OUR RELASIONSHIPS AND TRAUMA

OUR RELASIONSHIPS AND TRAUMA
Pertanyaan itu lagi


__ADS_3

Dino alias Didin di awal pertemuannya dengan Anya.


"kamu punya pacar?"pertanyaan tiba - tiba sang bos membuat Didin hampir tersedak minumannya sendiri.


Siang ini mereka tengah makan di sebuah restaurant setelah meeting dari lagi.Didin yang tidak siap dengan pertanyaan sang bos hanya bisa meringis.


"Saya masih nyaman sendiri,pak."Jawabnya formal.


"hhmm..oke.Tapi kalau kamu sudah punya pacar beritahu saya.Setidaknya saya tidak akan mengajakmu lembur terus menerus sehingga tidak punya waktu untuk berkencan."Jelas Kaivan.


"Apa bunga dan cemilan untuk Ana sudah di kirim?"Tanya Kaivan lagi sambil melihat jam tangan di pergelangan tangannya.


Sekarang sudah waktunya makan siang,dan tugas Didin memastikan bunga dan cemilan untuk calon nyonya bos nya itu sampai tepat waktu.


Didin senang melihat bosnya tampak bahagia setelah sekian lama hanya menjadikan wanita sebagai tempat pengisi rasa sepi.Saat ini pria itu terlihat sangat bersungguh - sungguh menginginkan seorang wanita yang selalu ia sebut dengan nama Dayana Greesa.


Yaa...walau pun ia akan mendapat tambahan pekerjaan.


"Seharusnya saat ini sudah dalam perjalanan ke kantornya."Didin mengecek ponselnya,memastikan posisi si kurir yang di bayar mahal hanya untuk mengantar sebuket bunga dan sekotak donat j.co tepat waktu.

__ADS_1


"bagus,ayo kembali ke kantor."Kaivan beranjak dan di ikuti Didin.Mereka masih harus meeting lagi dengan tim humas.


\=\=\=\=


"mas,bisa bantu bunda sebentar."Renata tengah memasukan berbagai macam muffin ke dalam kotak yang tersusun cantik.


Didin yang baru keluar dari kamarnya,segera menghampiri.Ia baru pulang kerja setengah jam yang lalu.


"Bantu apa Bun?"


"Tolong tempelin stiker ini di atas kotak lalu susun di atas meja sana."Bunda Renata menyodorkan stiker kecil - kecil berbentuk bulat dengan warna hijau toska.


Mereka hanya hidup bertiga,termasuk Dina.Adiknya yang masih kuliah semester lima di sebuah universitas di Jakarta.


Ayahnya sudah tiada akibat kangker paru - paru saat ia berusia 11 tahun.Ibunya memilih membanting tulang sendiri,membesarkan kedua anaknya.


"Kamu,kapan ngajakin pacar kamu main ke sini,mas?"


aahh pertanyaan itu lagi.Memasuki usia matang dan siap untuk menikah.Ia kerap kali mendapat pertanyaan seperti ini dari sang bunda.

__ADS_1


"Pacar apa sih,Bun.Mas masih sendiri ini."Jawab Didin sambil menempelkan stiker bertuliskan selamat menikmati itu.


"Cari dong,sayang.kalau kamu sibuk bekerja terus kapan jodohnya bakalan datang."Ujar sang bunda sambil tertawa pelan."Ganteng - ganteng kok jomblo.Capek Bunda liatin kamu pacaran sama laptop terus."


Didin hanya meringis.Ia memang sering memegang laptopnya dari pada memegang tangan wanita.Bukan tanpa alasan,Ia ingin bertemu wanita yang seperti sang bunda.Walau ayahnya telah tiada bundanya tetap mencintai dan setia padanya.


terbukti di setiap malam sebelum beranjak kekamar bundanya selalu berdiri di depan pigura sang ayah.Walau melalui hari yang lelah wanita itu akan selalu tersenyum menatap foto suaminya.Begitu juga di pagi hari sebelum memulai aktivitasnya.


"Dina Kemana,Bun?"Tanya Didin mengalihkan pembicaraan.Akan panjang ceritanya kalau bunda terus bertanya soal pacar yang belum menampakkan wujudnya.


"Bunda suruh ke warung depan,beli pembungkus kotak ini."Jawab Bunda.Lalu menyodorkan satu buah muffin coklat dengan taburan coklat chip di dalamnya.


Didin menerima dengan senang hati.Ia akan selalu menjadi penggemar nomor satu semua kue buatan bundanya ini.


\=\=\=\=\=


Holla readers...


see you next episode

__ADS_1


__ADS_2