Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 31 Jawaban Yang Tidak Pasti


__ADS_3

Niky duduk sediri di sebuah kursi yang ada di lapangan golf. Dia melihat Sisca dan beberapa orang bermain di sana.


Dua jam sudah lelaki itu duduk menunggu Sisca demi pekerjaannya, namun yang di tunggu kunjung datang menemuinya. Bahkan wanita itu tampak asyik bermain golf bersama rekannya dan melupakan Niky yang masih menunggunya..


“Aah... ternyata menunggu itu jenuh juga...” gumam Niky yang mulai dilanda rasa kebosanan saat menunggu wanita itu selesai bermain golf.


Terik matahari di lapangan sana terhalangi oleh beberapa pohon besar yang tumbuh di sepanjang lapangan sehingga tempat itu tetap terasa teduh meski panas menerpa.


Niky melempar pandangan ke suatu arah dimana di sana terdapat stick golf dan bola yang ditinggalkan oleh seseorang di dekat pohon tak jauh dari tempat duduknya berada.


Dia kembali melihat ke arah itu dan menatap ke sekitar untuk mencari pemilik stick golf itu namun tak menemukan nya.


“Mungkin pemilik stick itu sedang beristirahat entah dimana. Dan sepertinya tak masalah jika aku meminjam nya sebentar.” gumam Niky pelan menatap stick itu dan membuatnya ingin mengayunkan stick yang sudah lama tak pernah disentuhnya.


Lelaki itu lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke tempat dimana stick itu berada.


“Sebentar saja...” gumam Niky lagi yang merasa rindu ingin bermain golf lalu mengambil stik itu dan mulai mengayunkan nya.


“phak... !” satu kali ayunan dan Niky berhasil memukul bola melambung tinggi ke udara lalu masuk ke lubang yang ada di dekat tempat Sisca bermain.


“pung... !” Sisca terkejut ada bola yang masuk ke lubang di dekatnya. Wanita itu lalu melihat dan mencari siapa yang berhasil mencetak straight dengan sempurna.


“Ternyata pemuda tadi yang melakukannya. Bisa juga dia bermain golf...” batin Sisca setelah melihat ternyata Niky Yang mencetak strike.


“Oh ya... aku tadi sudah bilang mau bicara dengannya...” gumam Sisca setelah teringat jika tadi sebelumnya dia setuju dengan ajakan Niky.


Sisca segera kembali bergabung bersama rekan lainnya yang masih bermain dan terlihat wanita itu mengucapkan sesuatu pada mereka. Sedangkan lawan bicaranya mengangguk menanggapinya.


Setelah meminta izin pada rekannya Sisca pun menghampiri Niky yang masih mengayunkan stik nya beberapa kali dan membuat bola melayang di udara.


“tap...tap...” Sisca berjalan menghampiri Niky yang masih bermain golf dan berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


“Oh... bu Sisca...” ucap Niky yang terkejut pada kedatangan wanita itu secara tiba-tiba dan membuatnya berhenti mengayunkan stick.


“Panggil aku nona Sisca atau Sisca saja.” timpal wanita itu tersenyum pada Niky.


Niky membalas senyuman wanita itu dan menaruh stick yang dipegangnya.


“Baik nona Sisca... bisakah kita bicara sebentar sekarang ?” tanya Niky langsung ke inti permasalahan.


“Tunggu... jangan tergesa-gesa. kulihat tadi kau kau bisa memukul bola putih ini. Ayo kita bermain sebentar. Jika kau bisa mencetak skor lebih dariku, aku akan bicara denganmu berapa jam pun kau mau.” ucap Sisca berjalan mendekat lalu mengambil stick yang ditaruh Niky dengan tersenyum lebar menantang lelaki itu.


“Boleh saja...” jawab Niky yang menerima tantangan dari wanita itu karena memang dia sudah lama sekali tak main golf.


Tampak Sisca mengayunkan stick terlebih dulu dan memukul bola putih dengan keras dan membuatnya melayang di udara dan strike.


“Giliran mu...” ucap Sisca menyerahkan stick yang di pegang nya kembali pada Niky dan menunggu lelaki itu bermain.


Niky menerima stick golf dari tangan Sisca sambil tersenyum dan mulai mengayunkannya dengan tanpa keraguan.


“Ternyata kau boleh juga anak muda...” ucap Sisca tersenyum mengakui kekalahannya.


“Baiklah ayo kita bicara sekarang.” ucap Sisca kemudian berjalan menuju ke tempat duduk yang ada di dekat mereka berdua.


