
Beberapa hari setelah berdiskusi dengan Cassia, Niky, mencoba merealisasikan apa yang dirinya dan Cassia bahas sebelumnya.
Di saat senggang di kantor, Niky menyempatkan diri untuk membuka daftar nomor telepon dan menghubungi beberapa pihak terkait untuk pembangunan Perusahaan keduanya.
Niky mengeluarkan ponsel dari balik saku bajunya dan mulai menelepon salah satu nomor yang tercantum dalam daftar telepon.
“Pagi Pak Burhan...ini dengan Niky. Apakah bapak sudah setuju dengan harga jual tanah yang sebelumnya aku ajukan pada bapak ?” tanya Niky sambil berdiri dari tempat duduknya Setelah telepon tersambung.
“Oh Bapak Niky... kami sudah mendiskusikannya dengan keluarga. Dan kami harap anda segera datang kembali untuk mengurusi semua administrasinya.” balas Pak Burhan dari telepon dengan tersenyum ramah.
“Baik Pak Burhan... mungkin nanti sore aku akan ke rumah bapak. Terima kasih atas kerja sama baiknya.” balas Niky dengan tersenyum kemudian menutup telepon. Dia merasa senang sekali sudah mendapatkan tanah dengan harga yang terjangkau oleh kantongnya.
“Urusan tanah sudah beres, berarti sekarang urusan konstruksi dan bahan bangunannya.” gumam Niky kemudian mencari nomor supplier bahan bangunan yang biasa dia pakai sebelumnya.
“klik.....” Niky menghubungi nomor salah satu supplier bahan bangunan dan beberapa bahan bangunan untuk waktu yang telah ditentukan.
Selesai menghubungi nomor telepon supplier bahan bangunan, dia menghubungi beberapa nomor lain yang ada dalam daftar teleponnya.
“Huft... tak terasa hari sudah siang sekarang.” ucap Niky setelah selesai melakukan panggilan dan melirik jam tangan di tangannya kemudian duduk sebentar di kursi untuk merilekskan tubuhnya yang terasa kaku.
Sambil menunggu jam istirahat makan siang yang masih satu jam lagi Niky mengeluarkan buku Sketsanya. Dia mengambil pensil dan mulai mendesain gedung perusahaannya yang sengaja dia desain berbeda dengan perusahaan yang sebelumnya.
“srat... srat... srat...” Niky menggoreskan pensilnya berdasarkan imajinasi dalam pikirannya. Mudah saja baginya menggambar desain dengan cepat jika dia berkonsentrasi.
__ADS_1
Satu jam kemudian dia meletakkan kembali pensilnya kemeja dan melihat gambar sketsa yang sudah hampir jadi kemudian memotretnya dengan kamera ponsel.
“klik....” Niky mengambil beberapa foto dan setelahnya mengirimkan foto tadi pada Cassia.
Di lain tempat Cassia yang sedang berada di lantai lima di perusahaan Nicky sedang duduk menatap monitor di depannya dan memeriksa neraca keuangan perusahaan itu.
“ding...” Cassia menghentikan aktivitasnya sejenak setalah mendengarkan nada pesan masuk di ponselnya.
Gadis itu mengambil ponsel dan mengusap layarnya. Dia tersenyum setelah membaca pesan masuk dari Niky.
“Kakak... desain mu benar-benar mengagumkan.” ucap Cassia membaca pesan balasan yang dia tulis untuk Niky kemudian mengirimnya.
“Ding...” suara nada pesan masuk pada ponsel Niky. Dia yang masih memegang ponselnya segera membaca pesan yang masuk dan kembali tersenyum setelah membaca pesan balasan dari Cassia.
Niky terdiri dari tempat duduknya setelah Jam menunjukkan pukul 12.00. Dia berjalan dengan semangat menuju ke tempat parkir lalu masuk ke maserati putihnya dan segera melajukan nya di jalanan.
Kembali ke Cassia yang masih ada di kantor Niky. Di saat jam istirahat Gadis itu juga tidak beristirahat. ODia terlihat sibuk menelepon beberapa orang yang ada dalam daftar telepon setelah Niky menunjukkan sketsa gambar perusahaan padanya.
Satu bulan berikutnya di suatu pagi yang cerah di akhir pekan. Pagi itu Cassia bangun pagi karena teringat pada janji Niky yang akan menjemputnya dan mengajaknya untuk melihat lokasi pembangunan gedung baru.
“Aku harus segera bersiap sekarang...” gumam Cassia setelah duduk di tempat tidurnya. Dia segera masuk ke kamar mandi dan bersiap.
Tepat disaat Cassia sudah selesai berpakaian rapi dan melangkahkan kaki berjalan keluar rumah, di luar Niky sudah tiba. Dia berhenti agak jauh di depan pagar rumah Wardana.
__ADS_1
“Cassia mana ya belum keluar ?” gumam Niky sambil terus menatap ke arah pintu masuk rumah perdana dari balik kaca mobilnya.
Karena tak ingin menunggu lama di sana dan mungkin saja akan bertemu dengan Wardana dia pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Cassia.
“Sayang aku sudah ada di depan rumahmu kau ada di mana sekarang... ?” tanya Niky sambil membuka sedikit jendela mobilnya.
“Kakak...aku sudah jalan keluar rumah dan hampir sampai, tunggu sebentar lagi.” jawab Cassia mempercepat langkahnya dan sampai di depan pintu.
Cassia mematikan teleponnya setelah melihat masa hati putih Nikiy yang berada di seberang jalan.
“Kakak... !” panggil Cassia dari dalam pagar sambil melambaikan tangannya ke atas.
Niky yang melihat Cassia sudah berada di depan rumah segera memutar balik mobilnya dan menghampiri Cassia.
“klik...” Niky membukakan pintu setelah rahasia berada di dekat mobilnya.
Tak lama kemudian mobil itu meluncur di jalanan menuju ke lokasi tempat pembangunan perusahaan Niky yang kedua.
Di saat bersamaan Wardana keluar dari rumah dan sempat melihat Cassia berjalan keluar. Dia pun berjalan menuju ke pagar rumah dan melihat Cassia sudah pergi menaiki mobil putih.
“Hmm... mobil putih itu seperti tak asing bagiku. Di mana kira-kira aku pernah melihatnya... ? gumam Wardana yang merasa pernah melihat mobil itu sebelumnya.
Dia pun jalan ke arah security yang ada di sana dan bertanya pada mereka siapa mobil yang membawa putrinya pergi, namun para security ada di sana tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Wardana pun kembali masuk ke rumah dan tak ambil pusing lagi dengan mobil putih tadi.
BERSAMBUNG...