Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 41 Melewatkan Kesempatan


__ADS_3

Pagi hari berikutnya Niky berangkat kerja seperti biasa. Dia berangkat pagi-pagi sekali setelah sarapan pagi.


Dalam mobil dia kembali teringat kejadian semalam bersama Sisca dan membuatnya tak bisa berpikir.


“Huft... apa nanti malam dia akan memintaku menemani dirinya lagi...” gumamnya mendengus kesal.


“Dia tak jauh berbeda dari Naomi...” gumamnya lagi yang tiba-tiba teringat pada Naomi.


Kejadian demi kejadian bersama dua wanita itu kembali membayanginya dan membuatnya tidak tenang.


“din... din... !” bunyi klakson dari mobil lain yang mengebel Niky karena lelaki itu mengemudi dengan sembarangan di jalanan.


Niky segera tersadar dari lamunannya saat mendengar suara klakson dan melihat dari spion ada mobil yang terganggu karena dirinya lalu mencoba fokus kembali mengemudi.


“Bajingan dua wanita itu... hampir saja aku di tabrak... !” umpatnya keras dan membanting setir ke kiri.


“Huft...” Niky menarik nafas dalam-dalam dan menyandarkan kepalanya ke kursi setelah berhasil membuat mobilnya kembali berjalan di arah yang benar.


Tak berapa lama kemudian akhirnya dia tiba di tempat kerja dengan selamat. Dia segera memarkir maserati putihnya dan berjalan masuk ke ruangan kerjanya setelah absen di ruang absen.


Dia segera duduk dan bersandar di kursinya sekedar untuk membuat pikirannya yang kusut menjadi tenang kembali.


“tik.... tik...” setelah pikiran Niky kembali tenang dia membuka laptopnya dan menggerakkan jemarinya di atas keyboard, memeriksa lagi file-file yang sudah dia dikerjakan sebelumnya.


Sementara itu di lain tempat di sebuah hotel tampak Sisca yang bangun kesiangan.


“Jam berapa ini...” gumam wanita itu membuka mata lalu menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 08.00 pagi hari.


“Aku terlambat... !” pekiknya segera duduk setelah menarik selimut dari tubuhnya. Namun wanita itu tak segera bersiap malahan dia melihat sekujur tubuhnya yang banyak terdapat kissmark di beberapa bagian tubuh dan tersenyum lebar, kembali teringat pada kejadian semalam bersama Niky yang sangat panas saat di ranjang.


“Tak rugi aku mengeluarkan sejumlah itu...” ucap wanita itu kemudian segera masuk ke kamar mandi dan bersiap.


Beberapa saat kemudian terlihat Sisca sudah keluar dari hotel mengendarai mobil metalik nya menuju ke tempatnya bekerja.


Di dalam ruangannya wanita itu tak bisa konsentrasi dan terus memikirkan lelaki itu. Tanpa sadar dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Niky.


“kring... kring...”


Niky mengambil ponselnya yang berdering dari saku bajunya dan meletakkannya ke meja setelah melihat teleponnya adalah Sisca.


Sisca kembali menelepon Niky saat lelaki itu tak menerima panggilannya.

__ADS_1


“kring... kring... kring.”


Ponsel Niky kembali berdering jadi hanya meliriknya saja setelah mengetahui yang meneleponnya masihkah Sisca.


“Apa dia tidak tahu orang sedang kerja apa... ?” batin Niky yang merasa dongkol kemudian mengambil ponselnya dan merubahnya ke mode silent.


“Nah dengan begini aku bisa tenang dan bisa konsentrasi kembali.” gumamnya meletakkan kembali ponselnya kemeja lalu melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


Sisca pun mengakhiri panggilannya setelah berulang kali menelpon dan tak kunjung diangkat juga.


“Ahh... ya sudahlah mungkin dia sedang sibuk kerja...” ucapnya yang kesal lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu mulai mengerjakan pekerjaannya.


Di lain tempat tepatnya di Pelangi Group tampak Selly yang sedang membaca beberapa tumpuk berkas di mejanya.


Wanita itu tampak membaca dengan cermat satu persatu berkas yang ada di mejanya. Dia membuka lembar demi lembar halaman berkas lalu menaruhnya kemeja kembali setelah selesai membacanya.


Wanita itu terus mengambil berkas yang ada di mejanya hingga dia mengambil berkas yang dikirim oleh Niky beberapa hari yang lalu.


