
Niky menatap jalanan yang ada di depannya dengan tatapan kosong. Dia masih kecewa dengan penolakan dari Sahabat Group.
“Semoga saja di perusahaan berikutnya aku tidak mendapatkan penolakan lagi.” gumamnya sambil mengembuskan nafas dengan berat.
Berapa saat kemudian Niky tiba di perusahaan lain, di Mandala Group. Dia lakukan hal yang sama seperti yang dilakukan sebelumnya di Sahabat Group.
Lelaki itu segera masuk ke perusahaan itu dan menyampaikan maksud kedatangannya. Dia kembali menemui resepsionis dan mengutarakan maksudnya.
“Permisi... saya dari Atmaja Group mau menanyakan tentang proposal proyek Wonderland.” ucapnya pada petugas resepsionis yang ada di sana.
“Oh baik... mohon ditunggu sebentar. Silakan duduk dulu.” jawab petugas resepsionis yang ada di sana.
Niky kemudian duduk di kursi yang ada di lobby dan menunggu kabar selanjutnya.
Tampak petugas resepsionis mengangkat dengan telepon yang ada di depannya dan menghubungi seseorang. Beberapa saat kemudian petugas resepsionis menghampiri Niky dan menyampaikan sesuatu.
“Permisi... silahkan ikut saya ke ruang tamu, sebentar lagi akan ada Bu Adira yang akan menemui anda.” ucap petugas resepsionis itu kemudian berjalan menuju ke ruang tamu dan Niky mengikutinya lalu menunggu di sana.
Tak beberapa lama kemudian datanglah seorang wanita berusia tiga puluhan tahunan masuk ke ruang itu. Seorang wanita bertubuh seksi dan masih terlihat muda juga menawan.
“Siang saudara Niky... aku Adira.” ucapan Ita itu tersenyum sambil menjabat tangan Niky kemudian duduk.
Wanita itu terlihat tidak suka berasa-basi dan langsung ke inti permasalahan sebelum Niky bertanya padanya.
“Jadi saudara Niky... aku sudah membaca proposal proyek Wonderland sebelumnya dan sudah membahasnya dengan para direksi.” ucap wanita itu lagi dan Mengapa bernafas untuk melanjutkan perkataannya.
“Ya...” jawab Niky berharap proposal Wonderland diterima.
“Direktur Utama perusahaan ini tertarik pada proyek itu, namun belum ada jawaban lagi di terima tidaknya, tapi setahuku Direktur Utama terus aja menandatangani proyek dengan perusahaan lain.” jelas wanita itu lagi pada Niky.
“Jadi... maksud ibu proposal proposal Wonderland di tolak ?” balasnya menyimpulkan sendiri.
“Ehm... bukan begitu maksudnya. Direktur utama belum memberikan jawaban fix nya.” ucap wanita itu lagi menjelaskan pada Niky.
“Baiklah terima kasih kalau begitu. Aku harap segera mendapatkan jawaban positif dari direktur utama Atmaja Group.” balas Niky dengan rasa kecewa karena masih di gantung dan belum ada kejelasan.
__ADS_1
Setelah tak ada yang perlu dibicarakan lagi Niky keluar dari ruang tamu dan berjalan dengan gontai menuju ke maserati putihnya.
“Kenapa mereka menolak tawaran ini... apa ada yang kurang dengan konsep yang ku tawarkan ?” gumamnya saat di mobil dan memutar setirnya menuju ke perusahaan berikutnya.
“Semoga saja kali ini Acc...” batinnya setelah tiba di perusahaan Cosmo Group.
Tampak Niky yang sebenarnya merasa tidak bersemangat mencoba optimis dan melangkah masuk ke perusahaan itu.
“tap... tap...” Tampak Niky keluar dari perusahaan Itu dengan langkah gontai menuju ke maserati putihnya kembali.
Wajahnya tampak lelah setelah keluar dari sana. untuk beberapa saat dia bersandar di kursi mobilnya sebelum melajukan nya ke jalanan.
“Argh... sial... hari ini aku mendapatkan penolakan tiga kali. Lalu bagaimana dengan calon investor lainnya...” keluhnya membanting keras tubuhnya ke kursi.
