
Niky masih memandangi nyala cahaya yang berpendar redup di sana dengan beberapa nyala lilin yang menghiasi malam itu.
Suasana tampak canggung hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang berada dengan piring saat Niky menyantap pesanan yang ada di hadapannya.
“Niky... aku tulus meminta maaf padamu...” ucap Sisca di ditengah keheningan untuk mencairkan suasana yang tegang.
Niky menaruh sendok dan garpu yang dipegangnya ke piring, lalu menatap wanita yang duduk di hadapannya dengan mata yang tampak berair.
“Apa benar dia menyadari kesalahannya padaku...”batik Niky menatap mata Sisca yang laksana mendung kala itu dan membuatnya sedikit tersentuh hingga dia mau berbicara pada wanita itu.
“Ya... nona Sisca... aku harap tidak akan terjadi hal seperti itu lagi.” jawab Niky datar.
Sejenak dia menatap wanita di depannya yang tampak cantik dan memukau seperti hari sebelumnya.
“glek...” Niky menelan ludah saat mengagumi kecantikan wanita itu dan segera mengalihkan pandangannya dan memegang kembali sendok beserta garpu yang tadi ditaruhnya ke piring.
“Ya... aku janji hal seperti itu tidak akan terulang lagi. Dan aku tak akan mengambil keuntungan dari mu tanpa kau sadari.” jawab Sisca yang tiba-tiba tersenyum menatap Niky dan terus memandanginya, mengagumi sosok lelaki di depannya yang tak hanya tampak memukau dari penampilan tapi juga hot saat di ranjang.
Niky mengangguk menatap wanita itu dan kembali menyantap makanannya yang tinggal sedikit.
“Bagaimana kelanjutan proyek Wonderland ?” tanya Sisca pada Niky memulai pembicaraan.
“Aku masih mencari investor lain untuk berinvestasi di proyek itu agar segera bisa berjalan.” jawab Niky yang tampak sudah tidak secanggung sebelumnya.
“Apa kau butuh bantuan ku... ?” tanya Sisca menawarkan bantuan padanya. Niky tampak diam dan memikirkan perkataan Sisca.
“Apa benar wanita ini bisa membantuku ?” batinnya yang merasa senang sekali namun dia menyembunyikan nya dari Sisca dan tetap mempertahankan raut muka datar nya.
“Apa kau tulus membantuku... atau kau meminta imbalan padaku ?” tanyanya dengan tatapan menyelidik menatap wanita itu untuk mencari maksud perkataannya yang tersirat.
Sisca tersenyum menatap lelaki di depannya.
“Aku mau membantumu asal kau juga mau membantuku...” ucapnya tersenyum sambil mengedipkan mata sebelah kirinya yang menyebabkan Niky mengerutkan dahinya.
“Ouh... ku harap itu bukan semacam keterikatan ...” jawab Niky terus terang.
“Emm... tentu saja aku mau membantumu bahkan aku juga bisa membantumu dalam masalah finansial jika kau mau jadi... sugar baby ku...” jawab wanita itu memelankan suaranya sambil tersenyum lebar dan memegang tangan Niky.
__ADS_1
“Tidak... aku tidak bisa...” tolak Niky sambil menarik tangannya dari genggaman tangan Sisca.
Sisca berdiri di samping Niky dan menaruh tangannya di bahu lelaki itu lalu merendahkan tubuhnya.
“Kau mau berapa...30 juta per malam ?” tanya Sisca berbisik di telinga Niky.
“Tidak... aku tidak mau...” tolak Niky berusaha menahan dirinya agar tidak tergoda oleh sejumlah nominal. Melihat Niky yang menolaknya, wanita itu kembali menawarkan sejumlah nominal padanya.
“40 jt... ?!” bisik Sisca di telinga Niky lagi dan lelaki itu masih menggelengkan kepalanya.
“50 jt...?!” bisik Sisca lagi yang masih tak menyerah dan menaikkan tarif.
Terlihat Niky tampak bimbang dengan nominal yang barusan disebutkan oleh wanita itu.
“Dengan uang segitu aku bisa cepat merealisasikan misi utama ku untuk menghancurkan Wardana.” batik Niky setelah berpikir. Perang batin mulai terjadi dalam dirinya dan dia tidak bisa memutuskannya.
“Ambil saja...butuh waktu berapa lama jika kau tak negara mempunyai banyak modal ?” bisikan hati Niky dalam pikirannya.
