Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 112 Target Tercapai


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu dan semakin hari perusahaan Niky mendapatkan keuntungan. Meskipun Cassia ikut membantu menjalankan perusahaan, namun gadis itu sama sekali tak meminta sepeser pun hasil keuntungannya dari Niky.


Suatu pagi Niky yang saat itu sedang libur tugas di hari Sabtu sengaja bangun pagi.


“Jam berapa ini...” gumamnya saat duduk di tempat tidur lalu menoleh ke jam dinding yang menunjukkan pukul 05.00.


Niky segera bangun dan menuju ke kamar mandi. Tak lama kemudian dia sudah berpakaian rapi dan berbau harum.


“Aku berangkat sekarang agar bisa bertemu Cassia lebih lama...” gumamnya lalu bergegas keluar rumah dan masuk ke maserati putihnya.


“broom...” Niky melajukan mobilnya di jalanan menuju ke perusahaannya.


Kali ini dia sengaja mengemudikan laju kendaraannya dengan kecepatan sedang karena di akhir pekan merupakan hari santai baginya.


Dua jam kemudian Niky tiba di perusahaannya. Dia memarkir mobilnya di depan dan segera turun dari mobil.


“brak... !” Niky kembali menutup pintu mobil. Dia berjalan dan melihat ke sekitar yang masih tampak sepi.


“Cassia belum datang rupanya...” gumamnya saat melihat ada mobil kuning yang biasa terparkir di sana.


Niky pun kembali berjalan dan masuk ke kantor melewati petugas security yang berjaga di sana naik ke lantai lima.


“blaz...” pintu lift terbuka setelah sampai di lantai lima.


Niky berjalan keluar dari lift dan masuk ke ruangannya. Dia menaruh tas kerjanya ke meja dan berjalan ke jendela untuk melihat pemandangan luar. Pikirannya menerawang jauh ke angkasa.


“Apa yang harus kulakukan selanjutnya... apa sudah saatnya bagi ku untuk membuka perusahaan lain ?” batin Niky memikirkan rencana masa depannya.


Tak Berapa lama kemudian Cassia datang ke perusahaan dan memarkir mobilnya di depan kantor.

__ADS_1


“tap... tap... tap...” Gadis itu keluar dari mobil dan berhenti sebentar saat melihat mobil Niky sudah terparkir di sana.


“Kakak Niky sudah datang rupanya...” gumamnya sambil tersenyum lebar kemudian melanjutkan langkahnya dan bergegas masuk ke kantor untuk menemuinya.


“kriek...” Cassia tiba di lantai lima dan membuka pintu ruangannya.


Dia melihat ke sekitar untuk mencari Niky dan mendapati lelaki itu sedang berdiri di depan jendela.


“Sepertinya kakak sedang melamun...” gumamnya kemudian terus berjalan dan berniat memberinya kejutan.


Cassia memeluk Niky dari belakang dengan hangat sambil menyandarkan kepalanya ke punggung Niky.


Niky yang seketika sadar dari lamunannya segera berbalik saat merasakan ada yang memeluknya dari belakang.


“Cassia... sayang... kapan kau datang...” ucap Niky membalas pelukan kekasihnya dan mencium keningnya.


“Baru saja... apa ada yang kakak pikirkan ? Ku lihat kakak memikirkan sesuatu...” ucap Cassia mengalungkan kedua tangannya di leher Niky dan menatapnya dengan mesra.


Cassia dan Niky duduk bersebelahan di depan komputer.


“klik...” Cassia komputer.


Gadis itu kemudian membuka neraca keuangan perusahaan yang dibuat selama delapan bulan terakhir.


“Kakak lihatlah ini...” ucap Cassia menarik lengan Niky mendekat padanya dan menunjukkan laporan keuangan itu padanya.


Niky membaca neraca keuangan yang ditunjukkan oleh Cassia padanya. Di laporan itu perusahaan Niky mengalami surplus di poin 0,8 % yang artinya performa nya meningkat dari sebelumnya.


“Ah sayang... aku benar-benar tak menduganya sama sekali. Kau memang berbakat menjalankan perusahaan.” celetuk Niky yang mengagumi kinerja Cassia.

__ADS_1


“Sayang...aku ingin membagi keuntungan ini dengan mu...” ucap Niky sambil mengecup kening Cassia.


“Kakak... aku rasa kau tidak perlu membagi hasil usahamu denganku.” jawab Cassia menolaknya sambil tersenyum.


Niky menatap Cassia yang tersenyum manis padanya. Alangkah naifnya jika dia tidak membagi hasil keuntungan nya itu dengan Cassia.


“Aku tak ingin kau punya pikiran jika aku memanfaatkan mu. Anggap saja aku membayar hutang pada mu. Karena sebelumnya kau sudah menghabiskan tabunganmu untukku.” balas Niky bersikeras dan memaksa karena dia harus tetap menjalankan misi awalnya.


Cassia pun tak bisa menolak permintaan Niky. Namun dia punya ide lain menyangkut hal itu.


“Baiklah kakak... aku akan menerimanya. Terima kasih...” balas Cassia lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Niky yang duduk di sebelahnya.


Niky mengeluarkan ponsel dari balik saku bajunya dan dia masuk ke aplikasi phone banking.


“Tik...tik...tik...” Niky mengetikkan sejumlah nominal angka sebesar nominal yang dulu pernah Cassia berikan padanya dan mengirimnya ke nomor rekening Cassia.


“Sayang... aku sudah mengirimnya padamu.” ucap Niky kemudian menaruh kembali ponselnya ke saku baju nya.


Cassia hanya mengangguk dan tersenyum, dia pun mencium bibir Niky dengan lembut sebagai ungkapan rasa terima kasihnya dan rasa cintanya yang begitu mendalam padanya.


“Kakak... bagaimana menurut kakak jika kita mendirikan satu perusahaan lagi ?” tanya Cassia setelah mengakhiri ciumannya.


“Aku juga mempunyai pikiran seperti itu sayang... ternyata kita sepemikiran. Kita bisa diskusikan itu nanti. Sekarang aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu.” ucap Niky tersenyum lebar lalu mana itu Bekasi ya dan membawanya dalam pangkuannya.


Niky mencium bibir Cassia dengan bergairah dan mulai mencium turun ke lehernya.


“Kakak... kita ada di kantor saat ini. Tahan dulu sampai kita pulang ke rumah.” ucap Cassia menyentuh bibir Niky.


“Siapa bilang kita harus pulang ke rumah. Di sini ada ruangan khusus yang sudah aku siapkan untuk istirahat selama di kantor dan di sana tak ada CCTV.” jawab Niky berdiri dan menggendong Cassia.

__ADS_1


Niky berjalan masuk ke ruangan kecil di samping tempat mereka duduk tadi kemudian menutup pintunya dan menguncinya rapat-rapat. Mereka berdua melepas kerinduan di ruangan itu setelah lama tidak bertemu.


BERSAMBUNG....


__ADS_2