Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 61 Proyek Wonderland Dimulai


__ADS_3

Pagi hari Niky bangun dengan lemas di sebuah hotel dengan selimut yang menutupi tubuh polos nya. Dia mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di malam hari.


“Ahh... aku harus segera bersiap berangkat ke kantor sekarang.” gumamnya bangkit dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi.


“cash.... !” Niky menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya sebelum memakai baju kerjanya. Tak lupa dia minum suplemen vitamin C untuk menjaga daya tahan tubuhnya agar tidak mudah tumbang menghadapi kerasnya kehidupan.


Dia pun segera keluar dari kamar hotel dan bergegas masuk ke maserati putihnya melaju di jalanan menuju ke kantor.


Seperti biasa dia berhenti di sebuah rumah makan untuk mengisi perutnya yang kosong.


“Tolong dua porsi paket B...” ucap Niky memesan menu makanan pada pramusaji kemudian duduk di bagian sudut menunggu pesanannya.


Tak berapa lama kemudian menu yang di pesannya datang.


“Ting...” Terdengar dentingan sendok dan piring yang beradu saat Niky makan menghabiskan dua porsi makanan dengan cepat.


“Argh.... segar...” gumamnya saat menenggak habis satu gelas air mineral dan menaruhnya kembali ke meja.


“Sekarang porsi makan ku semakin banyak. Kalau terus seperti ini bisa-bisa berat badanku naik banyak.” ucapnya lirih sambil memegang perutnya yang sudah tidak six pack lagi.


“Aku harus menjaga penampilan ku dan sering fitness untuk membakar lemak dari makanan yang tertimbun di tubuhku.” batinnya lagi sambil memegang lengannya yang biasanya padat menjadi sedikit kendor.


Selesai makan Niky segera masuk ke maserati putihnya dan kembali meluncur perjalanan menuju ke tempat kerjanya.


“tap... tap... tap...” suara langkah kaki Niky turun dari maserati putihnya dan berjalan masuk ke ruang kerjanya.


“Ya sepertinya berat badan ku sedikit bertambah...rasanya sedikit berat saat berjalan...” batin Niky saat mengayunkan kakinya melangkah bergantian.


Setibanya di dalam ruangan dia menaruh tas kerjanya ke meja dan duduk di kursinya.


“Nantilah sambil jalan aku akan menjaga penampilan ku agar tetap oke seperti biasanya.” batinnya saat menyalakan laptop yang ada di depannya.

__ADS_1


Di lain tempat di ruang direktur accounting tampak Sherli sedang melakukan percakapan melalui telepon dengan presiden direktur.


“Bagaimana dengan persiapan yang ada di lapangan ? Kira-kira Kapan proyek ini bisa segera direalisasikan ?” tanya presiden direktur dari telepon pada Sherli.


“Di lapangan sudah mulai bergerak di berapa titik. Saat ini masih mengurusi pasokan bahan yang akan digunakan dalam proyek pembangunan Wonderland.” jawab Sherli melaporkan sampai sejauh mana proyek Wonderland berjalan.


“Gunakan bahan yang berkualitas untuk pembangunan proyek Wonderland.” tambah presiden direktur dalam beberapa poin.


“Oh ya... mengenai konsep pembangunan proyek Wonderland serahkan itu pada Niky karena dia yang membuat konsep itu serta agar pembangunannya sesuai dengan konsep dasar aslinya.” ucap President Direktur lagi menambahkan poin utama dalam proyek.


“Tapi bapak presiden direktur bukankah itu wewenang dari bagian umum.... sedangkan Niky bagian accounting... aku takut nanti tidak sesuai dengan yang di harapkan.” balas Sherli mengutarakan opininya.


“Sherli meskipun dia orang accounting tapi aku tahu dia mampu menjalankan tugas itu.” jawab presiden direktur menegaskan kembali keputusannya yang absolute.


“Emm... baik kalau begitu bapak presiden direktur. Aku akan segera menyerahkan tugas itu pada Niky.” jawab Sherli menerima keputusan dari Presiden direktur dan segera menutup kembali teleponnya setelah panggilan berakhir.


