
Keesokan harinya di kantor tampak Niky duduk di kursinya dengan menatap kosong layar laptopnya. Dia masih teringat pada wahana Dream Fantasy yang ternyata milik Wardana.
“Ternyata Wardana itu bisa mengembangkan bisnisnya sampai ke luar kota sepeninggalan Ayah ku...” batin Niky dengan tatapan penuh kebencian.
“Aku harus berhasil mengerjakan proyek Wonderland ini untuk menjegal lelaki bajingan itu memperluas area bisnisnya.” gumamnya kembali yang merasa tubuhnya panas dan darahnya mendidih hanya dengan mengingat namanya saja.
Joey yang berada di sebelah Niky memperhatikan lelaki itu dari waktu ke waktu semakin tampak serius, bahkan sekarang lebih serius daripada dirinya.
“Niky... apa yang kau pikirkan ?” tanya Joey iseng pada lelaki itu.
Seketika Niky menoleh dan menatap Joey.
“Aku sedang memikirkan tugas ku Joey... aku belum berhasil mencari investor untuk proyek Wonderland.” jawab Niky menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya pada rekan kerjanya.
“Proyek Wonderland itu memang berat, harusnya kau tak menerima itu sebagai tugas pertama mu...” ucap Joey yang merasa kasihan pada Niky yang tampak tertekan dengan beban kerja berat yang di tanggung nya saat ini.
“Aku tahu itu... tapi tak ada salahnya aku mencobanya dulu sebelum menyerah.” ujar Niky pada Joey sambil tersenyum kecil lalu kembali menatap layar laptop setelah tak ada yang mereka bahas lagi.
Tampak Niky membuka kembali laporan yang telah dibuatnya dan melakukan revisi di beberapa bagian setelah melihat wahana Fantasy Dream kemarin. Dia mengubah konsep dan menetapkan ulang segmentasi proyek Wahana Wonderland dengan harapan bisa menyaingi Fantasy Dream.
Beberapa saat kemudian setelah selesai merevisi laporannya dia pun kembali membuka data Para investor di proyek Wonderland sebelumnya.
“Huft.... sepertinya akan sama saja reaksi para investor lainnya jika aku belum mendapatkan satu investor. Artinya aku harus membuat Aurora group mau menanamkan investasinya di proyek ini apapun caranya...” batin Niky sambil menghembuskan nafasnya yang terasa berat.
Lelaki itu tampak duduk diam sambil memegang pena untuk menyangga kepalanya.
“Aku harus mencari cara agar Aurora group mau menanamkan investasinya di proyek ini...tapi apa ??” batinnya lagi sambil berpikir keras mencari solusi untuk permasalahannya.
Niky tampak memutar otak dan tak ada kata menyerah baginya meskipun dia belum menemukan solusi yang tepat untuk permasalahannya.
“Aku harusnya men-follow up Aurora Group dulu sampai aku menemukan jalan keluarnya.” gumam Niky setelah menemukan jalan buntu.
Dia pun membuka tasnya dan mencari kartu nama Aurora Group yang pernah diambil nya saat pertama kali dia ke sana.
“Ini dia...” ucap Niky lirih saat berhasil menemukan kartu nama dari tasnya dan menaruhnya ke meja.
__ADS_1
Tampak lelaki itu melihat telepon di mejanya lalu mengangkatnya dan menaruhnya kembali.
“Aku tidak boleh ragu aku harus mencobanya...” ucapnya menyemangati dirinya sendiri. Niky lalu mengangkat telepon yang ada di depannya dan menekan nomor Aurora Group dan beberapa saat kemudian telepon tersambung.
“Halo perusahaan Aurora Group, ada yang bisa di bantu ?” Niky tampak setelah telepon tersambung dan tangannya sedikit bergetar.
“Ya saya Niky dari Atmaja Group... bisakah dihubungkan pada ibu Sisca ?” balas Niky di telepon.
“Baik.... mohon di tunggu sebentar.” jawab petugas di telepon dan menyambungkan telepon pada Sisca.
“tut-tut-tut....” telepon mulai tersambung kepada Sisca dan Niky mencoba mengatur emosinya supaya tetap tenang.
“Halo...” ucap Sisca di telepon.
“Nona Sisca hari ini apa ada waktu... aku ingin bertemu denganmu sebentar.” jawab Niky di mana telepon.
“Oh Niky... maaf hari ini aku masih ada meeting mungkin besok saat jadwal ku kosong kau bisa menemui ku.” jawab Sisca dari telepon.
“Baiklah kalau begitu nona Sisca terima kasih. Sampai bertemu besok.” jawab Niky dari telepon dan kemudian mengakhiri panggilan setelah tak ada yang dibicarakan lagi.
