Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 66 Telepon Dari Cassia


__ADS_3

Niky benar-benar menghabiskan waktu luangnya di rumah bersama keluarga. Dua jam kemudian Niky keluar dari kamarnya dengan memakai pakaian santai dan casual khas anak muda.


Dia menghampiri kedua adik dan ibunya yang berada di ruang tengah sedang duduk santai.


“Ibu... Devan... Fiona... ayo kita jalan-jalan. Hari ini Kalian bertiga boleh minta apapun. Kalian boleh meminta pergi kemanapun yang kalian mau.” ucap Niky saat berdiri di depan mereka bertiga.


“Benarkah itu kakak ?” tanya Fiona langsung berdiri dari sofa dan terlihat senang sekali.


Devan yang dari tadi menunggu kakaknya juga ikut senang dan langsung memegang tangan iki dan mengajaknya segera keluar dari rumah.


“Niky... jika punya emang lebih seram ibu di tabung saja...tak perlu menghambur-hamburkan uang seperti itu. Kondisi kita juga sekarang berbeda dengan yang dulu.” ucap Ibunya menasehati putranya agar lebih bijak menggunakan uang di saat kondisi kurang baik seperti ini.


“Tenang saja ibu... aku ada rezeki lebih. Ibu tak perlu khawatir... karena beberapa waktu yang lalu aku naik jabatan.”ucap Niky yang melihat ibunya yang tak suka jika dirinya mengeluarkan uang berlebih hanya untuk satu hal yang kecil atau tidak penting.


Raut muka ibu seketika berubah menjadi ceria setelah mendengar pernyataan lelaki itu yang naik jabatan.


“Benarkah kau naik jabatan ?” tanya ibunya tak percaya.


“Benar bu...” jawab Niky singkat sambil tersenyum.


“Tapi kurasa meskipun kau naik jabatan dan punya penghasilan lebih menurut Ibu tak perlu mengajak kami jalan-jalan dan mengambilkan uang untuk bersenang-senang.” ujar ibunya yang tampak masih berat hati pergi bersama Niky.


Niky yang merasa jarang pulang dan tak punya banyak waktu untuk mereka bertiga terus mendesak.


“Ibu... kurasa tak masalah jika hanya sesekali saja dan tidak setiap hari seperti ini, ayolah ibu...” ucap Niky membujuk ibunya.


“Iya ibu... kita sudah lama tidak jalan-jalan bu... kami ingin pergi... ibu ikut juga ya...” ucap Fiona dan Devan persamaan menarik ibunya yang masih duduk.


Melihat kedua anak itu yang antusias, ibu pun tak tega menolaknya dan akhirnya setuju ikut mereka bertiga.


“Ayo kita berangkat sekarang...” ajak Niky dan segera bergegas masuk ke maserati putihnya dan ketiga orang lainnya mengikutinya masuk ke mobil.


“broom.... !” Niky menyalakan mobilnya dan meluncur di jalanan.


“Kau mau kakak antar ke mana Fiona... Devan ?” tanya Niky menoleh ke belakang menatap mereka berdua.


Fiona dan Devan saling berpandangan, bingung untuk menjawabnya karena banyak tempat yang ingin mereka kunjungi.


“Terserah kakak saja kami berdua ngikut.” jawab Fiona dan Devan bersamaan.

__ADS_1


“Oh... ya sudah kalau begitu kita pergi ke tempat wisata terdekat di daerah sini saja.” jawabnya Niky kembali menatap ke depan sambil memperhatikan jalan yang ramai.


Setelah tiga puluh menit berada di jalanan bikin melihat suatu tempat wisata yang tampak ramai dan di padati oleh pengunjung di hari libur akhir pekan.


“Baiklah kita ke sini saja ya...” ucap Niky berhenti di sebuah tempat wisata alam. Ibu dan dua adiknya segera turun dari mobil dan mengikutinya berjalan masuk.


“wisata Gunung Galunggung....” ucap Devan yang berjalan memasuki pintu masuk wahana wisata itu sambil menggandeng tangan ibu dan kakaknya.


Di tempat wisata itu terlihat Asri dengan banyak pepohonan yang tumbuh di sekitar area wisata. Angin pagi berhembus segar menerpa tubuh.


Di tempat wisata itu juga terdapat sanatorium bunga anggrek yang terletak di kaki gunung. Di sisi barat gunung terdapat tangga yang tersusun secara rapi melingkari sisi gunung sampai ke puncak. Di tempat yang jauh dari gunung juga terdapat Flying fox bagi yang ingin menguji nyalinya.


