
Sore harinya Niky pulang kantor dengan wajah ceria dan senyum tersungging di bibirnya. Tak Berapa lama kemudian dia tiba di rumah.
“tap... tap... tap...” Suara langkah kaki Niky memasuki rumah setelah mematikan mesin mobilnya.
Di dalam rumah dia berjalan menuju ke kamar Cassia.
“Sayang... Cassia...!” ucap Niky memanggil gadis itu sambil mengedarkan pandangan ke kamar Cassia untuk mencarinya, namun gadis itu tak ada di sana.
“Kemana ya Cassia... apa dia ada di lantai atas ?” batinnya lalu bergegas menaiki tangga menuju ke lantai dua.
Niky melihat ke sekitar dan ternyata di sana kosong, tak ada siapapun. Dia pun akhirnya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Cassia.
“kring... kring... kring...”
“Halo... kakak Niky... ada apa... ?” tanya Cassia setelah mengangkat teleponnya.
“Sayang... aku mencari mu ke mana-mana di rumah tapi tidak menemukan mu. Kau ada di mana ?” tanya Niky yang berjalan ke balkon dan menatap ke bawah.
“Aku sedang di kampus kak, sekarang...”jawab Cassia sambil berjalan menjauh dari keramaian para temannya di dalam kelas.
“Oh.. ya sudah jika begitu... ku kira kau ada di Dream Fantasy.” balas Niky yang sedikit merasa kecewa karena hari ini tak bertemu dengannya.
“Besok mungkin kak... aku akan ke Dream Fantasy.” jawab Cassia sambil menoleh kembali ke belakang dan melihat seorang dosen berjalan masuk ke kelasnya.
Setelah panggilan berakhir Gadis itu segera berlari masuk ke kelasnya sebelum dosen yang mengajar masuk lebih dulu daripada dirinya.
__ADS_1
“Sayang sekali... padahal aku bermaksud mengajaknya ke suatu tempat sebagai traktiran aku naik jabatan.” gumamnya lirih lalu berjalan menuruni tangga dan masuk ke kamar nya dan merebahkan diri sejenak di sana.
Beberapa hari setelahnya di lain tempat Wardana mengirim beberapa orang untuk melakukan penyelidikan setelah mendapat sedikit laporan tentang Wonderland dari stafnya.
Dua orang lelaki yang menyamar sebagai warga biasa menuju ke Wonderland untuk memantau kondisi di sana.
“Tolong dua tiket masuk...” ucap salah seorang lelaki memesan tiket di depan loket sambil menatap ke sekeliling dan melihat keramaian di sana.
Dua orang lelaki tadi masuk ke Wonderland setelah menyerahkan tiket pada petugas pemeriksa tiket. Sesampainya di dalam, mereka berdua berkeliling dari satu wahana wahana lainnya ada di sana.
“cekrek... cekrek... cekrek...” salah satu dari utusan Wardana tadi mengambil beberapa foto di tiap wahana yang ada di sana, juga keramaian pengunjung yang ada di sana.
“Coba kirim foto itu sekarang ke tuan Wardana.” ucap salah satu utusan Wardana pada rekannya.
Lelaki yang memotret wahana di Wonderland segera mengirimkan semua gambar foto itu pada Wardana.
Di suatu tempat Wardana sedang duduk di kursi. Dia langsung mengambil ponselnya yang ia taruh di meja kerja saat mendengar ada nada pesan masuk.
“klik... klik... klik...” Wardana langsung membuka pesan jadi anak buahnya dan seketika alisnya tertekuk setelah melihat banyak foto tentang Wonderland.
“Apa ini.... ?” gumamnya melihat dan memeriksa satu persatu foto kiriman utusannya. Dia pun semakin bertambah marah setelah melihat wahana yang ada di sana lebih menarik dari wahana yang ada di Dream Fantasy.
“Aku tak boleh membiarkannya seperti ini.” gumam lelaki itu sambil melempar ponselnya kemeja.
Dia pun menghubungi sekretarisnya dan berpesan pada seluruh staf agar meliputi meeting yang akan diadakan sepuluh menit lagi dari sekarang untuk melakukan diskusi dan menentukan tindakan yang diambil untuk mengatasi problem Dream Fantasy.
__ADS_1
Beberapa hari berlalu. Wardana melakukan aksi untuk menarik kembali pengunjung ke Wahana Dream Fantasy dengan berbagai cara. Salah satunya dengan memberikan diskon 30% pada para pengunjung di akhir pekan.
Beberapa staf Wardana terjun langsung ke lapangan untuk mengawasi program diskon itu.
Setelah jumlah pengunjung yang mengantri tiket di loket sudah berkurang salah satu staf datang ke sana.
“Bagaimana penjualan tiket hari ini... ?” tanya salah satu staf pada petugas loket.
“Untuk penjualan tiket sampai sore ini Lanjutkan jika jumlah pengunjung meningkat 10% setelah program diskon diluncurkan.” jawab petugas loket tadi menjelaskan sambil melihat rekap data penjualan tiket hari ini.
Staf Wardana tadi kembali menghampiri rekannya yang menunggunya di depan pintu masuk Dream Fantasy dan memberikan laporan yang diberikan oleh petugas loket tadi.
“kring... kring... kring...” staf tadi menghubungi nomor Wardana untuk memberitahukan situasi di sana saat ini.
“Ya halo... gimana Nuel apa ada berita baik untuk ku ?” ucap Wardana tak sabar mendengar kabar baik dari stafnya.
“Tuan Wardana... kami sudah melakukan memantau keadaan di sini selama seharian penuh dan jumlah pengunjung meningkat 10% setelah adanya program diskon.” ucap staf itu menjelaskan apa adanya yang ada di lapangan saat ini.
“Baik.... laporan mu ku terima. Tunggu perintahku selanjutnya !” ucap lelaki itu kemudian segera menutup teleponnya.
Beberapa hari setelahnya Wardana sering melakukan meeting untuk melakukan inovasi ataupun lainnya agar Dream Fantasy kembali ramai seperti sebelumnya.
Beberapa kali pihak Dream Fantasy melakukan perubahan manajemen dan memperbaiki beberapa hal yang menurut mereka kurang, juga menambah satu lagi wahana baru namun ternyata itu hanya bisa menarik 5% saja jumlah pengunjung ke wahana mereka dan hal itu membuat Wardana sama sekali tidak puas.
Wardana pun tampak berpikir keras mencari cara bagaimana agar Wonderland kembali ramai seperti sebelumnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....