
Sekitar jam delapan lewat dua puluh delapan menit Ana barulah bisa bergabung dengan Anya.Sebenarnya Ana bisa saja lebih cepat jika saja tidak ada tangan besar melingkari perutnya erat tadi pagi.Jangan di tanya siapa pelakunya,sudah pasti itu Kaivan.
Nyaris setengah jam Ana melepaskan belitan tangan Kaivan supaya terlepas dari perut nya.Pria itu benar - benar berniat memeluknya sepanjang waktu.
Ana mencoba mengingat kapan Kaivan memasuki kamar hotel setelah pria itu mengirim banyak pesan dengan kata - kata sarat akan kerinduan.Tapi yang ia ingat malah sebuah pelukan hangat yang di dapatkan saat tertidur dan suara bisikan selamat malam di telinganya.
"sorry...gue telat"ucap Ana saat memasuki ruang make up Anya.Ia berjalan sedikit tergesa - gesa saat keluar dari kamar hotelnya takut Anya membutuhkan bantuannya.
Anya melihat pantulan Ana dari kaca yang tengah berada di depannya.Matanya membelikan melihat penampilan Ana.Di pesta pernikahannya Anya berekspektasi kalau Ana akan berpenampilan memukau.
"Aduh...sepet banget mata gue liat penampilan Lo."Dumel Anya melihat Ana dari atas hingga bawah.
Ana melihat penampilannya.Sepertinya tidak ada yang salah.Gaunnya sudah melekat sempurna yang membuat Ana tampak memukau.Bahkan jika di lihat Ana tampak seperti model tengah memperagakan busana disainer terkemuka.
"penampilan gue oke kok."Lalu pandangannya beralih pada mbak MUA yang tengah memoles bibir Anya."Iya kan,mbak?"tanya Ana seolah meminta dukungan.
Anya mendelik sebal.Ana memang selalu bertahan di zona nyamannya,yaitu make up natural.Dia jarang sekali menggunakan riasan yang bold.
"make up Lo biasa banget."Anya gregetan."mbak...habis ini make Up-in teman aku ya."Perintahnya mutlak.
__ADS_1
Ana hendak protes tetapi mendapati delikan tajam dari Anya.Ana membutuhkan sedikit polesan lebih agak Kaivan pangling dengan penampilan Ana di acara ini.Meskipun Anya bertarus seratus persen,Kaivan tetap memujanya walau tanpa polesan make up sekali pun.Cinta memang se-membutakan itu.
\=\=\=\=
"Heeh...cipokannya nanti aja di kamar.Di sini masih rame,banyak orang."Ana sewot melihat Anya yang terlihat tidak tahan untuk tidak mengecupi Didin yang mencoba tetap tenang.
Kaivan tertawa keras melihat interaksi kedua sahabt itu.Anya memicingkan matanya.
"Suka - suka gue lah.kan udah halal."Anya menaik turunkan alisnya pada Didi.
"harap banyak - banyak bersabar ya Din.Dia memang agak lepas kendali setelah nangis tadi."Ana meringis.
"pegel..?"tanya Kaivan memperhatikan Ana yang selalu stand by saat Anya membutuhkan bantuan.Ia sigap memberikan minum atau sekedar memperbaiki ekor gaun sahabatnya itu.
"sedikit."Jawab Ana.Akhir - akhir ini ia memang merasa gampang lelah,mungkin terlalu bekerja dan malamnya 'lembur' bersama Kaivan.
"ayo duduk dulu."Kaivan menarik lembut tangan Ana dan mendudukan wanita itu di salah satu kursi."ada Mila yang bisa gantian kan."
Ana tidak bisa memprotes kalau Kaivan sudah menatapnya dengan intens.Wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Tanpa bicara Kaivan melepas high heels Ana dan memijit tumit Ana.Wanita itu lansung mendesah,rileks saat mendapat pijitan dari suaminya.
"Ana..kamu terlihat pucat,nak."Ibu Ida datang menghampirinya."kamu istirahat saja di kamar.Acaranya tinggal satu jam lagi."
"tapi...Bu."
ibu Ida menggeleng "sudah,tidak apa - apa.kamu istirahat saja.Pasti kau capek dari pagi sudah membantu Anya."Wanita itu tersenyum sambil mengusap bahu Ana.
"Nak Kaivan...temani Ana istirahat dulu ya."Mintanya pada Kaivan.
Kaivan mengangguk mantap,ia juga tidak ingin Ana kelelahan."ayo sayang."
Ana hanya bisa pasrah.Sulit membantah permintaan ibu Ida di tambah lagi Kaivan sudah mengulurkan tangannya.
\=\=\=\=
Holla readerss...
see you next episode
__ADS_1