OUR RELASIONSHIPS AND TRAUMA

OUR RELASIONSHIPS AND TRAUMA
Semoga Badai Ini cepat berlalu


__ADS_3

Proses kuretase nya berjalan lancar,dan dokter juga mengizinkan ia kembali ke aktivitas semula.Namun Kaivan melarang Ana untuk kembali ke kantor.


Setelah debat cukup lama,akhirnya Ana menyerah dan memilih menuruti dan menerima seluruh perhatian yang suaminya itu berikan.


Semua di sebabkan kekhawatiran Kaivan dengan kondisi Ana.Padahal Ana sendiri sudah berusaha meyakinkan kalau ia sudah baik - baik saja.


Padahal Ana membutuhkan pekerjaan untuk pengalihan dari keadaannya saat ini.Tapi dalam diam Kaivan mengangkut hampir dua puluh novel dari ruang kerjanya untuk di letakan di kamar mereka.


Katanya mumpung Ana dalam masa cuti,jadi Ana memiliki kesempatan membaca novel yang belum sempat ia selesaikan.


"Mas gak ke kantor?"


"gak,"Kaivan menggeleng sambil menyandar pada kepala ranjang.mengikuti posisi Ana yang bersandar."aku juga ambil cuti."


Ana menatap suaminya itu."mas,aku gak apa - apa.kamu gak mesti jagain aku dua puluh empat jam.Kasian Didin juga mas."Ana mengerti kalau Kaivan memintanya untuk istirahat.Tapi suaminya ini pasti memiliki pekerjaan yang sangat banyak.


"gak apa - apa sayang,percuma dong mas bayar gaji karyawan mahal - mahal kalau semuanya harus mas yang tangani.Lagi pula saat ini mas butuh kamu."Ucap Kaivan berusaha bercanda.


Nyatanya candaan Kaivan membuat Ana kembali terisak,sedih.Kaivan dengan hati - hati membawa Ana ke dalam dekapannya.


"gak apa - apa kalau kamu masih mau nangis,nanti,setelah ini kita belajar ikhlasin kakak ya."


Ana mengangguk pelan.Ia memang sudah berusaha untuk tegar di depan semua orang tapi jika bersama Kaivan dan mendengar bahwa pria itu juga membutuhkannya.

__ADS_1


Membuat Ana tersadar jika Kaivan juga kehilangan,sedih,bahkan luka.


"Mas...dia sudah gak ada di sini."Ucap Ana susah payah sambil memegangi perutnya.


Ucapan Ana terasa begitu menyakitkan menghujam dada Kaivan.Dalam dan Nyata.


"Ikhlas ya sayang...mungkin kakak lebih bahagia di sana.Kita hanya bisa ikhlas dan berdoa untuk dia."


Kaivan tidak bisa menahan satu tetes pun air mata yang keluar dari pelupuk matanya.Ia bahkan merasakan kemeja yang hari ini ia gunakan sudah basah oleh air mata sang istri.


Ia hanya bisa berharap badai ini segera berlalu.Jujur saja Kaivan tidak tega melihat kesedihan selalu menggantung di wajah istrinya.


Setelah hujan akan ada pelangi kan?


\=\=\=\=\=


"Langit itu berwarna biru ya ?"


"iya."jawab Ana di ikuti anggukan.


kemudian Ana merasa ia berada di Padang rumput yang luas,di mana langit biru membentang.Ia tengah duduk menikmati semilir angin.


"terus yang putih seperti kapas itu apa?"

__ADS_1


"itu di sebut awan."Ana menjawab lalu menoleh kesamping,mendapati seorang anak perempuan dengan mata bulat menatapnya penasaran.


Ana tersenyum melihat bagaiman rambut panjangnya di tiap angin.cantik dan lucu sekali.


"Kamu sendirian di sini?"


Anak perempuan itu mengangguk "iya."


"orang tua kemana?"


Hanya sebuah senyuman yang Ana dapatkan sebagai balasannya.Ia sebenarnya tidak tahu di mana ia berada.tempat ini tidak pernah ia kunjungi sebelumnya.Lalu bagaimana caranya bisa sampai di sini.


Tiba - tiba Anak itu berlari ke arah rumpun bunga mawar yang terletak tak jauh dari mereka.Ana itu memetik dua tangkai bunga mawar putih.


"Nak,jangan memetiknya sembarangan.bunga itu berduri nanti kamu terluka."


Tapi Anak itu malah menghampirinya dan menyerahkan hasil petikannya pada Ana.Hidung yang bengir,kulit putih nan halus,serta mata bulat dengan tatapan tajam itu mengingatkan Ana pada seseorang.


"Ma,aku suka disini.Di sini damai sekali.jadi mama tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi."


\=\=\=\=


Holla readers...

__ADS_1


see you next episode


__ADS_2