
Walaupun baru sekali bertemu dengan Selly, Niky bisa mengingat dengan jelas postur tubuh wanita seksi itu meski dari belakang.
Untuk menepis rasa penasarannya dia pun berjalan menuju kemeja wanita itu duduk.
“Siang...” sapa Niky pada wanita itu yang kemudian menoleh padanya.
“Niky....!” jawab wanita itu dan ternyata memang benar Selly.
“Bu Selly makan siang di sini sendirian... ?” tanya Niky berdiri di samping wanita itu sambil menatap ke tempat wanita itu duduk yang hanya ada dirinya seorang.
“Ah ya... ” jawab Selly sambil tersenyum kecil menatap Niky.
Dari kejauhan Niky melihat seorang pramusaji yang membawa makanan yang telah di pesannya dan mengantarnya ke meja di ujung pintu.
“Selamat makan kalau begitu Bu Selly... permisi aku mau pergi dulu pesanan ku sudah datang.” ucap Niky lalu jalan pergi dan menuju ke mejanya di depan.
Sebelum lelaki itu berjalan lebih jauh, Selly memanggilnya.
“Niky... tunggu... !” teriak Selly dan Niky pun berhenti lalu berbalik.
“Ehmm... ya Bu Selly... ada apa ?” tanya Niky tetap berdiri di tempatnya nya dan tidak melangkah maju.
“Kau bisa makan bersama ku... maksudku aku tapi bahasanya kesini dan makan bersamaku.” ucapnya menyampaikan maksudnya.
“Ehm...” tampak Niky bingung dan kembali menatap makanan yang sudah tersaji di meja yang di pesannya.
“Baiklah...” ucapnya kemudian berjalan kembali menuju ke Selly.
Niky kemudian duduk di depan Selly. kebetulan ada pramusaji lain yang lewat di dekatnya.
“prok... prok... !” tolong ke sini sebentar.” ucap Niky memanggil pramusaji itu dan lelaki itu langsung menghampiri Niky.
“Boleh kah aku minta tolong padamu ? Tolong pindahkan makanan yang sudah ku pesan di meja nomor 49 ke sini.” ucapnya yang dibalas dengan anggukan oleh pramusaji itu.
Beberapa saat kemudian dua pramusaji datang kemeja Selly mengantarkan makanan yang dipesan oleh Selly dan juga Niky.
Suasana tampak canggung dan hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring saat mereka berdua makan tanpa suara.
Untuk mencairkan suasana Niky memulai obrolan dulu.
__ADS_1
“Maaf bu Selly aku bertanya diluar jam kerja. Ehm... bagaimana dengan proposal proyek Wonderland yang ku ajukan sebelumnya pada ibu ?” tanya Niky dalam menghabiskan separuh isi piringnya.
“Proposal mu sudah masuk ke Direktur Utama, tinggal menunggu putusan nya saja.” jawab wanita itu tersenyum kecil pada Niky.
“Oh... begitu...” balas Niky singkat dan menyembunyikan rasa kecewanya dengan tetap tersenyum karena tak kunjung ada kabar.
“Kenapa lama sekali ya... sedangkan tiga perusahaan lainnya sudah memutuskan untuk berinvestasi di Wonderland.” batin Niky sambil berpikir mencari strategi untuk memenangkan hati wanita itu agar Pelangi Group mau berinvestasi di proyeknya.
Niky pun mencoba berbicara lagi dengan topik santai di luar pekerjaan untuk mengalihkan kekecewaannya. Tampak wanita lajang berusia 30 tahunan itu mengikuti topik pembicaraan Niky dan sesekali tampak tersenyum.
“Oops...” Niky melihat jam tangannya yang menunjukkan jam makan siang sebentar lagi akan segera berakhir.
“Bu Selly sepertinya aku harus pergi dulu karena jam makan siang hampir selesai.” ucapnya pada wanita itu minta izin untuk kembali duluan. Selly hanya mengangguk dan tersenyum pada Niky.
Niky pun segera keluar dari rumah makan itu dan masuk ke masuk ke maserati putihnya melaju ke tempat kerjanya.
Siang hari berikutnya Niky tampak berada di jalanan setelah mengirimkan proposal proyek Wonderland ke beberapa perusahaan lainnya sambil menunggu keputusan dari Pelangi Group.
“krucuk...” Niky mengelus perutnya yang bersuara di jam makan siang.
Dia pun mencari rumah makan untuk singgah sebentar di sana. Setelah meluncur di jalanan dia melihat sebuah rumah makan.
