
Keesokan harinya Cassia bangun lebih dulu. Dia melihat Niky yang masih tertidur di sampingnya. Dia mengenakan bajunya lalu masuk ke dapur karena merasakan haus.
“glek... glek.... glek...” Cassia mengambil segelas air minum dan menghabiskannya.
Dia kemudian duduk di kursi sambil merenung dan berpikir.
“Aku ingin membantu Kakak Niky... tapi bagaimana ya...” batin Cassia tampak bimbang.
“Huft.... nanti coba kupikirkan lagi.” ucap batin gadis itu setelah berpikir.
Cassia mengalihkan pikirannya dan menatap jam dinding.
“Sebentar lagi jam sarapan pagi. Lebih baik aku menyiapkan makanan dulu...” gumam Cassia berdiri kemudian mengambil bahan dari kulkas dan menyiapkan sarapan pagi.
Tak lama kemudian Niky bangun dari tidurnya. Dia segera menoleh ke samping kiri saat merasa tak ada yang memeluknya.
“Cassia... dia sudah bangun rupanya.” ucap Niky kemudian duduk dan mendapati tempat tidur yang kosong hanya dirinya saja.
“Jam berapa sekarang...” batinnya lagi menatap jam dinding.
“Sebaiknya aku bersiap sekarang...” gumam Niky lirik kemudian keluar dari kamar dan menuju ke kamar mandi.
Tak beberapa lama kemudian Niky kembali masuk ke kamar dan berganti baju. Dia berjalan menuju ke ruang makan dan di sana sudah ada Cassia yang duduk menunggunya dengan beberapa hidangan sarapan pagi untuk mereka berdua.
“Sayang... kau yang menyiapkan ini semua... ?” tanya Niky sambil duduk.
“Ya kakak... ayo kita segera makan sebelum kita terlambat.” ajak Cassia mengambil hidangan yang ada di meja dan juga menggambarkan untuk Niky.
“Kau mau ke mana setelah ini... ?” tanya Niky pada Cassia.
“Kakak... setelah ini aku akan berangkat ke Dream Fantasy. Karena jika di rumah seharian aku akan merasa bosan.”
__ADS_1
Niky sedikit terkejut saat mendengar Cassia menyebutnya. Karena sudah lama sekali dia tak pernah mampir ke sana semenjak proyek Wonderland nya sukses sampai sekarang.
“Oh ya... bagaimana Dream Fantasy sekarang ?” tanya Niky yang penasaran.
“Yah kakak tahu sendiri... sejak ada Wonderland tempat tidur sekarang jadi sepi tidak seperti dulu lagi.” balas Cassia berkata apa adanya.
Niky diam dan menatap Cassia dengan lembut. Ada rasa bersalah yang menyeruak dalam dadanya karena hal itu. Untuk sejenak keadaan menjadi canggung karenanya dan Niky segera mengalihkan topik pembicaraan.
“Sayang... aku akan mengantarmu ke Dream Fantasy kalau begitu setelah ini.” ucap Niky sambil meneruskan makannya kembali.
Setelah selesai makan mereka berdua masuk ke maserati putih dan meluncur di jalanan.
“Apa kakak tidak terlambat nanti karena harus memutar nanti... ?” tanya Cassia di tengah jalan dan yang lagi itu menggeleng.
“Tidak sayang... aku tahu sopir pribadimu mungkin tidak stand by di sini.” jawabnya singkat.
Tak beberapa lama kemudian mereka berhenti di depan Dream Fantasy. Cassia turun dari mobil setengah Niky memutar jalan kembali ke tempat kerjanya.
Di ruang kerja lelaki itu segera duduk dan menyalakan laptopnya. Dia mengecek kotak masuk dan masih kosong, tak ada satu pun laporan keuangan yang masuk padanya.
Karena tak ada kerjaan dia pun membuka kembali foto-foto bangunannya yang sudah jadi yang ada dalam ponselnya.
“Padahal hanya kurang sedikit saja aku bisa mengoperasikan perusahaan ini. Sekarang aku harus apa ?” gumamnya yang menemukan jalan buntu.
“Tak ada yang bisa membantuku...” keluhnya.
“Aku tak boleh menyerah seperti ini. Aku harus bisa mengatasinya. Baiklah aku mau lihat dulu bunga usaha di beberapa bank.” gumamnya lalu membaca setumpuk berkas dari bank yang beberapa waktu lalu dimintanya sebagai bahan pertimbangan.
Beberapa hari berlalu. Sore itu sepulang dari kantor, Niky masuk ke rumah dengan lemas kemudian duduk di kursi.
“Apakah aku harus mengambil kredit di bank beneran ? Bunga nya tinggi sekali...” batinnya sambil menyadarkan kepalanya yang terasa berat ke kursi.
__ADS_1
“Lalu Apa yang harus kulakukan agar Cassia mau membantu ku...” batinnya lagi sambil berpikir bagaimana cara merayu kekasihnya.
beberapa menit kemudian terdengar suara pintu yang terbuka.
“klik... kriek...” Niky menoleh ke arah pintu dan Cassia masuk ke rumah.
Gadis itu segera duduk di samping Niky dan mencium pipinya.
“Mungkin aku harus bekerja keras sekarang...” batinnya kemudian membawa Cassia duduk dalam pangkuannya.
“Sayang... kau tahu sekali jika aku merindukan mu...” ucap Niky lalu mencium bibir Cassia dengan kasar.
“Ahh...” Cassia mengakhiri ciuman untuk bernafas namun Niky kembali mencium bibirnya dengan lebih kasar.
“Ada apa dengan kakak Niky... kenapa hari ini dia agresif sekali...” batin Cassia mengimbangi Niky.
“Sayang... hari ini aku akan memanjakan mu seharian.” ucap Niky dan terus mencium Cassia. Tanpa sadar mereka pun sudah lepas pakaian mereka.
Niky memeluk tubuh Cassia dengan erat di kursi dan membuatnya mendesah.
Beberapa saat kemudian Cassia duduk dan berbisik di telinga Niky.
“Kakak sayang... sebenarnya aku punya hadiah untuk kakak...” ucapnya berbisik mesra.
“Apa itu sayang...” tanya Niky menarik kembali tubuh Cassia dan memeluknya erat.
“Aku akan membantu mu agar perusahaan mu bisa segera beroperasi. Aku akan mengambilkannya dari tabunganku...” ucap Cassia kembali berbisik di telinga Niky.
“Ternyata cara ini ampuh...” batin Niky yang merasa senang sekali mendengarnya.
“Terima kasih sayang... aku benar-benar mencintaimu.” balas Niky tersenyum lebar lalu kembali mencium bibir Cassia. Dan tak beberapa lama kemudian terdengar ******* panjang dari Cassia yang terdengar ke seisi rumah itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...