
"Lo tahu gak kalau sekarang lo terlihat menyeramkan."
Ana yang tengah asik memilih dasi untuk sang suami menoleh pada sahabatnya yang tengah duduk di sofa yang tersedia di dalam toko tempat mereka sedang belanja."emang nya di belakang ku tumbuh sayap?"
"itu lebih mending liat lo senyum -senyum sendiri begitu."
Ana menarik nafas lalu menghembuskannya secara perlahan.Ia sudah berusaha sebaik mungkin menahan sudut bibirnya untuk tidak terangkat,tapi sulit sekali di lakukan.
"gue cuma lagi bahagia."Ucap Ana sambil mengambil dua dasi yang menurutnya akan cocok di pakai Kaivan.
Setelahnya,ia berjalan ke sudut di mana terdapat kaca besar.Ia meletakkan dasi tersebut di lehernya.Menimbang warna yang cocok untuk suaminya.
"Apa gue ambil keduanya aja?"Ia bertanya pada Anya tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca tersebut.
Anya melirik kedua dasi yang anak turun naikan secara bergantian.Dasi berwarna coklat muda dan abu itu masih menjadi pertimbangan sahabatnya.
"bagus dua - duanya sih."jawab Anya memberikan pendapat.
Ana kemudian menyerahkan kedua dasi itu pada karyawan yang setia mendampinginya.Mereka tenga berbelanja di sebuah mall sore ini.
Hari ini tepat seminggu setelah kepulangan mereka dari honeymoon dadakan itu.
__ADS_1
"Kamu gak niat membeli sesuatu untuk Dino?"
Anya menggeleng pelan."gak.minggu kemaren aku sudah beliin dia kemeja dan sepatu baru."Anya terus mengikuti pergerakan yang sekarang menuju deretan kemeja dengan berbagai warna.
"serius,kamu terlihat berbeda."Anya kembali mempertanyakan perubahan sahabatnya."Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan."
Ana menghela nafas lalu tersenyum penuh arti pada ibu hamil yang akhir - akhir ini kekepoannya meningkat tajam.
Setelah memilih dua kemeja berwarna coklat dan putih Ana menyebutkan ukuran tubuh sang suami,agar karyawan mengambilkan dan membungkusnya.Ia kembali duduk di dekat Anya yang tengah menikmati cendol yang sempat viral beberapa saat yang lalu.
Ana membisikan sesuatu yang membuat mata Anya terbelalak dan membekap mulutnya,untuk tidak berteriak heboh.
\=\=\=\=
"kamu keberatan,Din?"
Pertanyaan yang di lontarkan Kaivan dengan datar itu membuat Dino sedikit terkejut.Tapi sebagai seseorang yang terbiasa menghadapi berbagai situasi,tentu Dino bisa lansung mengontrol ekspresi wajahnya.
"tidak,pak."
Kaivan memicingkan matanya,lalu kembali memompa balon berbentuk hati itu untuk kesekian kalinya.Mereka tengah di sebuah kamar hotel yang di sewa Kaivan untuk membuat kejutan untuk sang istri.
__ADS_1
Besok ulang tahun Ana dan Kaivan merencanakan memberikan kejutan untuk sang istri ketika wanita yang ia cintai itu membuka mata nanti.
"kamu capek memompa balon itu."Seru Kaivan
"tidak,pak."
Sama seperti Dino yang bisa mengendalikan ekspresinya,Kaivan juga melihat dengan sekilas kalau sekretarisnya itu lelah dan jenuh melakukan hal yang sama sejak tadi siang.
Lalu pandangan Kaivan teralih pada Sebuket besar bunga mawar dan sekantong kelopak bunga yang sempat di beli Dino tadi.
"Apa bunganya akan tetap segar hingga besok?Kelopak bunga mawar merah km yang kamu pesan?"
Dino bertahan untuk tidak memutar kedua matanya.Kaivan akan sangat cerewet jika dalam mode bucin ini.Ia akan berkali - kali bertanya padahal sudah Ia jelaskan berulang kali.
"Kelopak mawar merah dan sudah saya pastikan kalau bunga itu akan tetap segar hingga beberapa hari ke depan."Jelasnya dengan sabar.
Kaivan menatap tumpukan balon - balon yang sudah mereka pompa dan tinggal sedikit lagi akan selesai.Tinggal bagaiman ia menyembunyikan ink semua untuk kejutan esok harinya.
Dino sendiri merasa otot lengannya bertambah setelah memompa cukup banyak balon.
\=\=\=\=
__ADS_1
holla readerss...
see you next episode.