
"An..di panggil Bu Hana tu."Mila menepuk bahu Ana yang tengah melamun.
"i...iya."Ana menghela nafas lemah.
Sudah seminggu ini Kaivan tidak menghubunginya Setelah kejadian pagi itu.Setelah mereka sarapan,secara mendadak Kaivan pergi karena ad urusan 'katanya'.
Bukan,bukan karena Ana takut kehilangannya.Tapi Ana bingung,apakah ia melakukan kesalahan pagi itu.Kenapa Kaivan menatapnya seperti itu?
Begitu banyak pertanyaan di kepala Ana hingga ia tidak sadar melakukan beberapa kesalahan saat bekerja.
"woy bestaiii...Lo kenapa?beberapa hari ini gue perhatiin Lo banyak melamun." Anya menyenggol bahu Ana saat mereka keluar dari gedung kantor.
"aah...Anya bikin kaget aja.gak,gue gak apa - apa." Ana berkilah
"makanya jangan bengong aja nanti di tempeli Lo,tau rasa."Ana hanya tersenyum mendengar ocehan sahabatnya.
"kenapa sihh...cerita dong sama gue." Anya menggandeng lengan Ana.
"iihh di bilangin gak apa - apa." Ana berusaha terlihat baik - baik saja.Bukan dia ingin berbohong tapi Ana sedang tidak ingin bercerita.
"nongkrong yuk.capek banget seminggu ini meeting marathon.gilaaa !!"
Ana terkekeh mendengarnya "yuk,dimana ?"
"Lo maunya kemana ?"
"kemana aja lah terserah."
"ck,gak punya pendirian Lo."
__ADS_1
"sialan..."Gerutu Ana "ke senopati aja yuk"
"mau senoparty juga nih kita ?"
"mumpung besok weekend." Ana menaik turunkan alisnya
mereka sudah lama tidak hangout berdua.Baik Ana maupun Anya memang termasuk jarang main ke luar tapi sesekali kalau sudah merasa penat mereka akan melakukanya.
"sing avenue yuk,tiba - tiba gue mau beer."Anya tersenyum riang membayangkan tower beer yang di sajikan.Bukan ia ingin menghabiskan keseluruhan beer tersebut karena ia hanya ingin saja.
Ana hanya mengangguk saja karena ia memang butuh keramaian saat kepalanya terasa penuh.
\=\=\=\=
Sing avenue sebuah bar yang berada di kawasan senopati biasa di kunjungi anak muda yang ingin mencicipi pesta dan pegawai hingga eksekutif muda yang penat dengan pekerjaannya.
"wah banyak curut' - curut' ganteng nih."Anya menatap sekeliling penuh binar."lumayanlah,menyegarkan mata,mana tau ketemu jodoh."
Ana harusnya berhenti ketika gelas kelimanya habis.Karena kalau di lanjutkan ia akan tumbang.
"astaga an,kamu emang niat tipsy malam ini."Anya baru menyadari berapa banyak gelas yang sudah di habisi Ana.
"hhmm..hhmm "Jawab Ana sambil merosot kan badannya ke punggung sofa "astaga,ngantuk banget gue."
"kamu doang kalau mabuk gak ngantuk gak nangis."Anya terkekeh pelan
Anya yang tengah mengamati seseorang di meja seberang yang menurutnya ganteng dan mungkin bisa ia gebet,"oh s**t."Anya hampir berteriak.
Penampilan Ana yang menangis tersedu - sedu dengan menundukkan wajahnya membuat rambut panjangnya menutupi wajah.
__ADS_1
"gue pikir setan disini numpang duduk di sofa ini."Anya mengelus dadanya
Anya hanya membiarkan Ana menangis sepuas yang ia mau.Dia tau sahabatnya itu memiliki beban yang berat di pundaknya.
Cukup lama Ana menangis pada akhirnya iya tertidur di sofa tersebut.
Anya memeriksa tas Ana dan menemukan gadget Ana dan membukanya menggunakan sidik jari Ana yang sedang terlelap.
"Sebelum aku juga tumbang kita membutuhkan penyelamat."Anya bergumam sambil menelpon seseorang.
"hai Kaivan,ini Anya."
"........"
"Bisa jemput Ana di sing avenue senopati."
"........"
"iya aku juga mabuk dan tidak bisa mengantarnya pulang."
"......."
"oke,aku tunggu.Terima kasih."
\=\=\=\=
holla readersss
follow IG othor @wewe_n19
__ADS_1
see you next episode