“Kau masih tidak menyerah juga rupanya... memang anak muda lebih bersemangat dari orang yang lebih senior.” gumam Sisca lalu kembali menatap tumpukan dokumen yang ada di mejanya dan membubuhkan tanda tangannya di sana.
“Baiklah aku rasa aku harus memanfaatkan kesempatan yang ku dapatkan besok. Aku tak boleh menyia-nyiakannya.” ucap Niky lirih yang tampak bersemangat kembali dan tersenyum setelah Sisca menyetujui bertemu dengan dirinya esok hari.
“tak.... tak...” Niky kembali menjentikkan jemarinya di keyboard dan mengetik proposal baru untuk di tunjukkan pada Sisca.
Keesokan harinya, masih pagi sekali setelah absen di kantor Niky segera keluar dari ruangan dan mengendarai maserati putihnya menuju ke Aurora Group.
Sesampainya di sana dia duduk menunggu di kursi setelah petugas resepsionis memintanya untuk menunggu sebentar.
“tick... tack...” jam terus berdentang dan tak terasa sudah tiga jam lamanya dia menunggu di lobby perusahaan itu namun wanita yang ditunggunya tak kunjung keluar ataupun menemuinya.
“Bagaimana ini... kenapa wanita itu belum menemui ku juga...?” batin Niky yang mulai gelisah dan sudah bosan menunggu di sana.
“Tiga puluh menit lagi... setelah itu aku akan pergi dari sini karena waktunya istirahat.” gumam Niky yang merasa bersabar dan berulangkali menatap jam dinding yang ada di perusahaan itu.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian Niky memutuskan untuk keluar dari sana. Dia segera meluncur maserati putihnya dan meluncur di jalanan dengan kesal.
“tap... tap...” Sisca tampak keluar dan menuruni tangga menuju ke lobby. Namun di sana tak ada Niky yang menunggu nya.
“Dimana tamu yang ada janji bertemu denganku ?” ucap Sisca menghampiri petugas reception dan bertanya padanya.
“Maaf bu Sisca... tamu yang menunggu Ibu barusan saja keluar.” jawab petugas receptionist pada wanita itu.
Sisca segera berjalan cepat keluar dari perusahaan untuk mencari Niky, namun dia kembali lagi masuk ke dalam setelah tak menemukan lelaki itu di manapun.
Keesokan harinya Niky mencoba datang ke Aurora Group untuk menemui Sisca, namun lagi-lagi dia gagal bertemu dengan wanita itu.
Sudah satu minggu lamanya Niky mencoba menemui Sisca namun dia tak pernah sekalipun melihat wanita itu keluar dari ruangannya atau pun menghubunginya.
Hingga suatu ketika pada hari libur Niky tidak pulang ke rumah berkumpul dengan keluarganya, namun dia tetap berada di kota tempat dirinya bekerja karena merasa penat. Dia pun memutuskan untuk pergi ke taman yang ada di sana barulah dia pulang.
“tap... tap...” Niky berjalan masuk ke sebuah taman yang ada di kota untuk menghirup udara segar dengan mengenakan baju santai serta kacamata dan topi sebagai aksesoris.
Setelah lama berjalan dan mengitari taman, dia pun duduk di sebuah kursi yang ada di dekat kolam air mancur sambil meminum sebotol air mineral yang dipegangnya untuk mengganti keringat yang mengucur di tubuhnya.
Dari kejauhan tampak seorang wanita yang berlari mengejar anjing pudelnya yang lepas. Anjing itu berlari dan berhenti di sekitar tempat Niky duduk.
“Pearl.... tunggu !” teriak seorang wanita yang terlihat kesulitan berlari karena mengenakan high-heels mengejar anjing miliknya.
Niky merasa ada yang bermain di sekitar kakinya dan merasakan bulu lembut menyapu kakinya.
“Anjing milik siapa ini ?” gumamnya saat lihat kakinya dan ternyata ada seekor anjing pudel di sana. Dia pun mengambil anjing itu dan membawanya duduk kembali ke kursi menunggu pemilik anjing itu datang mencarinya.
“Ah... Pearl... kau ada di sana...?” ucap wanita itu saat menemukan anjing pudel miliknya dan berada bersama seorang lelaki.
Melihat seorang wanita yang mendatanginya dan melihat anjing yang dipegangnya Niky pun berdiri.
“Kau...” ucap Niky terkejut saat melihat wanita yang berdiri di depannya adalah Sisca. Niky melepas kacamatanya lalu menyerahkan anjing pudel yang di pegang nya. Dan Sisca pun tampak terkejut saat melihat lelaki yang berhasil menemukan anjingnya ternyata adalah Niky.
BERSAMBUNG...
__ADS_1