“Bukankah itu Rumah Makan Bambu Kuning tempat aku bertemu dengan Bu Selly kemarin...” batinnya saat menoleh ke arah kanan jalan.
Setelah sampai di rumah makan Niky mencari duduk di bagian dalam dan duduk sendirian di sana sambil menunggu pesanan makanan yang sudah dipesannya.
Saat dia sedang menyantap makanannya, dia mendengar suara derap langkah kaki yang berjalan ke arahnya lalu berhenti di dekatnya.
“Bu Selly... ?” tanya Niky saat menoleh dan mendapati wanita itu itu berdiri di dekatnya.
“Boleh aku makan di sini... ?” tanyanya pada Niky.
“Ya tentu saja...” jawab Niky dan Selly segera duduk di depan Niky setelahnya.
Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang dan mereka berdua menyantap nya.
“Kau dari mana ?” tanya Selly pada Niky di sela-sela dia makan.
“Aku barusan kembali setelah mengirimkan proposal dari beberapa perusahaan. Bu Selly sendiri.... ?” jawabnya dan bertanya balik pada wanita itu.
__ADS_1
“Oh begitu... tolong panggil aku Selly saja. Aku masih lajang dan belum menikah.” ucap wanita itu.
"Ah ya baiklah...” jawab Niky sambil tersenyum dan meneruskan makan. Mereka berbicara ringan seperti sebelumnya. Sesekali wanita itu dampak mencuri-curi pandang saat Niky tidak memperhatikan dirinya.
“Ternyata lelaki ini jika dilihat dari dekat memang sangat mempesona. Terlebih lagi dia sangat lembut dan sopan pada wanita.” batin Selly yang sedikit kagum pada sosok Niky.
Tak beberapa lama kemudian jam makan siang hampir habis dan mereka berdua pun memutuskan untuk keluar dari rumah makan itu lalu kembali ke tempat kerja masing-masing.
Siang hari berikutnya saat Niky pulang dari beberapa perusahaan setelah mengajukan beberapa proposal, dia merasa lapar. Dia memutuskan untuk makan di rumah makan Bambu Kuning karena dia cocok dengan masakan yang yang ada di sana.
“tap...tap...” saat dia jalan masuk ke rumah makan itu tiba-tiba ada seseorang yang mengikutinya dan berjalan di sebelahnya.
“Selly... ?” ucap Niky saat menoleh ke samping dan mendapati wanita itu berjalan di sebelahnya.
“Kebetulan sekali kita bertemu di sini lagi...” ucap Niky sambil melempar senyum pada wanita itu.
“Ya... ayo kita duduk.” balas Selly dan mereka berdua duduk di satu meja makan yang sama.
Mereka berdua segera menyantap pesanan mereka setelah pesanan mereka datang. Tampak mereka berdua terlihat semakin akrab setelah beberapa kali bertemu.
Kejadian itu berulang terus sampai satu minggu di mana mereka berdua secara kebetulan bertemu kembali di Rumah Makan Bambu Kuning.
Semakin hari mereka berdua tampak semakin akrab dan menimbulkan suatu rasa karena seringnya bertemu.
Selly tampak menatap Niky saat lelaki itu sedang menundukkan kepalanya menatap hidangan yang tersaji di meja.
“Semakin sering aku bertemu dengannya entah kenapa aku merasa nyaman berada di dekatnya.” batin Selly merasakan ada yang aneh pada dirinya.
“Apa dia juga merasakan rasa yang sama seperti yang kurasakan padanya... ?” batin Selly penasaran. Namun wanita itu tak berani menanyakan hal itu pada Niky. Hingga suatu ketika dia ketemu lagi dengan Niky di rumah makan itu.
Setelah keluar dari rumah makan, dia mendapati ban mobilnya yang kempes dan hujan turun deras.
“Selly... kenapa kau hujan-hujan ?” tanya Niky saat melihat wanita itu basah kuyup di tengah hujan.
“Ah... ini ban mobilku kempes sepertinya bocor.” jawabnya.
“Kalau begitu Kalau ikut denganku saja aku akan mengantarmu.” ucap Niky menawarkan tumpangan.
“Apa itu boleh ?” tanyanya balik pada Niky dengan baju basah kuyup.
__ADS_1
“Ya tentu saja. Ayo cepat masuk...” pinta Niky sambil membukakan pintu mobilnya dan Selly segera masuk ke sana.
BERSAMBUNG....