Lelaki itu merasakan perutnya terasa perih di siang hari mendekati jam makan siang. Namun nafsu makannya hilang setelah hari ini gagal mendapatkan investor baru untuk proyek Wonderland.
“broom...” Niky terus melajukan mobilnya meskipun barusan melewati Rumah Makan Bambu Kuning, tempat dirinya biasa makan siang bersama dengan Selly.
“ckiit...” Niky berhenti di tempat parkir di kantor tempatnya bekerja. Dia lalu keluar dari maserati putihnya dan berjalan menuju ke kantin sebelum jam istirahat dan makin banyak yang berada di sana.
“Kira-kira apa ya... yang harus kulakukan agar mereka tidak menolak menjadi investor proyek Wonderland....” gumamnya sambil mengetukkan jari-jarinya kemeja.
beberapa saat kemudian makanan yang dipesan Niky datang. Dia melirik jam tangannya lalu segera menghabiskan makanan yang ada di meja dengan cepat sebelum yang lain datang ke kantin.
“Berapa bu...” tanya Niky pada ibu kantin setelah selesai makan.
Ibu kantin menyebutkan sejumlah nominal dan Niky membayarnya. Tepat saat dia melangkah keluar dari kantin, staf lain pada masuk ke kantin itu.
“Hah... untunglah aku sudah selesai makan.” batinnya menetap banyak tapi yang masuk dan memesan makan di sana.
“Sekarang aku bisa beristirahat sejenak...” gumamnya lalu masukkan maserati putih dan merebahkan diri di sana, memejamkan mata untuk beberapa saat.
“ding... ding... ding...”
Niky menyetel alarm dari ponselnya. Dia pun terbangun setelah mendengar alarm nya berbunyi.
__ADS_1
“Sudah saatnya aku kembali ke ruangan.” gumamnya lalu mengambil ponsel untuk mematikan alarm nya dan segera keluar dari mobil.
Niky duduk di kursinya dan menoleh ke samping. Tak ada suara, semua tampak menatap layar laptopnya masing-masing dengan muka serius.
Baru saja Niky menyalakan laptopnya telepon yang ada di mejanya berdering.
“kring... kring...” Niky segera mengangkat telepon yang berdering.
“Ya halo...” ucap Niky setelah mengangkatnya.
“Niky... bagaimana dengan perkembangan proyek Wonderland ? maksudku selama dua bulan ini sudah ada beberapa investor yang mau berinvestasi pada proyek itu ?” tanya nya pada Niky.
“Oh Bu Sherli....” jawab Niky terkejut saat mendengar suara itu ternyata dari Sherli.
“Sampai saat ini aku baru mendapatkan empat investor bu...” jawabnya dengan intonasi pelan karena merasa tidak percaya diri.
Sherli dalam hati mengagumi kinerja Niky, namun dia tak ingin membuat lelaki itu besar kepala dan tidak memberinya pujian.
“Niky... aku menetapkan target untuk mu. Maksimal dalam empat bulan ke depan harus dapat minimal 75% dari jumlah investor yang telah ditetapkan. Dan sebelum sampai 12 bulan proyek ini harus sudah berjalan.” ucapnya sambil tersenyum.
Niky seketika langsung berkeringat dan mukanya menjadi pucat mendengar deadline yang ditetapkan oleh pimpinan nya dan membuatnya susah bernafas.
“Niky... kau masih di sana ?” tanya Sherli karena tak mendengar suara ataupun jawaban dari Niky.
“Ya-ya... tentu saja bu Sherli...aku akan berusaha semaksimal mungkin dan Kakak selesai sebelum deadline-nya.” jawabnya yang merasa ragu sambil menelan ludah ya karena merasa berat.
“Baik kalau begitu aku tunggu kabar selanjutnya dari mu...” ucap Sherli lalu menutup telepon.
Wanita itu tampak tersenyum lebar pada progres yang dibuat oleh Niky.
“Sebentar lagi aku akan naik jabatan...” gumamnya lalu duduk bersandar di kursinya untuk bersantai.
Sementara itu Niky tampak kusut. tiba-tiba kepalanya terasa berat seperti kejatuhan batu beton yang membuatnya susah berpikir dan mencari ide. Pikirannya stuck meskipun dia sudah berusaha keras untuk berpikir mencari strategi dan jalan keluarnya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1