Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 87 Meminta Niky Kembali


__ADS_3

Dua minggu berlalu setelah kejadian itu. Niky menjalani harinya seperti biasa walaupun dia merasa sedih karena sampai detik ini Cassia tidak meneleponnya ataupun mengirim pesan padanya.


Pagi hari di tempat kerja tampak Niky yang kelihatan tak bersemangat. Walaupun dia mencoba untuk baik-baik saja dan menyembunyikan kesedihannya, namun bayangan Cassia selalu hadir dalam benaknya, terutama senyumnya yang tak pernah bisa dia lupakan.


“tik... tik... tik...” Niky kembali fokus pada pekerjaannya. Dia memeriksa banyak laporan keuangan masuk di emailnya yang sudah menumpuk.


“Kak... kakak Niky...” suara Cassia yang kembali muncul dalam pikirannya.


“tuk...” Niky meletakkan mouse yang dipegangnya. Dia lalu memegang kepalanya sambil menatap kosong layar laptopnya.


“Bagaimana cara menghilangkan mu dari pikiran ku... seharusnya dari awal aku tak pernah menjalin hubungan dengan mu jika begini akhirnya...” batin Niky yang sedikit merasa frustasi karena dia kesulitan konsentrasi saat bekerja.


Niky pun keluar sebentar dari ruangan untuk menjernihkan pikirannya.


“Ada apa dengan Niky... kenapa beberapa hari ini dia terlihat kusut dan banyak pikiran....” batin Joey saat melihat Niky melangkahkan kakinya ke luar ruangan.


“Hmm... mungkin saja dia out of work proyek Wonderland...atau kerjaan lainnya...” batin Joey menebak dan kembali menatap monitornya karena masih banyak laporan yang belum dia selesaikan.


Di lain tempat di rumah Wardana tampak Cassia yang berwajah muram tak seperti biasanya. Setiap malam dia menangis sendiri. Di saat pagi hari dia keluar dari kamar dengan mata sembab dan berkantung.


Wardana mau masuk ke ruang makan, dia melewati kamar putrinya dan berhenti sejenak untuk melihatnya. Dia semoga sedikit pintunya dan mengintip dari luar.


“Cassia... kenapa kau terlihat berantakan seperti itu... apa ada masalah dengan mu ?” batinnya saat melihat kondisi Cassia, anak kesayangan nya yang tak seperti biasanya.


“Nanti biar kutanyakan padanya apa yang terjadi ?” batinnya lagi lalu menutup pintu kamar sebelum gadis itu mendapati dirinya mengintip dan berjalan kembali menuju ke ruang makan.


“Kakak Niky... kenapa kau tidak menghubungiku sama sekali...” gumam Cassia lirih saat melihat ponselnya dan terus memandanginya.


Tiga puluh menit berlalu, semua makanan sudah terjadi saji di ruang makan. Wardana sudah mengambil menu sarapan paginya dan melihat satu kursi kosong.


“Aurel... coba kau lihat adik mu dan panggil dia untuk ikut sarapan bersama kita.” ucap Wardana memerintahkan putri pertama nya itu.


“Ayah... adik berapa hari ini tidak mau makan... aku sering mengajaknya bicara namun dia tak mau menceritakan apa masalahnya padaku. Melihat dari perilakunya sepertinya dia punya kekasih sekarang dan mungkin sedang ada masalah dengan kekasihnya itu.” jawab gadis itu menjelaskan pada ayahnya.


Seorang pelayan wanita kebetulan lewat dan Wardana memanggilnya.

__ADS_1


“Bi Ratih... tolong panggil Cassia untuk segera sarapan...”


“Baik tuan...” jawab wanita itu kemudian langsung pergi menuju ke kamar Cassia.


“tok...tok...tok...” Pelayan tadi mengetuk pintu kamar Cassia sesampainya di sana.


“Siapa...” jawab Cassia sambil menghapus air matanya dan berbalik menghadap pintu.


“Ini bi Ratih non... tuan memanggil nona dan menunggu nona di ruang makan.” jawab pelayan itu.


“Bi... tolong bilang pada ayah nanti aku akan makan sendiri.” jawab Cassia menolak karena merasa tak lapar dan tak ingin makan bersama.


“Non... tolong keluar dari kamar sekarang. Tolong bibi non... agar tidak dimarahi oleh Tuhan jika nona tak mau keluar dari ruangan.” ucap wanita itu mencoba membujuk Cassia.


