
"duh...ganteng - ganteng banget cucu nenek."ibu Ida lansung menatap kearah box bayi dengan mata berbinar.
"Bu,jangan lansung gitu.Pamali.cuci tangan dulu,kita kan dari luar takut bawa kuman."Pak Heri menegur sang istri yang siap mengganggu si kembar yang tertidur pulas.
Walau dengan wajah cemberut ibu Ida tetap menurut perkataan suaminya."kan bisa pakek hand sanitizer pak.tuh ada di dekat pintu."Anya masuk dengan mengendong putrinya.
Ibu Ida yang seperti mendapat hidayah lansung melangkah ke arah yang di tunjuk Anya.Pak Heri hanya bisa menggeleng melihat tingkah sang istri.
"masih lemas,An?"Anya bertanya setelah memberikan sang putri kepada Pak Heri.Lelaki itu tau kalau Anya ingin berbicara dengan Ana.
"masih,tapi udah gak terlalu kok.Udah bisa jalan - jalan kayaknya sih."Jawab Ana dengan tersenyum.Ia tak ingin membuat siapapun khawatir.
"Makan yang banyak,nak.Ibu bawain kamu rebusan telor."Ibu Ida menyerahkan Tupperware yang ia jinjing ke atas nakas di samping ranjang Ana.
"Nanti Ana makan ya,Bu.Baru aja siap makan siang nih."Ujar Ana.Kaivan menekan remote untuk menaikan sedikit ranjang Ana agar wanita itu lebih leluasa.
"Pak,lihat deh.Tenang banget ya mereka kalau lagi tidur gini.Adem liatnya."Ibu Ida berdiri di samping sang suami yang sedang menatap kedua cucu laki - lakinya dengan menggendong cucu perempuannya.
"Namanya siapa,pak Kai?"Kaivan menoleh saat Anya bertanya padanya.Lelaki itu sudah pernah meminta Anya untuk tidak memanggilnya dengan panggilan itu, ia merasa sebaya dengan Pak Heri.
Tapi Anya bersikeras memanggil suami dari Ana itu dengan sebutan Pak Kai.Selain juga sudah nyaman ia merasa harus karena Kaivan adalah atasan dari sang suami.
"Yang bedong biru,namanya Tosca Bumantala Hutama.Kalau yang bedong navy Mocha Nabastala Hutama."Jawab Kaivan yang lansung mendapat perhatian semua orang.
"Wah...namanya bagus."Ucap Pak Heri."hallo dek Tosca dan dek Mocha,kenalin namaku kakak Namira."Pak Heri mengangkat satu tangan cucu perempuannya,seakan bocah itu memperkenalkan dirinya.
"Nami,gemes banget ya."Ana tersenyum melihat ponakannya itu yang hari ini mengenakan pakaian serba pink hingga ke pita rambut dan kaus kakinya.
"Iya...lagi berusaha tengkurap dia,walau sering gagal."Anya tertawa."oh ya dapat salam dari duo rusuh ( Mila dan Iyan ) mereka akan mampir nanti pas pulang kerja."Tambahnya lagi.
Ana memang sudah berhenti semenjak kandungannya membesar.Bukan Kaivan yang minta,tapi Ana merasa ia sudah cukup untuk bekerja dan ingin fokus pada kedua bayinya kelak.Dan hal itu mendapat persetujuan Kaivan sepenuhnya.
Walau awalnya berat dan merasa bosan Ana mulai menikmati perannya.Walau sudah tidak bekerja lagi persahabatan mereka tetap terjalin dengan baik,bahkan mereka sering makan - makan cantik kalau sedang weekend.
"Gimana nak Kai.Aman pas liat darah?" Pak Heri dan Kaivan kini sudah duduk di sofa karena para ibu - ibu sedang bergantian menggendong si kembar.
"Aman pak."Kaivan mengernyitkan keningnya.Walau tak mengerti maksud pertanyaan Pak Heri.
__ADS_1
"Bapak dulu lemes banget,pas Nemani ibumu melahirkan."Pak Heri mendekat lalu membisikan sesuatu."bahkan bapak sempat pingsan."Ucapnya pelan.Takut ada yang mendengar rahasianya.
Kaivan terkekeh pelan.Ia tak menyangka akan mendengar hal itu dari pria tegas dan berwibawa seperti pak Heri.
"aku malah gak kepikiran melihat ke arah sana pak.mungkin karena terlalu fokus menyemangati Ana."ujar Kaivan.Saat mendengar anak - anaknya menangis barulah ia melihat kedua malaikat kecilnya telah lahir.
"siapa yang duluan,Kai?"
"Tosca dulu,pak.Baru Mocha setelahnya."Jawab Kaivan sambil melihat kedua bayinya yang tengah di gendong Ana dan Bu Ida.
Tosca dan Mocha akan membawa warna baru di kehidupan mereka di masa depan.
