Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 99 Side Project


__ADS_3

Tak Berapa lama kemudian Niky dan Cassia keluar dari kamar mandi bersamaan dengan memakai sehelai handuk untuk menutupi tubuh mereka.


Niky masuk ke kamar dan berpakaian dengan cepat karena waktunya sudah mepet. Lima menit kemudian Niky sudah berbau harum keluar dari kamarnya dan berjalan ke kamar Cassia.


“Cassia... aku berangkat dulu...” ucapnya berpamitan pada kekasihnya yang masih berganti baju.


“Ya kak... hati-hati di jalan. Oh ya kak... setelah ini aku mau pulang kembali.” balas gadis itu.


“Kenapa tidak menunggu ku pulang... ?” tanya Niky yang tak ingin gadis itu segera pulang karena dia masih ingin memanjakannya.


“Aku kesini hanya melihat kakak saja. Dan aku masih ada urusan di kampus.” balas Cassia.


“Baiklah... aku akan menghubungimu nanti setelah aku mengisi ponselku dengan sim card baru.” ucap Niky lagi kemudian segera keluar dari rumah karena hari semakin siang dan dia hampir terlambat.


“broom...” maserati putih Niky meluncur di jalanan menuju ke tempat kerja dengan kecepatan tinggi.


Tak berapa lama kemudian dia tiba di tempat kerja. Niky perjalanan keluar dari area parkir menuju ke ruang kerjanya.


Dia duduk setelah menaruh tas kerjanya kemeja. Niky menatap kalender meja yang ada di depannya dan sebuah tanda yang dibuat pada kalender.


“Dua bulan lagi adalah hari kematian ayah. Di hari itu aku harus sudah mendirikan sebuah bisnis sebagai hadiah dari ku untuk mengenang hari kematiannya.” gumamnya mengambil kalender meja dan menerawang jauh ke depan lalu meletakkan kembali kalender itu ke meja.


Niky menyalakan monitornya dan melihat kotak masuk email nya.


“Kosong... kenapa hari ini sama sekali belum ada laporan kerja yang masuk pada ku...” gumamnya setelah menempati kotak masuknya kosong.


“Apa sebaiknya aku tanyakan...” gumam Niky sambil mengangkat gagang telepon di meja.


Niky menaruh kembali gagang telepon yang dipegangnya ke tempatnya setelah berpikir untuk beberapa saat.


“Bukan kah lebih bagus jika begini... jadi aku punya waktu untuk berpikir dan mencari ide tentang merintis usaha baru...” gumamnya tersenyum lebar.

__ADS_1


Namun meskipun begitu Niky tetap menulis sebuah memo yang berisikan tentang deadline pengiriman berkas laporan padanya.


“Klik....beres.” Niky mengirimkan memo itu pada alamat email staf accounting.


Di lain tempat di ruang staff accounting. Tampak Joey dan yang lainnya yang pucat saat menerima pesan elektronik mail dari atasan mereka.


“Huft... untung saja dead line laporan ini masih dua minggu lagi.” ucap Angel dan staf lainnya yang tampak tersenyum lega.


Kembali pada Niky yang sekarang sibuk di ruangannya. Dia sudah berpikir dan akhirnya memutuskan jika dia akan merintis bisnis baru di bidang elektronik.


“Apa ya kira-kira nama yang sesuai untuk perusahaan yang akan ku rintis nanti ?” gumamnya sambil mengetuk kan jari tangannya satu per satu kemeja.


Niky kembali melihat monitor dan mencoba untuk browsing mencari nama-nama yang menurutnya bagus. Dia pun menuliskan pada sebuah buku kosong semua nama yang sekiranya bagus dan tinggal memilihnya nanti.


“Apa lagi ya...” gumamnya setelah selesai menulis beberapa daftar nama.


“Bangunan gedung dan para pekerjanya...” ucapnya lirih. Dia pun menuliskan semua siapa saja kontraktor berkompeten yang akan dipilihnya untuk membangun perusahaannya.


Niky kembali menatap monitor dan masuk ke aplikasi desain untuk menggambar denah perusahaannya.


Tiga jam kemudian lelaki itu selesai menggambar konsep gedung perusahaannya dan menyimpannya pada folder khusus.


“Huft... aku lelah... nanti aku lanjutkan lagi.” gumamnya menaruh mouse yang dipegangnya dan menyadarkan sejenak baunya yang terasa sangat kaku di kursi kerjanya empuk.


“Ayah... sebentar lagi aku akan mewujudkan keinginanmu...” gumam Niky lirih sambil tersenyum lebar menatap jauh ke luar.


“tick... tick...” suara jam dinding yang berdetak dan tak terasa waktu menunjukkan pukul 12.00.


Niky terdiri dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan menuju ke tempat parkir.


“broom...” Niky melajukan maserati putihnya di jalanan.

__ADS_1


Di tengah jalan dia teringat jika ponselnya masih belum menyala saat melihat ada beberapa counter di tepi jalan.


“Oh ya benar...aku mau beli sim card baru untuk ponsel ku.” batinnya lalu menghentikan mobilnya di salah satu counter.


Niky turun dari mobil dan berjalan menuju ke salah satu counter besar.


“Tolong satu kartu perdana bernomor cantik...” ucapnya pada lelaki penjaga counter yang ada di sana.


“Silahkan...” balas penjaga counter itu mengeluarkan beberapa perdana dengan nomor cantik.


Niky memilih satu kartu perdana bernomor cantik dan segera membayarnya.


“Puk...” ada seseorang yang menepuk bahu Niky dari belakang saat dia mau pergi dari sana.


Niky menoleh ke belakang dan ada seorang wanita seksi tersenyum padanya.


“Amanda... sedang apa kau di sini... ?” tanya Niky memaksakan wajahnya tersenyum meskipun sebenarnya dia gugup bertemu dengan salah satu klien wanitanya.


“Hay Niky... belakangan ini nomormu tidak aktif. Ku kira kau ke luar kota, ternyata masih di sini. Aku beruntung sekali bisa bertemu denganmu...” ucap Amanda menatap Niky.


“Ya... tentu saja aku masih di sini. belakangan ini aku agak sibuk memang...” balasnya mencoba tenang dan mencari cara agar bisa segera pergi dari sana.


“Apa aku boleh minta nomormu yang baru... ?”


“Nomor ku sebenarnya tetap hanya saja ponsel ku beberapa waktu ini ada di tempat service. Amanda maaf... aku harus segera pergi.” jawab Niky tak mau berlama-lama bicara dengan wanita itu sebelum dia benar-benar tak bisa kabur darinya.


Niky jalan cepat dan masuk ke pasar hati putihnya kemudian melajukan nya dengan kecepatan tinggi di jalan raya.


Sementara Amanda tampak kesal kenapa tadi dia tak memaksa saja meminta nomor baru Niky karena menurutnya lelaki itu sudah bohong padanya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2