Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 100 Misi Dimulai


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Setelah mengganti nomor baru, tak ada lagi klien wanita yang menghubunginya dan dia bisa tenang.


Setiap hari selama di kantor Niky selalu menyisihkan waktu luangnya untuk membuat konsep bisnis yang akan dirintisnya.


“Untuk barang-barang yang akan dipasarkan aku harus mencari supplier yang sesuai dengan harapanku.” gumam Niky kemudian mencari daftar supplier yang dia ketahui dan memilih beberapa yang menurutnya cocok.


Sore hari setelah pulang kerja Niky duduk di rumah di lantai dua. Dia membawa laptopnya ke sana.


“Sepertinya duduk di sini enak.” ucapnya duduk bersandar ke dinding menghadap ke utara, ke jalanan.


“tik... tik... tik...” Niky kembali mengerjakan konsep dan berbagai hal lainnya terkait dengan bisnis yang akan dirintisnya.


“tap... tap... tap...” terdengar suara dalam langkah menaiki tangga menuju ke tempatnya. Niky menghentikan aktivitasnya sejenak dan menoleh ke samping kiri.


“Cassia... ?” ucap Niky saat melihat gadis itu datang membawa dua gelas minuman.


“Kak... istirahat dulu sebentar. Aku bawakan ini untuk kakak.” ucapnya lagi sambil menaruh nampannya di bawahnya ke samping laptop Niky.


“Nanti aku akan meminumnya, sayang ini hanya tinggal sedikit lagi selesai.” balas Niky menolak dan kembali menyapukan jarinya pada keyboard.


“Ayo lah kakak sayang... minum sedikit saja.” ucap Cassia terus memaksa dengan sedikit menggoda Niky.


“Ya baiklah sayang...” balas Niky kemudian mengambil satu gelas dari nampan dan meneguknya sampai habis.


Cassia tampak tersenyum senang melihat gelas di tangan Niky yang sudah kosong. Dia pun duduk di samping kanan lelaki itu dan ikut menatap layar laptop.


“Ternyata kakak Niky serius... kukira hanya bercanda belaka.” batin gadis itu saat melihat apa yang sudah dikerjakan oleh Niky.


Cassia menemani Niky mengerjakan side project-nya hingga malam sambil melihat indahnya bintang yang berkelip di langit.


Tiga minggu berlalu. Semua yang sudah dikonsep oleh Niky telah selesai.

__ADS_1


Di akhir pekan Niky kembali ke kota asalnya. Dia pergi ke tanah kosong milik ayahnya yang terdapat sekitar sepuluh kilo meter dari perusahaan Osman sebelumnya, Sun Group.


Di sana sudah ada beberapa pekerja dari kontraktor yang dia pilihnya dan mulai membangun tempat itu.


“Akhirnya aku melihat juga peletakkan batu pertama bangunan ini.” gumam Niky yang berdiri tepat di samping pekerja yang membangun pondasi untuk melihatnya secara langsung.


Dia pun tersenyum lebar sambil mengangkat kepala ke atas menatap langit yang saat itu berwarna biru cerah.


“Ayah lihatlah ini dari atas sana. Aku akan membangun kembali perusahaan mu yang telah bangkrut dengan nama dan manajemen yang berbeda.” batin Niky masih menatap langit di mana terdapat gumpalan awan putih di sana yang menyerupai wajah ayahnya yang tersenyum balik padanya.


Setelah puas memandangi awan, Niky berjalan berkeliling melihat dan menunggu para pekerja membangun.


“Semoga saja cepat jadi bangunan ini... aku tak sabar ingin segera melihatnya.” ucapnya dalam hati dengan rasa bangga.


Saat sore hari dan pekerjaan pembangunan hari itu sudah selesai Niky pulang ke rumah ke tempat Ibu dan dua adiknya berada.


“broom...” Niky melajukan maserati putihnya ke luar kota melaju di jalanan.


“Kakak... !!” teriak Devan dan Fiona yang berlari keluar menyambut kedatangannya.


Seperti biasa dua adik kakak itu berebut untuk membawakan tas kerja Niky.


“Sudah jangan berebut...” ucap Niky mengambil tasnya kembali dan membawanya sendiri masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah ibu sudah menyiapkan menu makanan spesial untuk Niky dan membawanya ke ruang tengah.


“Ayo makan dulu kau pasti belum makan.” ucap ibu mengambil kan satu porsi makanan untuk Niky.


“Hmm... ini enak sekali ibu...” balas Niky setelah memakan beberapa sendok kari yang selama ini dia rindukan. Karena menurutnya tak ada makanan yang selezat masakan ibunya.


Ibu hanya memandangi Niky yang sedang makan dan melihat raut muka putranya itu terlihat ceria.

__ADS_1


“Nak... ibu lihat kau tampak bahagia sekali hari ini...” ujar ibunya Niky yang ikut senang melihat putranya senang meskipun tak tahu apa penyebabnya.


“Setiap hari aku selalu senang ibu...” jawab Niky mengelak.


“Apa sebaiknya aku ceritakan tentang pembangunan gedung baru itu pada ibu sekarang...” batin Niky bermaksud memberikan kejutan pada ibunya.


“Ibu sebenarnya aku...” Niky tidak melanjutkan ucapannya karena menurutnya belum waktunya ibunya untuk mengetahui hal itu. Di samping itu pembangunannya masih pada tahap awal.


“Ada apa nak... ?” tanya ibu yang semakin penasaran karena Niky melanjutkan ucapannya.


“Ah... tidak ada bu... aku hanya mencoba bereksplorasi kecil-kecilan. Suatu saat aku akan menunjukkannya pada ibu.” balas Niky sambil tersenyum dan membuat ibunya semakin penasaran saja apa yang sebenarnya dikerjakan oleh Niky.


Malam harinya Niky sedang berada di kamar dan berganti baju setelah mandi. Dia berniat menelepon Cassia untuk memberikan kabar agar gadis itu tak khawatir padanya.


“kring... kring...” suara ponsel Niky yang berdering.


Niky segera mengangkat ponselnya.


“Halo, ya sayang...” ucap Niky.


“Kakak... kakak sedang apa sekarang ?” tanya Cassia sambil memasang headset dan merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.


“Aku ada di rumah ibu baru selesai mandi.” balas Niky kemudian duduk di tempat tidur dan pesan harga dinding menatap keluar.


“Kakak... aku rindu sekali padamu. Kapan-kapan aku ingin menemani kakak saat pulang. Aku ingin bertemu dengan Fiona.” ucap Cassia sambil tersenyum.


“Emm... ya... lain waktu aku akan mengajakmu jika kau mau.” balas Niky sambil tersenyum walaupun dalam hati sebenarnya dia masih ragu untuk mengajaknya menemui keluarganya.


Mereka berdua pun mengobrol ditelepon hingga larut malam.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2