“Kakak kita kemana dulu...?” tanya Devan pada Niky di tengah padatnya pengunjung.


“Kakak aku ingin pergi ke sanatorium dulu bersama ibu.” jawab Fiona.


“Aku ingin naik ke gunung, kak.” jawab Devan.


Niky menatap kedua adiknya yang tak mau mengalah dan dia pun memutuskan.


“Kalau begitu Fiona pergi dengan ibu ke sanatorium sedangkan aku akan menemani depan naik ke gunung.” jawabnya sambil memegangi Devan yang tak sabar ingin segera menaiki gunung.


Mereka pun akhirnya berpencar. Devan menapakkan kakinya dengan semangat di tangga yang terdapat di sisi gunung. Niky mengikuti Devan dan menapakkan kakinya di tangga, menaiki gunung.


“Dari sini pemandangannya indah sekali Kak...” ucap Devan menoleh ke belakang sambil tersenyum lebar menyaksikan pemandangan di sekitarnya. Niky hanya mengangguk dan merasa senang bisa membuat adiknya tersenyum.


Di tengah pendakian ponsel Niky berdering tanpa henti.


“Kring... kring...” Niky segera mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan mengangkat telepon.


“Mister Big... nanti sore malam aku tunggu kau di tempat biasanya.” ucap seorang wanita dari telepon.


“Hey... aku tidak bisa. Aku sedang ada di rumah berkumpul bersama keluarga di akhir pekan.” jawab Niky sambil menaiki tangga pelan-pelan.


“Oke Mr. Big.... sampai jumpa minggu depan.” balas seorang wanita dari telepon mengakhiri percakapan mereka.


Baru menaiki tiga tangga ponsel Niki berdering kembali setelah dia memasukkannya ke dalam saku.


“Kring.... kring...” Niky merogoh saku bajunya dan mengeluarkan kembali ponselnya.

__ADS_1


“Halo... Mr. Charming... nanti malam kita ketemu di hotel shangri-la ya...” suara seorang wanita dari telepon.


“Aku sedang ada di luar kota hari ini. Aku ada acara bersama keluargaku, aku tidak bisa...” jawab Niky sebelum mengakhiri panggilan.


Baru saja panggilan berakhir ponsel Niky kembali berdering.


“Siapa lagi sih ini...” gerutu Niky kembali mengangkat ponselnya dengan kesal.


“Mr. Wow... aku menunggumu sekarang di villa biasanya.” ucap seorang wanita dari ponsel.


“Aku tidak bisa... aku ada acara di luar kota bersama keluargaku.” jawab Niky singkat dan beberapa saat kemudian panggilan mereka berakhir.


“Kakak... banyak sekali yang menelepon kakak... ?” tanya Devan menoleh ke belakang setelah mendengar banyak panggilan masuk di ponsel Niky.


“Ya... mereka adalah temanku. Abaikan saja mereka semua.” jawab Niky memasukkan kembali ponselnya ke saku bajunya.


Lima menit kemudian ponselnya kembali berdering. Dan lelaki itu tampak jengah mengangkatnya.


“Kring... kring...” Niky mengangkat ponselnya dengan malas dan langsung menjawabnya tanpa melihat siapa penelpon nya.


“Sudah kubilang aku ada di luar kota... !” jawab Niky menerima telepon dengan nada kesal.


“Kakak Niky ini aku Cassia... maaf aku mengganggumu ya...” ucap Cassia dengan lembut.


Seketika Niky merasa bersalah karena menjawabnya dengan nada agak tinggi dan mengira telepon itu dari customer rutinnya.


“Oh... Cass... Cassia... maaf... ku kira siapa...” jawab Niky terbata-bata karena merasa tak enak hati pada gadis itu.


“Kakak Niky sedang berada di luar sekarang ?” tanya Cassia lagi.


Niky berhenti sejenak untuk menerima panggilan dari Cassia.


“Kakak kenapa berhenti... ?” tanya Devan saat menoleh ke belakang dan melihatnya berhenti sambil mengangkat telepon.


“Kau jalan duluan saja Devan, kakak mau terima telepon sebentar.” ucap Niky pada adiknya.


Devan melihat Niky sambil tersenyum setelah mendengar kakaknya mendapat telepon dari seorang wanita lagi. Dia pun kembali menaiki tangga meninggalkan kakaknya yang dia pikir sedang mendapat telepon dari kekasihnya.


Sementara itu Niky terlihat masih bercakap-cakap dengan Cassia melalui telepon dan sesekali lelaki itu tampak tersenyum sendiri.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2