OUR RELASIONSHIPS AND TRAUMA

OUR RELASIONSHIPS AND TRAUMA
Perihal Rasa


__ADS_3

Setelah 'kabur' dari pesta ulang tahun yang bahkan baru di mulai, mereka berakhir di apartment Ana dengan sepiring penuh nasi goreng di hadapan masing - masing.


"hhmm...ini enak banget."gumam Kaivan dengan mulut penuh nasi goreng.


"makan yang benar mas,nanti tersedak."Ana memperingati Kaivan yang berubah menjadi anak kecil saat ia mengiyakan untuk memasak nasi goreng.


Saat diperjalanan pulang tadi Kaivan mengeluh lapar.Lalu Ana menawarkan diri untuk memasak sesuatu.


"Sebenarnya aku suka masakan rumahan sayang.tapi karena aku tinggal sendiri jadinya sering beli aja.Kalau sudah rindu aku akan ke rumah untuk meminta masakan dan makan bersama bibi Sophie."


Ana menatap Kaivan sejenak.'rumah' yang di maksud pria itu disini adalah rumah peninggalan orang tuanya.


"Kenapa, mas gak tinggal Disana aja.Kan kasian bibi Sophie sendirian."


"kalau untuk berkunjung sekali - kali aku bisa.tapi kalau untuk menetap aku masih terlalu takut."Terang Kaivan."bibi mengerti kok dengan keadaanku."


Setelah selesai makan Kaivan tidak segan lansung mencuci piring yang mereka gunakan .Ana sudah menghentikan pria itu tetapi ia bersikeras karena 'kamu udah masakin aku jadi tidak ada salahnya kalau aku juga ambil bagian membantu kamu' sambil memberikan senyuman yang selalu meluluhkan Ana.


"Mau kopi mas atau mau minuman yang lain?" tawar Ana

__ADS_1


" kopi sound good."Kaivan membersihkan tangannya setelah menyelesaikan kegiatan mencuci piring.


"ya udah tunggu di sofa aja,gak lama kok."


Kaivan menurut saja,lalu matanya menatap potret sebuah keluarga yang sebelumnya tidak tidak terpajang di sana.


Foto itu terdiri dari sepasang suami istri dan Ana berdiri di sisi kiri dan di sebelah kanan berdiri ....hei bukannya ini Anya temannya Ana.


"itu foto ulang tahun Ayah Anya tahun lalu mas,kemarin ibu mampir kesini membawa makanan dan memberikan figure itu."


Ana menaruh kopi Kaivan di atas meja.Kaivan masih berdiri menatap foto itu.Ia memiliki beberapa potret keluarga saat orang tuanya masih lengkap tapi itu dulu.


"Lumayan,mereka bahkan mempunyai niat untuk mengangkat ku menjadi anak."Ana mendesah pelan.Kaivan merentangkan tangan dan mendekap bahu Ana.


"tapi aku menolak,aku gak mau Anya merasa mempunyai saingan walau ia takkan begitu.Lagi pula aku sudah sangat dewasa untuk di angkat menjadi anak.Tapi aku ataupun mereka tetap menganggap kami sebuah keluarga."


Kaivan mengangguk mengerti.Ia mengusap kepala Ana dengan sayang.Ia dan Ana saling menatap beberapa saat menyelami perasaan masing - masing.


Kaivan bukanlah pria sempurna karena ia pernah memiliki banyak perempuan yang menemani hari - harinya.ia memang se brengsek itu,tapi pada akhirnya manusia harus berubah dan memiliki tujuan hidup.Memang ia belum tahu apakah Ana tujuan akhirnya atau bukan yang pasti Kaivan merasa nyaman dan ia tidak perlu menutupi hal apa pun pada wanita itu.

__ADS_1


Sedangkan Ana hanya perempuan biasa yang sudah mendapatkan pelecehan di usia bahkan belum menginjak 10 tahun.


Mereka hanya dua insan yang mencoba saling menyembuhkan diri dari lukanya masing - masing.


"can i Kiss you ?"Kaivan berbisik di telinga Ana.


Ana tersenyum sambil mengusap rahang Kaivan.


"apa kamu perlu meminta,mas ?"


"kalau begitu, itu bukan sebuah permintaan tapi sebuah pernyataan." Kaivan dengan semangat mempertemukan bibirnya dengan bibir Ana yang dari tadi sudah memanggil - manggilnya.


Terdengar terlalu hiperbola tapi itu lah kenyataan yang Kaivan rasakan.


\=\=\=\=


holla readersss ...


eeeaaa Kaivan bisa aja hahahh

__ADS_1


see you next episode


__ADS_2