
Niky diam sejenak tidak tahu harus mengatakan apa pada ibunya. Karena wanita yang merupakan kekasihnya tak bisa dia disebutkan sebagai kekasihnya lantaran Cassia adalah anak musuh ayahnya, penyebab semua masalah dalam hidup mereka.
“Saat membangun perusahaan itu aku mendapatkan bantuan dari seorang gadis bernama Cassia, maka dari itu sebagai ucapan terima kasih aku menggunakan namanya untuk nama perusahaan ku bu...”jawab Niky menjelaskan pada ibunya.
Namun ibu tetap tak mempercayai perkataan Niky begitu saja. Karena tak mungkin putranya sekedar asal pasang nama untuk perusahaannya hanya karena balas budi saja.
“Niky... lain waktu adalah gadis itu ke sini. Ibu ingin melihat dan mengenalnya. Di usia mu sekarang ini kau juga sudah saatnya untuk menikah...”ucap ibu bilang seperti itu karena penasaran seperti apa gadis yang bisa meluluhkan putranya hingga sampai membuat Niky mengabadikan namanya pada perusahaannya.
“Ya ibu...”jawab Niky singkat karena tak bisa lagi mengelak dari permintaan ibunya kemudian diam dan menunduk karena bingung dengan hubungan yang di jalin dengan Cassia mau dibawa ke mana.
“Kau tampak berpikir berat... katakan pada ibu apa ada masalah mungkin Ibu bisa membantu...”ucap Ibu saat melihat Niky seperti tertekan oleh suatu hal.
“Oh... tidak bu... aku belum ingin menikah untuk saat ini. Ada satu hal yang belum ku selesaikan bu...” balas Niky mengungkapkan isi hatinya.
“Masalah apa yang membuatmu ingin menunda menikah. Ibu rasa saat ini kau sudah mapan dan siap untuk menikah.”balas ibunya yang tak mengerti apa alasan di balik permasalahan Niky.
Satu bulan berlalu.
“Ibu... aku sudah berjanji di makam ayah untuk mengambil semua apa yang dulu menjadi milik kita. Aku akan membalaskan dendam ayah...”balas Niky kembali mengutarakan isi hatinya pada ibunya.
“Balas dendam... ? Nak... semua itu sudah berlalu dan sekarang keluarga kita baik-baik saja. Jangan kau kotori hatimu dengan itu.”jawab ibu sambil memegang tangan Niky.
__ADS_1
Niky hanya diam dan menatap ibunya. Dia sudah separuh jalan dan tak mungkin dia berhenti saat ini. Jika saja ibunya tahu dirinya lah yang paling berat menanggung semua akibatnya, pasti takkan semudah itu berkata begitu padanya.
“Ibu... aku mau masuk ke kamar dulu dan ganti baju.”ucap Niky tiba-tiba karena tak ingin mendengarkan masukan dari ibunya yang akan melemahkan niatnya untuk balas dendam.
Niky berdiri dan masuk ke kamar dengan lesu. Sedangkan ibu hanya menatapnya saja dan merasa prihatin pada putranya dan berniat mencari waktu yang tepat untuk bicara lagi dengannya membahas hal itu. Dia tak ingin putranya terjebak dalam Dendam tak berkesudahan.
Satu bulan berlalu. Saat ini Niky sedang berada di perusahaan barunya, di Global Corp. Dia sedang mengadakan tes perekrutan staf di kantornya.
Di luar sudah banyak pelamar yang menunggu untuk mengikuti tes pertama di perusahaan Niky.
Di dalam ruangan Niky sedang duduk di ruang tes. Dia ingin memulai tes agar segera selesai namun Cassia belum datang juga.
Karena khawatir jika terjadi sesuatu di jalan atau ada hal lainnya dia pun menghubungi nya.
“Halo... sayang... kau ada dimana... apa ada sesuatu di jalan ? Kau belum datang ke sini...”ucap Niky ditelepon setelah tersambung.
Cassia saat itu sedang bersiap berangkat namun ayahnya sepertinya mengekor dirinya dari tadi.
“Kakak...emm...ada masalah kecil di rumah. Mungkin aku akan terlambat ke sana. Kakak mulai saja duluan tesnya tak perlu menungguku.”jawab Cassia pelan sambil menoleh ke belakang melihat Wardana yang berdiri di belakangnya entah sejak kapan.
“Ya sayang... cepatlah datang. Ku harap tak sampai siang kau sudah kemari.”balas Niky kemudian menutup telepon.
__ADS_1
Segera setelahnya Niky segera memulai tes hari ini dikarenakan banyak pelamar yang sudah menunggu di luar. Dan dia pun segera memanggil satu persatu para peserta tes agar cepat selesai.
Sementara itu Cassia segera memasukkan ponselnya ke dalam tasnya setelah panggilan berakhir.
Wardana memegang bahunya saat dia akan berjalan.
“Ayah... ada apa...”tanya Cassia menoleh lalu berbalik.
“Cassia barusan kau bicara dengan siapa... ?”tanya Wardana menyelidiki karena sempat mendengar sedikit percakapan putrinya.
“Te-teman ku ayah... dia minta bantuan padaku untuk membantu nya menyeleksi peserta tes di perusahaannya....tapi aku tidak bisa karena aku ada urusan di kantor.”jawab Cassia agar ayahnya tidak mencecarnya dengan pertanyaan ataupun meminta anak buahnya untuk mengikutinya.
“Ya sudah kalau begitu kau berangkat saja sekarang.”balas Wardana singkat.
Cassia pun segera berangkat dan berpamitan pada ayahnya menuju ke kantornya.
Wardana melihat mobil kuning Cassia meluncur di jalanan. Dia masuk ke rumah lagi kemudian mengambil ponselnya dan menelepon seseorang untuk mengawasi Cassia.
BERSAMBUNG....
🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴🪴Dear all readers.... baca juga karya lainnya berjudul Darah Campuran ya...
__ADS_1
Terima kasih... 😊❤️❤️