
Hari - hari selanjutnya keadaan rumah tak berbeda jauh dengan saat Ana hamil dulu.Ibu dan Bapak Heri sering datang berkunjung,untuk menghibur nya.
Sekali - kali di akhir pekan teman - teman mereka juga datang berkumpul ke kediaman Ana dan Kaivan.
Ana tentu saja tak ingin membuat semua orang khawatir.Jadi ia mencoba tertawa sebanyak mungkin dan mencoba untuk baik - baik saja.Karena ia juga ingin kesedihan ini cepat berlalu.
"Mas makan di luar,yuk.Mau gak"
Hari ini adalah hari Jum'at dan hari sudah sore saat tiba - tiba Ana mengajak Kaivan makan malam di luar.Ia yang tengah meneliti dokumen yang akan di bawa meeting pada Senin Minggu depan sambil menemani sang istri menonton televisi.
Sebagai seseorang yang terbiasa bekerja dari Senin hingga Jum'at membuat Ana jenuh karena ia yang bisanya lima hari dalam seminggu keluar rumah.
"Mau."Jawab Kaivan tanpa berpikir lama."Mau makan di mana ?"
Ana menggeleng pelan."Kita keliling mall aja dulu.Nanti kita lihat apa yang enak."
Kaivan mengacak rambut Ana,gemas.Istrinya yang biasanya selalu banyak makan tapi akhir - akhir ini kurang memiliki selera.
Jadi jika Ana mengajaknya berkeliling Jakarta sekalian untuk mencari makanan yang menurut sang istri enak.Akan Kaivan laksanakan.
__ADS_1
"Kamu sibuk gak,mas?"Ana mendekat hingga lengan mereka bersentuhan.Ia mengintip tablet dalam genggaman Kaivan.
"Gak kok,sayang."Kaivan memperlihatkan Tabletnya hingga Ana bisa dengan jelas melihatnya."Ini dokumen untuk meeting Senin besok.Mas masih punya banyak waktu untuk mengeceknya."
"Beneran gak apa - apa nih,kita makan di luar?"
Kaivan menjawil dagu sang istri dengan gemas."Kenapa mesti basa - basi sih,sayang.Kamu bisa minta apa pun selagi aku bisa dan punya waktu untuk mewujudkannya."
Ana tertawa mendengar gombalan Kaivan itu.Yang sebenarnya Kaivan tidak sedang menggombal.
"Bisa aja mas.ya udah ayo siap - siap.Kamu juga belum mandi dari pulang kerja tadi.Mandi sana Mas."
Kaivan tersenyum lebar saat mendapati Ana sudah mau berbicara panjang begini.Setidaknya ini lebih baik dari pada beberapa hari yang lalu,Ana banyak diam dan melamun.
"Nih.walaupun mas belum mandi tapi masih tetap wangi kan?"
Ana tertawa saat mendapati tingkah jahil sang suami.Mereka berguling -guling di sofa yang bisa di jadikan tempat tidur itu seperti anak kecil yang sedang bergulat.
Ana pura - pura menutup hidungnya untuk membalas kejahilan Kaivan.
__ADS_1
"iihh...mas wangi ya."Ucap Kaivan sambil menggelitik Ana agar sang istri tidak menutup hidungnya lagi.
setelah lelah tertawa dan berguling - guling.Ana menjadikan lengan Kaivan sebagai alas kepalanya dan Kaivan tidak keberatan sama sekali.
"Cantik.."Puji Kaivan saat menatap sang istri yang masih mengatur nafasnya.
"Haa..."Ana yang tadinya sibuk menatap langit - langit ruangan menoleh dengan heran.
"Istri aku cantik."
Kaivan adalah orang yang termasuk jarang mengumbar pujian.Tapi sekalinya memuji,Ana tidak bisa untuk tidak merona.
"Apa sih..."Ana memukul lengan sang suami,ia salah tingkah.
"Kamu tuh ,udah aku nikahi juga masih aja salah tingkah begini kalau di puji."Kaivan mencubit hidung Ana,gemas."Udah aah..mas mau mandi biar ganteng."
Setengah jam kemudian mereka telah selesai bersiap - siap dan akan pergi berkencan.
\=\=\=\=
__ADS_1
Holla readers...
see you next episode