
Tiga hari kemudian setelah kondisi Cassia membaik dia diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit.
Di Rumah Sakit sopir sudah menunggu namun tanpa kehadiran Wardana yang ikut menjemput Cassia.
Pak Rahmat keluar dari mobil dan masuk ke ruangan tempat dirawat.
Di dalam ruangan dia mengemasi semua barang Cassia dan membawanya kembali masuk ke mobil.
Setelah semua barang bawaannya masuk ke mobil, Pak Rahmat kembali ke ruangan untuk menjemput Cassia.
“Nona ayo kita pulang sekarang...”ucap sopir pribadi ayahnya itu menuntun Cassia berjalan keluar dari rumah sakit menuju ke mobil.
Di dalam mobil dia duduk dan melihat dari kaca hanya saja dirinya yang duduk di sana.
“Pak Rahmat... dimana ayah ?”ucap Cassia bertanya dan menoleh ke samping.
“Tuan ada di kantor nona, banyak hal yang harus tuan urusi.”jawab sopir menjelaskan dengan singkat.
Cassia hanya diam saja kemudian kembali menetap ke depan. Dia tahu ayahnya masih marah padanya dan tak Ingin bertemu dengannya.
Pak Rahmat mengendarai mobil keluar dari rumah sakit dan menuju ke rumah.
“klik...”Pak Rahmat turun dari mobil setelah tiba di rumah. Dia membukakan pintu untuk Cassia dan membantunya turun.
“Terima kasih pak... aku bisa berjalan sendiri.”ucap Cassia di tengah jalan setelah merasa kuat berjalan sendiri masuk ke rumah. Pak Rahmat pun akhirnya hanya berjalan mengikuti Cassia untuk mengawasinya.
“kriek....”Cassia membuka pintu kamarnya kemudian menutupnya kembali.
Dia duduk di tempat tidur dan meraih ponselnya yang ada di meja untuk memeriksanya.
__ADS_1
“Apa kakak Niky menghubungi ku ?”gumam Cassia melihat daftar panggilan dan kotak masuk pesan.
Dia terlihat kecewa saat melihat kotak masuk pesannya kosong, juga tak ada panggilan yang masuk untuknya.
“Kakak Niky... kenapa kau tidak menghubungi ku ?”gumam Cassia merasa sedih karena apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan.
Cassia berniat menghubungi nomor Niky namun dia mengurungkan niatnya karena pikirannya saat ini kacau. Dia sangat merindukan kekasihnya itu namun di sisi lain dia sudah berjanji pada ayahnya tidak menghubunginya.
Cassia menaruh kembali telepon ke meja dan merebahkan dirinya ke tempat tidur.
“Kakak... bagaimana hubungan kita selanjutnya... ku harap kita bisa kembali seperti sebelumnya.”ucapnya lirih sambil menitikkan air mata dan mengusap perutnya.
Di lain tempat Niky tidak masuk kantor selama tiga hari setelah kejadian di rumah Wardana. Dia mengurung diri di rumah dan menyembuhkan luka-lukanya.
Saat ini semua luka di tubuhnya sudah membaik dan lebam di wajahnya pun sudah mulai menghilang.
Setiap hari dia tampak tersiksa di rumah karena selalu teringat pada Cassia, pada senyumnya, dan semuanya.
Dia setiap hari merasakan rindu pada Cassia karena terbiasa bersamanya. Kali ini dia mengambil ponselnya karena merasa tak kuat menahan rasa rindunya.
“tut.... tut... tut...”Niky menghubungi nomor Cassia namun baru beberapa kali dering dia mengakhiri panggilannya dan kembali duduk di jendela setelah menaruh kembali ponselnya ke tempat tidur.
“Cassia... lebih baik kita tak usah melanjutkan hubungan ini karena hanya akan semakin menambah rasa sakit di hati ini.”gumam Niky sambil menatap melepas ke langit yang berwarna biru cerah di pagi hari.
Siang hari Wardana pulang dari kantor. Dia masuk ke rumah dan mencari pelayannya yang dia tugaskan untuk mengawasi Cassia.
“Bagaimana nona Cassia setelah pulang dari rumah sakit ? Apa dia keluar dari rumah atau melakukan hal lainnya ?”tanya Wardana pada pelayannya saat bertemu di dapur.
“Nona Cassia tidak keluar dari kamar dari tadi, tuan. Dan nona hanya menangis saja dari tadi.”jawab pelayan wanita itu menjelaskan.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan dari pelayan wanita tadi Wardana berjalan menuju ke kamar Cassia. Dia membuka sedikit pintu kamar Cassia dan melihat gadis itu sedang tertidur.
“Tap... tap... tap...”Wardana masuk ke kamar Cassia.
Cassia yang hanya tidur ayam mendengar suara langkah kaki masuk ke kamarnya dan membuka matanya.
“Ayah...”ucap Cassia bangun dan duduk di tempat tidur dengan mata berkantung tebal akibat terus menangis.
“Cassia Ayo ikut Ayah sekarang ke rumah sakit. Ayah akan mengakhiri semua rasa sakit mu ini dan kau akan kembali bisa tersenyum.”ucap Wardana berdiri di samping Cassia.
“Ke rumah sakit... untuk apa.... aku barusan keluar dari sana ayah...”jawab Cassia yang tidak tahu apa lagi yang mau dilakukan ayahnya padanya.
“Tentu saja untuk menggugurkan janin di perut mu.”jawab Wardana datar tanpa ekspresi rasa bersalah sedikitpun.
Cassia terkejut dan takut. Tubuhnya tampak gemetar setelah mendengar jawaban dari ayahnya.
“Ayah... aku tidak mau menggugurkan janin ini. Anak ini tidak bersalah ayah... dan aku menginginkan kehadirannya.”balas Cassia menolak ajakan dari ayahnya dan tetap duduk di tempat tidurnya.
Wardana yang tahu sikap keras kepala Cassia menarik tangannya dan menyeretnya keluar.
Cassia berontak dan berhasil melepaskan tangan ayahnya. Karena tak mau menuruti permintaan ayahnya. Dia pun mengambil gunting yang saat itu tergeletak di meja.
“Ayah... jika ayah tetap memaksaku untuk menggugurkan bayi ku jangan harap ayah bisa terus melihatku di dunia ini.”ucap Cassia mengancam Wardana sambil memegang gunting dan mengarahkan ke tubuhnya.
Wardana dengan cepat mengambil gunting itu dan melemparnya ke lantai. Dia pun menghampiri Cassia sebelum gadis itu bertindak lebih nekat lagi. Namun Cassia dengan cepat mengambil kembali gunting yang terjatuh di lantai.
“Cassia... kau jangan bertingkah bodoh seperti itu ! Baiklah Ayah tidak akan memaksamu menggugurkan kandungan mu.”ucap Wardana memegang bahu Cassia dan mengambil gunting dari tangan Cassia.
“buk...”Cassia menjatuhkan gunting di tangannya setelah mendengar perkataan ayahnya.
__ADS_1
Wardana melihat Cassia yang tampak frustasi dan kacau. Dia pun membawa kembali Cassia ke tempat tidur kemudian meninggalkannya sendirian di kamar.
BERSAMBUNG...