Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 117 Mencari Ide Baru


__ADS_3

Beberapa hari kemudian di suatu pagi Cassia sedang berada di Cassia Group. Gadis itu duduk termenung menatap kosong ke layar monitor di depannya.


“Lalu apa yang harus aku lakukan dengan perusahaan dari ayah...” gumam Cassia yang bingung mau diapakan perusahaan dari ayahnya.


Karena tak mendapat ide mau membuka bisnis apa, dia pun memutuskan untuk meminta pertimbangan pada Niky.


Cassia mengambil ponsel dari dalam tasnya kemudian menelepon Niky.


“kring... kring... kring...” suara ponsel Niky yang berdering.


Niky yang saat itu berada di luar ruangan setelah kembali dari toilet segera bergegas masuk saat mendengar ponselnya berdering.


“Oh Cassia rupanya...” batin Niky saat melihat nama pemanggil di layar ponselnya.


“Halo sayang... ada apa... maaf lama mengangkat aku barusan kembali dari belakang.” balas Niky setelah mengambil ponselnya yang tergeletak di meja.


Niky kemudian duduk di kursi lain sambil menyadarkan bahunya yang terasa kaku.


“Kakak sore nanti bisa kita ketemu ? Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganmu...” ucap Cassia terdiri dari kursi tempatnya duduk dan berjalan ke dekat jendela.


“Ada masalah apa sayang... kau ceritakan saja padaku sekarang.” ucap Niky yang mengira ada masalah di perusahaannya.


“Tidak ada masalah kak... semuanya baik-baik saja. Aku hanya ingin berbagi ide denganmu.” jawab Cassia sambil menata pemandangan dari luar kaca jendela.


Meskipun Niky tidak tahu apa yang menjadi masalah bagi Cassia, namun dia setuju bertemu dengannya nanti sore.


“Ya sayang... aku akan menunggumu di rumah...” ucap Niky kemudian menutup telepon.


Niky berdiri dan kembali ke tempat duduknya menghadap monitor yang ada di hadapannya.


“klak...” Niky membuka loker meja dan mengeluarkan sebuah buku catatan. Perlahan dia membuka buku saku itu dan membacanya dengan teliti. Sesaat kemudian dia menaruh kembali buku itu ke meja.

__ADS_1


Niky beralih menatap monitor yang ada di depannya dan mencocokkan data dengan catatan dari buku saku tadi.


“Semuanya sudah sesuai dan tak ada satupun yang kurang ataupun terlewatkan, jadi tinggal menunggu beroperasi saja...” batin Niky mengecek data di riil di lokasi dengan data yang di buatnya saat awal-awal pembangunan perusahaan barunya.


Hari berganti sore. Niky keluar dari ruangannya dengan buru-buru agar segera tiba di rumah karena terkadang Cassia sering memberinya kejutan.


Niky tiba di depan rumah dan mengeluarkan kunci pintu rumah.


“klik...” pintu terbuka saat dia memutar handle pintu sebelum dia memutar kunci.


“Apa Cassia sudah datang...” gumam Niky menoleh kembali ke samping dan mendapati tak ada mobil yang terparkir di sana selain mobilnya.


Dia pun segera masuk ke rumah dan mengunci pintu kembali. Di dalam dia juga sepi, biasanya Cassia duduk di ruang tamu menunggunya namun kali ini Kursi tampak kosong.


“Cassia... sayang... kau dimana ?” panggil Niky berulang-ulang dan tak ada jawaban.


Niky yang merasa sedikit lelah setelah perjalanan pulang dari kantor segera masuk ke kamar untuk berganti baju.


Cassia segera duduk setelah melihat Niky masuk dan menariknya agar duduk di sampingnya.


“Ya kakak... maaf aku tidak mendengar panggilan mu. Aku datang dua jam yang lalu dan ketiduran saat menunggumu datang.” balas gadis itu sambil menyadarkan kepalanya ke bahu kiri Niky.


“Ya tak apa sayang... jika kau masih lelah tidur saja lagi aku tak akan mengganggu mu.” ucap Niky sambil merangkul Cassia.


“Aku sudah cukup beristirahat. Oh ya aku mau membahas suatu hal dengan kakak.” jawabnya sambil memegang lengan Niky dengan manja.


“Ya sayang katakan saja mungkin aku bisa membantumu... karena selama ini kau sering membantuku.” balas Niky lalu mengecup kening Cassia.


Cassia kemudian menceritakan pada Niky jika dirinya mendapatkan hadiah dari ayahnya berupa satu perusahaan yang sudah siap beroperasi. Dia juga menjelaskan jika perusahaan itu ternyata adalah perusahaan yang beberapa waktu lalu sempat mereka lihat berdua setelah perjalanan pulang dari Pantai *****.


“Apa... jadi perusahaan itu milik...” ucap Niky setelah selesai mendengarkan cerita dari kekasihnya dan terkejut karena betapa mudahnya seorang Wardana memberikan sebab perusahaan pada Cassia. Dan Dari situ dia bisa menyimpulkan jika kekasihnya merupakan putri kesayangan musuhnya.

__ADS_1


“Aku bingung mau membuka usaha apa lagi...” ucap Cassia menimpali Niky yang masih tampak terkejut.


“Apa ya...” jawab Niky kemudian diam sejenak untuk berpikir mencari sebuah ide.


Berbagai ide terlintas dalam pikiran Niky. Dia membagi idenya itu dengan Cassia.


“Bagaimana jika membuka usaha di bidang kecantikan ?” tanya Niky menyampaikan salah satu idenya.


“Ide itu lagi... sudah kubilang tidak kakak... kau ini sengaja ya...” kata Cassia sambil tersenyum renyah dan menggeleng.


“Bagaimana jika industri makanan ringan ?” tanya Niky lagi menyampaikan idenya.


“Lagi-lagi kakak ini menggodaku...” jawab Cassia sambil menyikut pinggang Niky sambil tersenyum renyah.


Niky berpikir lagi setelah usulannya tak diterima oleh kekasihnya.


“Oh aku tahu... bagaimana jika industri sepatu saja ?” tanya Niky menyampaikan idenya.


Cassia tampak diam mendengar itu dan berpikir.


“Ide kakak bagus... tapi aku tidak punya link atau rekan di bidang industri itu....” balas Cassia tertarik namun juga ragu.


“Sayang kau tak perlu khawatir akan hal itu. Aku punya kenalan di bidang itu. aku akan membantumu jika kau memang serius mau membuka industri itu.” ucap Niky meyakinkan Cassia yang masih ragu.


Gadis itu pun akhirnya mengangguk dan menyetujui ide dari Niky. Mereka berdua kemudian membahas hal itu lebih lanjut sampai malam.


BERSAMBUNG...


Dear pembaca semua...


Baca juga karya lainnya berjudul darah campuran ya..

__ADS_1


☺️🙏🙏


__ADS_2