“Ehm...” Wanita itu membaca dengan cermat proposal yang dibuat oleh Niky dan tampak terdiam lama setelah selesai membacanya.


“Sebenarnya bagus konsep yang di tawarkan kali ini. Hanya saja masih perlu keputusan dari Direktur Utama perusahaan ini.” gumamnya setelah menutup laporan milik Niky dan menaruhnya kemeja.


Wanita itu lalu menatap ke depan dan memanggil seseorang.


“Evi... tolong ke sini sebentar.” ucapnya memanggil sekretarisnya.


“Iya... ada yang bisa ku bantu Bu Selly ?” tanya sekretaris itu saat sudah berada di hadapannya.


“Coba telepon Atmaja Group dan sambungkan pada yang mengurusi proyek Wonderland ini. Aku ingin bicara dengannya.” ucapnya lalu mengambil dokumen yang ada di meja dan menyerahkan pada sekretarisnya.


Evi segera menghubungi nomor telepon yang tercantum sebagai contact person di berkas itu.


“drrt.... drtt... drrtt...”


Tampak ponsel Niky bergetar. Dia hanya meliriknya saja tanpa melihatnya lalu kembali menatap layar laptop.


“Mungkin itu telepon dari Sisca lagi. Dasar mengganggu saja...!” umpat Niky dalam hati mengabaikan ponselnya yang terus bergetar.


Ponselnya Niky bergetar lagi namun dia masih mengabaikannya.


“Masih tidak diangkat juga... Baiklah ini yang terakhir kali.”ucap Evi mengulangi panggilannya kembali setelah dua kali tak diangkat.

__ADS_1


“drrt... drtt...” Ponsel Niky bergetar lagi dan membuatnya risih lalu dia asal mengambil dokumen yang ada di mejanya untuk menutupi ponsel itu agar tidak mengalihkan perhatiannya.


Tampak Evi berjalan kembali menuju ke meja Selly dan menyerahkan berkas milik Niky pada wanita itu.


“Maaf Bu Selly contact person yang terdapat pada berkas ini tidak mengangkat setelah aku menelponnya tiga kali...”


Selly menerima berkasnya kembali dari tangan Evi dan meletakkannya ke meja.


“Ya sudah kalau begitu.”jawabnya singkat.


Beberapa jam kemudian saat Nicky sudah selesai mengerjakan laporannya dan menata berkasnya yang ada di meja, dia mengambil ponselnya. Lelaki itu mencoba memeriksa daftar panggilan yang masuk.


“Ini... nomor siapa ya...” Gumamnya lirih setelah mendapati ada nomor baru yang masuk bukan nomornya Sisca.


“Apa mungkin ini....” batinnya tampak pucat lalu segera memeriksa kembali data investor dan memeriksa nomor kontak telepon perusahaan yang terlampir di sana dan mencocokkan dengan nomor yang menghubungi nya.


“Apa... jadi yang menghubungi tadi Pelangi Group... ?!” ucapnya lirih dan tampak terkejut sekali.


“Ya Tuhan... gara-gara Sisca aku jadi melewatkan panggilan penting....” ucapnya menyesal karena tadi tak mengangkat teleponnya.


Dengan terburu-buru dia segera melakukan panggilan balik pada nomor yang barusan menelpon nya.


“kring... kring...” Evi mengangkat telepon di mejanya yang sedang berdering.


“Maaf saya Niky dari Atmaja Group, tadi saat ibu menelepon, aku ada di luar ruangan.” ucap Niky berbohong agar clien nya tidak marah padanya.


“Oh... ya benar tadi ibu seni yang menelepon, tapi sekarang Bu Selly sedang meeting.” jawab Evi menjelaskan.


“Kalau begitu kira-kira kapan aku bisa bertemu dengan ibu Selly ?” tanya Niky dari telepon.


“Maaf... itu tidak bisa dipastikan karena jadwal Ibu Selly padat. Nanti akan aku sampaikan pada ibu Selly.” jawab Evi menjelaskan pada Niky.


Niky segera menutup teleponnya setelah panggilan berakhir dan dia tampak kecewa sekali karena sudah mengabaikannya sebelumnya.


Sore hari sebelum jam pulang Niky kembali mendapatkan telepon dan kali ini dari Sisca.


“Nanti malam ku tunggu kau di hotel Grand Surya Niky.” ucap Sisca sebelum mengakhiri percakapannya ditelepon.


Niky pun hanya bisa menghela nafas panjang setelah menutup teleponnya dan menunggu malam tiba untuk memenuhi panggilan Sisca.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2