
Kaivan menggeleng kepala sebagai bentuk tidak persetujuan."Kalau kamu masih menolak naik kursi roda,mas akan gendong kamu sampai ke mobil."ucap Kaivan santai.
Ana menghela nafas pelan dan kembali menunduk.Setelah beberapa saat Kaivan selesai denga urusannya.Ia mendorong kursi roda menuju lobi rumah sakit dimana mobilnya berada.
Seorang supir sudah sigap membantu memasukan barang - barang mereka ke begasi mobil.Kaivan menggendong Ana dan mendudukkannya di kursi penumpang.
"ini pak Yadi"Kaivan memperkenalkan supir barunya setelah mereka beranjak meninggalkan rumah sakit."Dia supir kamu yang baru."Jelas Kaivan lagi.
"Hallo pak,saya Ana."ucap Ana ramah yang di jawab anggukan sopan dari sang sopir.
"saya Yadi,Bu."ucap Pria yang terlihat di pertengahan 40 tahun itu.
"Jadi pak Dimas gak kerja sama kamu lagi mas."Ana mengingat Sopir yang kemaren sudah di izinkan pulang lebih dahulu.
"Butuh enam 6 bulan untuk pak Dimas pulih.Jadi beliau mas istirahatkan dulu."
"tapi gak di pecatkan?" tanya Ana penasaran.
__ADS_1
Kaivan menggeleng lalu menarik kepala Ana pelan supaya bersandar di bahunya dengan nyaman."gak..nanti setelah pulih.bakal kembali bekerja kok."
Ana terlihat lega.Ia sudah nyaman dengan pak Dimas karena pria paruh baya itu sangat baik padanya.
Tanpa terasa Ana tertidur di bahu Kaivan yang lebar.Mungkin karena efek obat yang ia minum sebelum pulang tadi.Dan melihat betapa damainya Ana tertidur membuat Kaivan semakin segar
\=\=\=\=
Ana merenggabgjan tubuhnya saat merasa sudah cukup wantu tidur yang ia nikmati.Matanya mengerjap perlahan,menyesuaikan dengan cahaya yang masuk beberapa saat.
"selamat siang,sayang."
"Loh..kok??" Ana lansung terkejut saat ia terbangun sudah di atas ranjang dan Kaivan duduk di sampingnya sambil memangku laptop.
Kaivan terkekeh pelan dan mengecup singkat bibir tunangannya."Tadi,waktu kamu asik tidur di gendonganku."
"Astaga.."Ana menatap Kaivan dengan tidak percaya"kok kamu gak bangunin aku aja sih, mas."
"you sleep soundly and beautifully like an angel ."Kaivan membawa Ana kedalam pelukannya setelah menaruh laptop di atas nakas"mana tega aku banguninnya."
Ana mencabikan bibirnya "makin lancar ya mas,gombalan kamu."
"Mas serius loh,sayang"Kaivan tertawa dan mengeratkan pelukannya saat dirasa Ana meronta ingin beranjak.
__ADS_1
"aku udah berbuat apa ya di masa lalu,sehingga di kasihnya kamu."
"mas...iiihhh..."
Kaivan masih tak berhenti tertawa melihat Ana yang salah tingkah karena ulahnya.Tanpa di duga Ana,Kaivan menciumnya dalam - dalam.
Satu ******* pola di bibirnya yang sempat menikmati ******* yang di berikan Kaivan.
"Mas.."
Panggilan itu menyadarkan Kaivan dari kegiatannya.Ia sedikit menjauhkan wajahnya dan melihat seluruh wajah Ana sudah merah merona.
"Aku baru bangun tidur,kalau kamu lupa."
"memangnya kenapa?"Kaivan seakan tidak memperdulikan bagaimana keadaan Ana.Baginya Ana tetap yang tercantik walaupun baru bangun tidur.aahh atau hanya ia sudah di tahap bucin' yang sudah mendarah daging.
"ayo kita makan siang."
\=\=\=\=
holla readersss
see you next episode
__ADS_1