“Terima kasih... tentu saja.” jawab Niky lalu menaruh stick golf yang dipegangnya dan mengikuti wanita itu duduk di sebuah kursi di bawah pohon besar.


“Jadi...anak muda apa yang mau kau bahas dengan ku ?” ucap Sisca melepas kacamata hitamnya dan menggantung nya di saku baju depan, menatap Niky.


“Tolong panggil aku Niky saja...” jawab Niky memberitahukan namanya pada wanita itu.


“Nona Sisca... aku dari perusahaan Atmaja dan ditugaskan untuk melanjutkan proyek Wonderland.” ucap lelaki itu menjelaskan lagi identitasnya. Tampak wanita itu mengurutkan dahi setelah mendengar penuturan Niky.


“Jadi perusahaan Atmaja termasuk melanjutkan proyek Wonderland ?” tanya Sisca yang bisa membaca arah pembicaraan Niky.

__ADS_1


“Benar sekali dan aku melihat nona Sisca sebelumnya merupakan salah satu investor besar yang menanamkan modal pada proyek ini. Namun sayang di tengah proyek, nona menarik kembali dana yang telah di investasikan pada kami.” ucap Niky melanjutkan ucapannya dan akan menjelaskan lebih lanjut pada wanita itu tujuannya menemui dia, namun Sisca memotong pembicaraannya.


“Oh... jadi Niky kau bermaksud untuk menarik ku kembali menjadi investor di proyek Wonderland ?” tanya Sisca langsung ke inti permasalahan. Niky mengangguk dan menunggu jawaban dari wanita itu.


Tampak Sisca beralih menatap langit dan sesekali menoleh ke samping melihat rekannya yang masih bermain golf. Setelah sepuluh menit terdiam, wanita itu pun akhirnya angkat bicara.


“Begini Niky... terakhir kali aku menarik investasi yang sudah ku tanamkan di proyek itu karena suatu hal.” ucap wanita itu pada Niky sambil menatapnya kembali.


“Kalau boleh tahu ada masalah apa hingga nona Sisca menarik investasi yang telah ditanamkan di proyek Wonderland ?” tanya Niky mengejar karena penasaran.


"Ouh... masalah itu masalah lama dan aku tak bisa menceritakannya padamu.” jawabnya singkat dan mencoba mengingat kejadian yang telah berlalu dan membuatnya menarik semua modalnya dari proyek itu.


Meskipun menemui jalan buntu namun Niky tak kunjung menyerah begitu saja. Dia tak tahu apa masalah sebenarnya yang menjadi penyebab wanita itu menarik semua investasinya, namun dia mencoba tetap meyakinkan klien nya itu.


“Nona Sisca... manajemen perusahaan Atmaja yang dulu dengan yang sekarang sudah berbeda. Kami bermaksud melanjutkan proyek pembangunan Wonderland ini dengan memperbaiki semua hal yang sebelumnya kurang tepat dan juga meningkatkan kualitas proyek Wonderland ini.” ucap Niky menjelaskan panjang lebar pada wanita itu untuk membuatnya berpikir ulang dan mempertimbangkan lagi tawaran kerjasama dengan perusahaan Atmaja.


Sisca tampak kembali diam dan tak bisa memberikan jawaban pasti setelah mendengar uraian panjang dari Niky.


“Bagaimana nona Sisca... apakah berkenan untuk bekerjasama lagi dengan perusahaan Atmaja dan menanamkan modal di proyek Wonderland ?” tanya Niky di ujung pembicaraannya.


“Ehm.... begini saja Niky... aku akan memikirkan ulang tawaran dari mu. Kau kirimkan ulang detail proyek Wonderland nya padaku baru aku bisa menjawabnya...” ucap Sisca menanggapi tawaran Niky.


“Baiklah... besok aku akan kirimkan Dettol proyek Wonderland yang baru pada nona Sisca.” jawab Niky dengan mantab.


Setelah tak ada lagi yang mereka bicarakan Niky undur diri dan berpamitan pada Sisca.


“Ternyata ada anak semuda itu di perusahaan Atmaja yang mengerjakan proyek Wonderland... dia masih sangat muda dan terlihat tampan...” gumam Sisca tersenyum menatap Niky yang sudah keluar dari lapangan golf dan sedikit terpesona pada fisik lelaki itu.


Niky tampak senang dan terlihat berseri saat menaiki maserati putihnya setelah resin menemui dan berbicara dengan Aurora Group. Dia pun segera melaju kan mobilnya dan kembali ke tempat bekerja untuk menyiapkan laporan Wonderland.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2