Cassia selalu luluh pada Bi Ratih, karena wanita itu sudah dianggap seperti ibunya sendiri semenjak kematian ibunya saat dirinya masih berusia sepuluh tahun.


“Baiklah bi... bibi tinggal saja. sebentar lagi aku akan keluar.” jawab Cassia berdiri dan segera merapikan diri.


Tak beberapa lama kemudian Cassia membuka pintu dan keluar dari kamar berjalan menuju ke ruang makan.


“srak...” gadis itu menarik kursi dan duduk disebelah kakaknya.


Cassia mengambil spasi makanan dengan malas dan mulai makan dengan pelan karena dia ada nafsu makan sama sekali.


“Cassia... ayah lihat kau tampak banyak pikiran. Apa ada masalah ?” tanya lelaki itu menyelidik. Cassia menghilang menatap ayahnya dan makan dengan pelan.


“Lalu apa yang mengganggu pikiran mu ? Apa kau sedang bertengkar dengan kekasihmu ?” tanya Wardana lagi.


“uhuk...” Seketika gadis itu tersedak mendengar pertanyaan ayahnya dan langsung mengambil segelas air minum yang ada di depannya dan meminumnya.


“Dari mana ayah tahu aku punya kekasih ? Jadi selama ini dia mengawasi ku...” batinnya sedikit terkejut.


“Bukan ayah... sebenarnya aku memikirkan Dream Fantasy.” jawabnya tidak mau mengakui jika dia memang ada masalah dengan kekasihnya.


“Ada apa dengan Dream Fantasy ?” tanya Wardana penasaran.

__ADS_1


“Satu bulan ini terjadi jumlah penurunan pengunjung di Dream Fantasy.”


Seketika Wardana terkejut pada pernyataan yang di ucapkan oleh Cassia barusan.


“Apa benar yang kau ucapkan itu nak ? Aku belum menerima laporan dari para staf yang mengurusi proyek itu.” ucap Wardana menegaskan kembali dan Cassia mengangguk namun dia tak menceritakan selebihnya jika sebenarnya ada pesaing baru yaitu Wonderland, karena Niky bekerja di sana.


Wardana segera menelepon salah satu stafnya yang mengurusi proyek Dream Fantasy dan menanyakan kebenaran hal itu. Dia meminta stafnya segera mengirimkan laporan padanya dalam waktu satu jam dari sekarang.


“Cassia... Aurel... Ayah main ke kantor dulu. Kalian makan dulu.” ucap Wardana berdiri lalu segera keluar dari rumah makan dan menuju ke kantor untuk mengadakan meeting dengan para stafnya.


Saat sore hari, Cassia yang berada di kamar dan mengurung diri merasa sudah tak tahan lagi menahan rasa rindunya pada Niky.


Dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Niky, namun sayang lelaki itu tak mengangkatnya.


“Aku harus bertemu dengannya hari ini.” gumamnya lalu meraih ponselnya dan mencoba melacak keberadaan Niky saat ini.


Cassia sudah berganti baju dan keluar dari kamarnya setelah mengetahui posisi pasti keberadaan Niky sekarang.


Dia keluar dari rumah mobil merah menuju ke rumah yang dia dan Niky tinggali bersama.


Cassia menginjak gas dan meluncur dengan kecepatan tinggi di jalanan.


“Semoga aku bisa bertemu denganmu di sana.”gumam Cassia sambil melihat posisi keberadaan Niky yang sekarang juga sedang menuju ke sana.


90 menit berikutnya dia pun sampai di rumah itu tepat di saat Niky tiba di sana.


“ckiit....” Niky menghentikan mobilnya saat melihat ada sebuah mobil merah yang datang di belakangnya.


Niky keluar dari mobil dan betapa maksudnya dia saat membuka pintu mobil, Cassia sudah berdiri di depannya.


“Kakak Niky...” ucap gadis itu yang langsung memeluk Niky saat lelaki itu turun dari mobil.


“Cassia....” balas Niky membalas pelukan gadis itu.


“Kakak... aku rindu sekali padamu. Tolong jangan pergi lagi dari ku...” ucap Cassia sambil menyentuh pipi Niky lalu mencium bibirnya.

__ADS_1


Niky membalas ciuman Cassia dan setelahnya mereka masuk ke rumah untuk ngobrol dan melepas rindu.


BERSAMBUNG...


__ADS_2