
Beberapa saat kemudian Wardana melihat langsung ke lokasi perusahaan yang disangkanya adalah milik Cassia untuk memastikan nya.
Mobil hitam berhenti agak jauh dari perusahaan itu.
“Buka jendelanya aku ingin melihat lebih jelas lagi.” ucap Wardana memerintahkan sopirnya dan aku aku nggak tahu sang sopir segera membuka kaca jendela mobil.
Wardana melihat dengan jelas gedung megah dengan mata kepalanya sendiri. Dia tersenyum menatap nya saat melihat mobil Cassia terparkir di depan gedung.
“Ayo jalan...” ucap Wardana memerintah lagi sopirnya.
“Baik tuan...” sang sopir menutup kembali kaca mobil dan melajukan kembali mobilnya di jalanan menuju ke kantor Wardana.
Dua minggu kemudian saat Wardana sedang ada di rumah dan tak ada jadwal keluar kota, lelaki itu sengaja tak keluar kemanapun untuk menunggu Cassia datang.
Siang hari Cassia keluar dari kampus dan mengendarai mobil kuning menuju ke rumah.
“Ada mobil Ayah di rumah...” batin Cassia yang melihat mobil Ayahnya terparkir di luar karena tak biasanya lelaki itu berada lama di rumah lebih dari tiga hari.
“brak...” Cassia menutup kembali pintu mobil setelah keluar dari mobil. Gadis itu jalan masuk ke rumah tanpa punya pikiran apapun pada ayahnya dan dia juga tidak tahu jika ayahnya sudah menunggunya dari tadi.
Cassia berjalan melewati ruang tengah. Dia berhenti saat melihat ayahnya duduk di sofa membaca sebuah koran.
“Ayah... apa hari ini tak ada jadwal ke luar kota ?” tanya Cassia menyapa ayahnya.
__ADS_1
“Hari ini ayah free... tak ada jadwal. Ayah merasa capek dari yang istirahat sebentar di rumah.” balas Wardana sambil menutup koran yang dia baca dan menaruhnya ke kursi.
Cassia hanya mengangguk dan tersenyum dia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.
“Nak...” panggil Wardana.
Cassia menoleh ke arah ayahnya dan berhenti.
“Ya ayah...” balasnya singkat.
“Duduk lah di sini sebentar ada yang ingin ku bicarakan dengan mu.” ucap Wardana memanggil Cassia untuk duduk bersamanya.
Gadis itu menuruti perintah ayahnya dan duduk di sebelahnya dan tidak tahu apa yang sebenarnya lelaki tua itu mau bahas dengan nya.
“Bagaimana ayah bisa tahu hal itu ? Celakalah aku jika dia tahu aku mengalokasikan sebagian besar tabunganku untuk perusahaan orang lain.” batin gadis itu ketakutan sendiri jika ayahnya akan memarahinya atau lebih parah lagi yaitu memberikan hukuman padanya.
“Itu...” jawab Cassia ragu dan takut untuk mengucapkannya.
“Ayah senang sekali ternyata kau melebihi ekspektasi ayah dan mandiri.” balas Wardana yang membuat garis itu tampak lega karena tidak memarahi nya.
“Untung saja Ayah tidak tahu jika itu bukanlah perusahaan ku...” batin Cassia sambil tersenyum kecil di depan ayahnya.
“Satu lagi Ayah bangga padamu karena di usiamu yang masih semuda ini kau bisa membuat perusahaan baru menduduki top chart 20...” ucap lagi itu menyambung perkataannya sedangkan Cassia kembali tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya.
__ADS_1
“Ayah akan terus memantau perkembangan perusahaan mu itu. Jika memang bagus kedepannya mungkin Ayah apa membantumu.” ucap Wardana sambil tersenyum lebar.
“Apa... ayah mau membantuku... aku tak ingin hal itu sampai terjadi...” batin Cassia seketika sok mendengar ucapan ayahnya barusan.
“Ayah... kurasa ayah tak perlu membantuku. Aku...sebenarnya itu... ” balas Cassia menolak tawaran ayahnya dan berusaha menjelaskannya. Namun Wardana yang sudah terlanjur salah paham tak mendengar perkataannya.
“Sudahlah nak... kau tak perlu sungkan seperti itu. Ku harap kau bekerja lebih baik dan tunjukkan pada ayah mu ini jika benar-benar berkompeten seperti ayah. setidaknya kau bisa menyamai kedudukan salah satu pekerjaan ayah atau lebih baik lagi jika kau bisa mengungguli nya.” balas Wardana tersenyum lebar.
Cassia hanya diam saja dan tak mengucapkan sepatah kata pun karena dia tahu watak ayahnya yang tak bisa diganggu gugat keputusan nya. Percuma saja jika dia berusaha keras untuk melawannya tapi ayahnya tetap teguh pada pendiriannya.
“Ayah sangat berharap sekali padamu... tunjukkan bakat mu dan kemampuan mu selama ini padaku.” ucap lelaki itu lagi dengan mata berkilat-kilat karena dia yakin jika putrinya suatu saat akan melebihi dirinya dan bisa meneruskan perusahaannya.
Tiga puluh menit kemudian setelah tak ada yang mereka bahas Cassia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
“Ayah... boleh aku istirahat sebentar di kamar ?” tanyanya pada Wardana.
“Ya tentu saja...” balas Wardana.
Cassia berdiri dan berjalan masuk ke kamarnya. Sementara Wardana kembali membuka koran yang dia lipat tadi dan membacanya lagi.
Di dalam kamar Cassia merebahkan dirinya di tempat tidur. Dia bingung dan dilema apakah harus mengatakan yang sebenarnya pada ayahnya sekarang jika perusahaan itu bukan miliknya. Namun dia juga takut pada kemarahan ayahnya jika lelaki itu sampai tahu misalnya itu milik orang lain dan dirinya banyak membantu membiayainya.
Cassia yang merasa pusing dengan hal itu mencoba untuk menaruh sejenak semua masalahnya dan memejamkan matanya untuk melepas penat setelah seharian beraktivitas di kampus.
__ADS_1
BERSAMBUNG....