Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 113 Perusahaan Untuk Cassia


__ADS_3

Di lain tempat Wardana yang terus memantau Cassia Group merasa puas dengan sepak terjang putri kesayangannya.


Lelaki itu sedang duduk di kursi di ruangannya. Dia sedang memegang sebuah buletin perusahaan nasional dan membaca sebuah halaman.


“Aku tak menyangka Cassia berhasil membuat perusahaan miliknya menempati posisi kelima sekarang.” batin lelaki tua itu saat selesai membaca buletin dan menaruhnya ke meja.


“Apa sebaiknya aku membangun suatu perusahaan baru untuk Cassia biar dia kelola. Terserah dia mau membuka usaha di bidang apa...” batin Wardana sambil menyenangkan kaki kemudian menyadarkan kepalanya ke kursi.


Wardana mengeluarkan ponselnya dan mengusap layarnya. Dia lalu masuk ke aplikasi phone banking untuk mengecek saldonya.


“Hmm... ku rasa membangun suatu perusahaan saja tak akan mengurangi keuntungan ku sampai 1%...” ucap lagi itu melihat rekening saldonya yang berjumlah Trilyunan tak terhitung lagi.


Wardana menutup kembali aplikasi phone banking nya dan menaruh kembali ponselnya ke meja.


Dia kemudian mengangkat tegangan telepon yang ada di mejanya dan menekan sebuah nomor ekstensi dan beberapa saat kemudian telepon tersambung.


“Halo... Roy... bisa kau ke sini sebentar ? Ada yang ingin ku bicarakan denganmu.” ucap Wardana pada salah satu manajer nya.


“Ya tuan... aku akan segera ke sana.” balas lelaki itu dan segera menutup teleponnya setelah percakapan terakhir.


Tak lama kemudian Roy datang menemui Wardana di ruangan.


“Ada apa tuan Wardana ?” tanya Roy saya sudah masuk di ruangan Wardana.


“Duduklah dulu...” ucap Wardana, dan Roy duduk di kursi dekat pintu.


Wardana lalu berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Roy, orang yang merupakan kepercayaannya mengenai semua hal tentang pekerjaan dan perusahan nya.


“Aku ingin mendirikan satu perusahaan baru. Aku serahkan dan percayakan semua urusan itu padamu. Dalam tiga hari ke depan setidaknya aku sudah melihat pondasi bangunan nya.” ucap Wardana memberikan perintah dengan batasan waktu seperti yang biasa dia lakukan.

__ADS_1


Seketika manajernya tampak tegang dan terlihat sangat serius mendapatkan tugas dari Wardana.


“Ya... baik tuan. Dalam tiga hari ku pastikan tuan akan bisa melihat pondasi bangunannya.” jawabnya dengan serius.


“Baiklah... ku rasa itu dulu tugas sederhana dariku. Kau boleh pergi sekarang.” ucap Wardana lagi.


Roy mengangguk dan segera keluar dari ruangan Wardana kembali ke ruangannya.


Lelaki itu sekarang terlihat sibuk. Dia orang pedagang telepon yang ada di mejanya dan menghubungi banyak nomor sampai siang hari.


Sore hari di rumah.


Cassia duduk berdua bersama Niky di balkon lantai dua sambil memakan camilan dan bercakap-cakap santai di sana.


“Sayang... bagaimana dengan ide pembangunan satu perusahaan lagi ? Kira-kira sebaiknya kita membuka usaha di bidang apa...?” tanya Niky sambil menaruh gelas minuman kosong di sampingnya.


“Apa ya kak...” jawab Cassia sambil berpikir.


Beberapa saat kemudian terlintas sebuah ide di pikirannya.


“Kak... bagaimana jika kita coba saja di bidang industri makanan kaleng ?” ucap Cassia setelah membaca peluang berbisnis di bidang itu. Karena dia melihat saat ini usaha industri pengalengan membutuhkan banyak suplai sedangkan jumlah penyuplai yang ada masih minim.


Niky berbalik dan menghadap gadis itu.


“Sayang... aku tidak ahli dalam bidang itu... bagaimana bisa aku menjalankannya ?” ucap Niky yang merasa tak berkompeten di bidang itu.


“Kakak... untuk membuka suatu usaha tak di perlukan bakat dalam bidang itu. Kita bisa menyewa atau mencari pakar ahlinya untuk kita pekerjakan.” jawab Cassia mencoba meyakinkan Niky yang tampak ragu.


Niky diam sejenak dan berpikir. Dia mencerna semua perkataan Cassia dan mengolahnya untuk memahaminya.

__ADS_1


“Peluang sukses di sana besar tapi peluang untuk gagal juga besar...” batin Niky yang masih tetap ragu.


“Bagaimana jika di bidang lain, semisal industri kecantikan... ?” ucap Niky memberikan masukan dan ide yang terlintas dalam benaknya saat itu.


Cassia diam sejenak dan mencoba mencari cara untuk meyakinkan Niky kembali.


“Kakak... industri kecantikan beresiko besar. Jika mengambil usaha di bidang itu maka bla... bla... bla...” jawab Cassia menjelaskan panjang lebar apa saja kekurangannya.


Niky pun akhirnya menerima masukan Cassia setelah mempertimbangkan berbagai hal.


Mereka kemudian membahas dan berdiskusi lama mengenai hal itu.


Tiga hari kemudian di suatu tempat, terlihat para pekerja sudah memasang pondasi di tanah kosong yang berlokasi di sekitar Cassia Group.


“broom...”


Dua mobil datang ke lokasi itu dan kemudian berhenti di dekat lokasi pembangunan.


“brak...” Wardana keluar dari mobil dan menutup pintunya kembali.


Roy segera mengikuti keluar dari mobilnya kemudian menghampiri Wardana.


“Itu bangunannya tuan... ayo kita lihat.” ucap Roy berjalan di samping Wardana dan mengajaknya melihat lokasi pembangunan gedung.


Wardana dan Roy berdiri di depan para pekerja yang sedang melakukan pembangunan di sana.


“Bagaimana tuan.... apa ada yang kurang atau ada yang perlu ditambahkan ?” tanya Roy pada Wardana setelah mengambilnya berkeliling melihat seluruh pembangunan di sana.


“Sementara ini semuanya terlihat bagus dan sesuai dengan yang ku minta. Kirimkan terus setiap perkembangan pembangunan perusahaan ini padaku.” ucap Wardana tampak puas dengan pekerjaan Roy dan para pekerja yang ada di sana.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Wardana berjalan masuk ke mobilnya. Dan tak berapa lama kemudian dia meluncur ke jalanan kembali ke perusahaannya, dan Roy pun segera masuk ke mobilnya mengikuti Wardana kembali ke kantor.


BERSAMBUNG....


__ADS_2