“Jangan... lebih baik kau mengumpulkan uang dari hasil jerih payah mu.” bisikan lain hati Niky.
“Ya...” jawab Niky seketika tanpa dia sadari. Seketika Sisca tampak tersenyum lebar dan kembali ke tempat duduknya.
“Dealt....” jawab Sisca lalu menengah bisa minuman yang ada di depannya.
Raut muka Niky ketika tampak pucat pasti pada apa yang diucapkannya secara tak sadar.
“Ah tidak... tidak... aku tidak mau.” jawab Niky lagi berusaha menolak secara tegas.
“Kau tak bisa menarik lagi ucapan mu. Kau akan tahu akibatnya jika kau berani mengingkari janjimu padaku.” ucap Sisca merespon Niky dengan mencoba mengancamnya yang membuat Niky tak bisa berkutik lagi dan terpaksa menuruti permintaan dari Sisca.
Beberapa jam kemudian makan malam selesai. Tampak Sisca berjalan keluar dari tempat mereka makan tadi dan sekarang menggiring Niky masuk ke sebuah kamar yang sudah dia booking sebelumnya.
“Argh... kenapa jadi begini...” gumam Niky merasa kesal pada dirinya yang berada pada situasi seperti itu sambil duduk di kursi dalam kamar hotel.
Sisca melihat Niky yang tampak bicara sendiri dan kelihatan kusut lalu mendekatinya.
“Niky....bila kau merasa gerah sebaiknya kau mandi terlebih dahulu.” ucap Sisca sambil tersenyum dan menyentuh dada bidang Niky dimana Niky hanya diam saja menatap wanita itu tanpa bisa berkata-kata.
__ADS_1
“Aku rasa otakku panas dan hampir meledak. Sebaiknya aku mendinginkan kepala dulu di bawah shower.” batin Niky yang kemudian berdiri dan masuk ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi dia segera menyalakan shower dan berdiri di bawahnya.
“Splash...” Air terasa segar mengalir dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya merilekskan otot di sekujur tubuhnya yang terasa kaku. Dia mulai merasakan kepalanya menjadi dingin dan jernih daripada sebelumnya.
Satu jam berlalu dan iki masih belum keluar juga dari dalam kamar mandi. Sisca yang sudah lelah menunggu menyusul masuk ke kamar mandi.
“kriek...” Niky melihat Sisca masuk ke dalam kamar mandi. Dengan cepat dia pun segera mengambil handuk untuk mengeringkan dan menutupi tubuhnya.
“Apa yang kau lakukan disini... ?” tanya Niky berjalan keluar ke arah pintu namun Sisca menghalanginya dan menariknya kembali ke bawah shower.
Tubuh Sisca jadi basah kuyup di bawah guyuran shower. Dia pun melepas bajunya.
“Apa yang kau lakukan...” ucap Niky menolak dan menutup matanya.
“Kau tidak bisa mengingkari kata-kata mu...” Sisca menarik Niky dalam dekapannya. Wanita itu mulai mencium Niky dan mendekapnya erat.
Niky merasa kesal pada tingkah Sisca dan membalas ciumannya dengan kasar saat darah kelelakian nya bergejolak tinggi.
Dan terdengarlah ******* yang teredam oleh derasnya shower di kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Sisca keluar dari kamar mandi setelah mengenakan handuk kering untuk menutupi tubuhnya. Sedangkan Niky kembali membasahi tubuhnya dengan shower untuk membersihkan tubuhnya yang terasa kotor.
Beberapa saat kemudian Niky pun keluar dari kamar mandi yang sudah memakai baju lengkap.
“Aku mau pulang dulu...” ucap Niky yang tak mau berlama-lama disana pada Sisca.
“Cek ponsel mu aku sudah mengirimnya.” jawab Sisca tersenyum.
Sementara itu Niky hanya mengangguk dan langsung keluar dari kamar hotel itu tanpa memeriksa ponselnya terlebih dulu.
Sisca merebahkan badannya di tempat tidur dan beberapa saat kemudian wanita itu sudah tertidur pulas.
Sementara itu Niky perjalanan ke tempat parkir dan segera memacu mobilnya setelah masuk. Di dalam mobil, dia membuka ponselnya dan melihat saldo di rekeningnya yang semakin gendut. Lelaki itu lalu menghilang di tengah malam dan pulang ke rumah ibu dan dua adiknya berada.
BERSAMBUNG...
__ADS_1