\=\=\=\=\=
"katering sama bingkisan sudah aman kan ya.kue - kue sudah tertata cantik.tinggal tunggu tamu aja berarti."Ibu Ida berdiri didekat buffet yang sudah di tata sedemikian rupa.
"benar Bu."Jawab Bibi Sophie yang hari ini di liburkan.Ia akan menjadi pihak keluarga yang menerima kedatang tamu untuk acara Anak Kaivan dan Ana."sekarang ayo.kita lihat si kembar dulu."Ajaknya
Ibu Ida dengan semangat melangkah ke kamar tamu kalau sudah berhubungan dengan si kembar.Wanita paruh baya itu juga sangat akrab dengan bibi Sophie dan bibi Sarah.
Mengingat keluarga Hutama masih dalam masa berkabung.Minggu lalu tepatnya setelah tiga Minggu kelahiran si kembar,Putri Hutama di temukan tak bernyawa di kamar villa yang ia tempati sendiri.
Paman Kaivan memutuskan menguburkan jenazahnya di Jakarta.Kaivan dan Ana sempat hadir dan melihat sendiri bagaimana sedihnya paman Petra di tinggal pergi oleh Putri semata wayangnya.
Usai serangkaian acara selesai.Kedua bayi kembar itu siap untuk 'di pamerkan' mengelilingi tamu undangan.Bayi - bayi mungil itu tidak rewel sama sekali mendengar riuh ramai pada tamu yang hadir.Justru keduanya tampak tidur dengan damai di tengah keramaian ini.
"ya ampun..Toska dan Mocha jiplakan bapaknya banget ya,mil?"komentar Iyan saat melihat kedua bayi itu setelah acara 'berkeliling' mereka selesai.
"Gen bapaknya lebih dominan berarti.Tapi Toska bentuk bibirnya mirip Ana."Jawab Mila yang tengah merengkuh Toska dalam gendongannya.
"iya ya."Iyan melirik sekilas pada bayi dalam pelukan Mila,lalu beralih pada bayi dalam gendongannya."si Mocha malah bapaknya banget,Ana gak dapat kebagian."
Komentar itu membuat semua orang yang ada di sana tertawa."udah deh,ngejulid aja.Kalian berdua kapan?"Anya mengintrupsi kedua sahabatnya yang mendadak menjadi peneliti wajah kedua ponakannya.
"ya kapan - kapan."Jawab Mila cuek.
"kalau gak Sabtu,ya Minggu."Jawab Iyan tak kalah cuek.
__ADS_1
Ana yang tengah menikmati Panna cotta yang baru saja di ambilkan oleh Kaivan,menatap ke arah Anya yang menatapnya juga.Seakan memiliki satu pemikiran.
"Kalian berdua pacaran?"Tanya keduanya hampir bersamaan.
Iyan dan Mila saling bertatapan beberapa detik lalu sama - sama mengangkat kedua bahu mereka.Seakan tidak memperdulikan pertanyaan Ana dan Anya barusan.
Kaivan dan Dino yang menyaksikan bagaimana kedua orang yang sedang di interogasi istri mereka itu hanya bisa menggelengkan kepala saja.
Tak lama salah satu bayi kembar itu menangis.Ana mengambil bayi dalam gendongan Mila itu secara perlahan"permisi sebentar ya,bocil mau isi bensin dulu."
Kaivan yang melihat bayi satunya lagi mulai gelisah,segera berdiri dan mengikuti Ana ke kamar setelah menyambut bayi satunya lagi dari Iyan.
Melihat Ana yang duduk di kursi Asi yang di sediakan di dalam kamar itu.Kaivan tersenyum senang."mas temani ya sayang."Ujarnya sambil duduk di samping wanita itu.Ana tersenyum sambil menganggukan kepala.
Kedepannya,rumah mereka akan ramai dengan berbagai celotehan,tawa bahkan tangis dari kedua bayi mungil ini.Meski tidak lengkap karena paman Petra masih dalam masa berkabung dan berjanji akan datang nanti.
Ana tetap merasa bersyukur karena setelah perjuangan berdarah - darahnya untuk hidup yang lebih baik bertemu dengan orang - orang baik yang begitu menyayanginya.
Yang paling Ana syukuri adalah bertemu dengan pria yang ternyata memiliki trauma yang sama dengannya,tapi ingin sembuh dan saling mengobati.
Rumah tangga mereka mungkin tak selamanya di hiasi Pelang,jelas badai - badai lainnya akan segera menghampiri.Tapi ia yakin jika menghadapi badai terhebat pun akan ia jalani asal bersama pria yang saat ini menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
\=\=\=\=
holla readerss....
FINALLY...
Buku pertama yang aku tulis secara otodidak ini selesai.Di tengah lelah mengurus anak dalam masa tolder,mengurus rumah dan kelelahan dengan tingkah tetangga yang rese.
Tapi aku senang...
terima kasih dukungan dan kritiknya..
dengan chapter terakhir ini...Our Relationships and Trauma pamit....
See you di novel selanjutnya
__ADS_1