Wanita itu tampak sibuk menatap monitor laptopnya dan mencari data-data terkait pemasok bahan bangunan, kontraktor dan hal terkait lainnya untuk proyek Wonderland.


“Niky... aku mengirim laporan keuangan proyek lampu tenaga surya padamu barusan kau bisa mengeceknya.” ujar Joey pada Niky setengah mengirim laporan itu ke alamat e-mail Niky.


“Oh ya baiklah Joey, terima kasih. Aku akan memeriksanya sekarang.” balas Niky yang masih memeriksa laporan keuangan lainnya yang masuk ke alamat emailnya.


“klik.... !” Niky membuka inbox email dan mencari surel dari Joey di sana. Setelah menemukan laporan keuangan yang dikirim oleh lelaki itu dia pun segera memeriksanya.


“Klik....” Niky memasukkan rumus untuk mengecek laporan itu dan dia menemukan ada beberapa kesalahan di sana.


“Joey... aku sudah memeriksa laporan yang kau kirim padaku dan merasa ada beberapa bagian yang perlu dibenahi. Aku akan kirim balik laporannya pada mu.” ucap Niky dan langsung mengirim laporan keuangan milik Joey agar segera direvisi.


Niky terlihat lelah setelah beberapa lama memeriksa laporan yang masuk pada alamat emailnya. Dia pun menyandarkan bahunya sejenak kursi untuk merilekskan otot yang tegang di sekitar punggung dan leher nya.


“Kring... kring....” suara telepon dimeja Niky yang berdering melengking.

__ADS_1


“Ah....” Niky yang tampak melamun tersadar dari lamunannya dan segera mengangkat telepon di depannya.


“Ya halo dengan Niky di sini.”


“Niky kau mendapatkan tugas baru dari presiden direktur langsung.” ucap Sherli dari telepon menyampaikan keputusan dari Presiden direktur tadi.


“Ya Bu Sherli... apa tugasku kali ini ?” tanya Niky sambil menarik tubuhnya tegak.


“Kau mendapat tugas mengawasi secara langsung pembangunan proyek Wonderland agar sesuai dengan konsep yang kau desain sebelumnya.” ucap Sherli menjelaskan tugasnya.


“Maaf bu Sherli Apa itu bukan tugas dari bagian umum dan pengembang... ?” tanya Niky yang sedikit heran karena itu bukan ranah kerjanya.


“Ya... aku tahu itu... tapi bapak presiden direktur sendiri yang memberikan penilaian dan menganggap kau mampu menjalankan nya meski itu bukan bidang mu.” ucap Sherli menjelaskan.


“Baik bu Sherli, terima kasih atas pemberitahuannya dan aku akan segera terjun ke lapangan begitu proyek pembangunan dimulai.” jawabnya lalu segera meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya setelah pembicaraan dengan Sherli berakhir.


Siang harinya di saat jam makan siang seperti biasanya lelaki itu melajukan maserati putihnya ke Rumah Makan Bambu Kuning tempat di mana dia makan siang bersama dengan Selly.


Tak berapa lama kemudian dia tiba di rumah makan itu dan memarkir mobilnya. Setelah memesan menu makanan yang dipesannya, dia duduk di kursi kosong di bagian selatan.


“Aku tidak melihat Selly... apa dia masih di jalan... ?” batinnya menatap ke sekitar mencari keberadaan wanita itu dan tidak ada di sana.


“Mungkin dia datang agak siang karena repot.” gumamnya mulai memakan menu yang dipesannya sambil menunggu kedatangan wanita itu.


Sudah tiga puluh menit lebih dan jam istirahat siang hampir habis, sosok yang ditunggunya tak kunjung datang juga.


“Kemana Selly... kenapa dia tak datang ke sini...” ucapnya lirih dan terlihat sedikit sedih. Dia merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya dengan ketidak hadiran wanita itu.


Dia pun meneruskan makannya walaupun hilang selera makannya sambil terbayang kenangan bersama wanita itu yang masih membekas di hatinya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2