Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 125 Kenyataan Pahit


__ADS_3

Tak lama kemudian Cassia dan Fiona tiba di kamar Fiona. Fiona menarik nggak di situ masuk ke kamarnya kemudian mengajaknya duduk di tempat tidur.


“Kak... maaf kamarku berantakan...”ucap Fiona duduk di samping Cassia.


“Mau kakak bantu menata kamar mu ?”ucapnya menawarkan bantuan.


Fiona merasa senang pada Cassia yang perhatian padanya namun dia tetap menolaknya.


“Tidak usah kak... aku bisa bereskan sendiri.”jawab Fiona menolak.


Cassia berdiri dan memegang bahu Fiona.


“Fiona... kau bilang menganggap ku sebagai kakakmu. Jika benar seperti itu maka kau jangan sungkan padaku.”ucapnya sambil tersenyum lebar pada Fiona.


“Tapi kak...” balas Fiona masih menolaknya.


“Ssts... tak ada tapi-tapian. Ayo kita bereskan kamarmu sekarang.”balas Cassia menarik tangan Fiona.


Fiona pun tak bisa menolak lagi bantuan dari Cassia. Dia pun akhirnya membiarkan kekasih kakaknya itu membantu dirinya membereskan kamarnya.


Cassia mengambil boneka-boneka yang jatuh di lantai dan menatanya di tempat tidur Fiona. Sementara Fiona memungut barang-barang nya yang tercecer dan menatanya ke meja.


Cassia melihat buku di meja lain berantakan. Dia pun menuju ke meja itu dan menata buku-buku Fiona yang tampak berantakan.


“buk... !”tanpa sengaja Cassia menjatuhkan sebuah album foto yang terselip di antara beberapa buku ke lantai.


Dia pun mengambil album foto tadi. Karena penasaran dia pun membuka lembaran demi lembaran album foto itu.

__ADS_1


Cassia melihat kedekatan dan kekompakan keluarga Niky. Senyum selalu menghiasi foto bersama keluarga itu. Tatapannya terhenti saat melihat foto bersama di depan sebuah perusahaan, Sun Group.


“Kenapa mereka semua berfoto di depan perusahaan ini... apa ini adalah perusahaan ayahnya kakak Niky... ?”batin Cassia terkejut saat melihat foto tadi.


Fiona sudah selesai menata barangnya menghampiri Cassia yang terpaku menatap album foto.


“Kakak Cassia kenapa... ?”tanya Fiona ikut berjongkok di samping kasih ya yang sedang berjongkok.


“Tidak... kakak hanya melihat saja foto keluarga kalian. Dan kakak pernah melihat perusahaan ini.”ucap Cassia mencoba memancing agar Fiona mau bercerita padanya.


Fiona melihat foto yang ditunjuk oleh Cassia. Dia pun menceritakan juga perusahaan di belakang mereka merupakan perusahaan ayahnya dulu yang sempat jaya. Dan akhirnya dia pun menceritakan semua kejadian tragis itu pada Cassia.


“Oh... jadi begitu...”jawab Cassia menutup album foto yang dipegangnya dengan gemetar kemudian segera mengembalikan ke meja dan menatanya bersama buku-buku lain.


Cassia merasa syok kemudian duduk di lantai bersandar ke dinding. Dia akhirnya ingat sosok lelaki yang merupakan ayah dari kekasihnya itu bernama Osman. Lelaki yang merupakan rival terkuat ayahnya beberapa tahun yang lalu. Namun tiba-tiba Sun Group bangkrut tanpa sebab yang jelas dan semua keluarganya diberitakan sudah meninggal.


Fiona menatap Cassia yang tiba-tiba menjadi pucat.


“Kak... apa kakak tidak enak badan ? Jika begitu kakak Istirahatlah sebentar di kamarku...”ucap Fiona menarik Cassia berdiri dan mengajaknya duduk di tempat tidur.


“Oh Fiona... tidak hanya merasa sedikit pusing saja nanti juga akan baik sendiri.”balas Cassia sambil tersenyum pada Fiona agar gadis itu tak mengkhawatirkan dirinya.


“Kakak tunggu sebentar di sini aku akan mengambilkan air minum untuk kakak...”balas Fiona kemudian berdiri dan keluar dari kamar untuk mengambil air minum.


Cassia merasa sedikit kacau sekarang setelah mengetahui fakta itu.


“Jadi kakak Niky adalah putra dari rival ayah... ? Lalu bagaimana jika kakak Niky sampai mengetahui jika aku adalah putri dari rival ayah nya... ? Apakah kakak Niky akan membenci ku... sedangkan aku sudah menjalin hubungan terlalu dalam dengannya.”batin Cassia yang merasa kepalanya semakin pusing.

__ADS_1


“Lalu bagaimana juga dengan Ayah nanti... jika tahu aku menjalin hubungan dengan putra rivalnya ?”batinnya lagi yang merasa sekarang semuanya menjadi rumit.


Cassia merasa tak bisa berpikir lagi dan dia pun menyadarkan kepalanya yang terasa berat ke dinding.


Di lain tempat, Niky keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu untuk mencari kekasihnya. namun dia tidak menemukan gadisnya di sana.


Niky berjalan kembali menuju ke ruang tengah dan berpapasan dengan Fiona yang menuju ke dapur untuk mengambilkan Cassia air minum.


“Apa kau tahu di mana kakak Cassia saat ini ?”tanyanya pada adiknya.


“Kakak Cassia ada di kamar ku. Barusan sepertinya tidak enak badan, coba kakak periksa ke sana.”balas Fiona kemudian masuk menuju ke dapur.


Niky berjalan menuju ke kamar Fiona. Dia pun masuk ke kamar adiknya dan melihat Cassia yang duduk bersandar ke dinding dengan wajah pucat.


“Kakak Niky...”ucapnya saat melihat Niky masuk dan duduk di sampingnya.


“Ada apa dengan mu... kenapa kau terlihat tidak sehat ?”tanyanya sambil menyentuh kening gadisnya untuk memeriksanya.


Cassia tidak menjawab dan langsung memeluk Niky dengan erat. Dia tidak bisa mengungkapkan semua yang dia rasakan saat ini dan membaginya dengan Niky.


“Kakak... aku mencintaimu. Kau tak akan meninggalkan diriku kan...?”tanya Cassia lalu beralih memegang kedua pipi Niky.


“Tentu tidak sayang... aku juga mencintai mu...”balas Niky yang melihat gadis itu gelisah tanpa sebab.


Niky melihat mata Cassia yang berair namun tidak menangis. Dia tidak tahu apa masalahnya. Dan dia mencoba menenangkan gadisnya dengan mencium bibir merahnya yang bergetar.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2