Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 94 Balas Dendam Dimulai


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Niky berbaring di samping Cassia. Sementara Cassia memeluk Niky dengan erat sambil menyandarkan kepalanya ke dada Niky.


“Kakak... kita tidak akan putus kan... ?” tanya Cassia sambil membelai pipi Niky.


“Tidak sayang...” ucap Niky balas memeluk Cassia.


“Terima kasih... Cassia kau sudah memberikan sesuatu yang paling berharga pada ku...” ucap Niky membelai lembut pipi Cassia lalu mencium bibirnya.


“Apa kau tidak menyesal...” tanyanya setelah mengakhiri ciuman.


“Tidak kakak...” jawabnya semakin mempererat pelukannya dan mencium bibir Niky.


Darah Niky kembali memanas dan bergejolak setelah menyentuh bibir lembut Cassia. Dia pun tak bisa menahan dirinya lagi dan memiringkan tubuh Cassia.


“Cassia... aku mencintai mu...” ucapnya sambil memeluk erat pinggang Cassia dan kembali membenamkan tubuhnya.


“Ahh... kakak... apa kau tidak akan terlambat bekerja ?” tanya Cassia sambil mendesah dan memeluk erat pinggang Niky.


Niky berhenti lalu melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. Dia pun berniat menarik tubuhnya dan mengakhiri, namun Cassia yang sudah terlanjur merasakan kenikmatan tak membiarkan lagi itu turun dari ranjang dan malah menarik tubuh Niky ke atas tubuhnya.


“Cassia... kau bilang...” ucap Niky balas memeluk gadis itu.


“Jangan pergi dulu kak... selesaikan dulu...” balas Cassia sambil mencium dada Niky.


“Baiklah... tapi aku akan mengakhirinya dengan cepat.” kata Niky sambil mencium bibir Cassia lagi dan membuatnya bergairah kembali.


Niky kembali membenamkan tubuhnya lalu membuat Cassia berada di atas tubuhnya. Dia memeluk erat pinggang Cassia dan menggerakkan nya dengan cepat.


“Ahh... ahh... kakak Niky...” ucap Cassia yang terus mendesah karena merasa tubuhnya seolah melayang di awang-awang lalu menyandarkan kepalanya ke dada Niky dan membiarkan lelaki itu mengambil alih.


“Aah... aah...”Cassia dan Niky mendesah panjang bersamaan.

__ADS_1


Sesaat kemudian Niky membalik tubuh Cassia dan dia segera berdiri. Niky memakai kembali pakaian kerjanya. Sementara itu Cassia masih terbaring lemas di tempat tidur dengan mata merah seperti orang sedang mabuk.


“Sayang... aku berangkat kerja dulu.” ucap Niky berpamitan sambil mencium kening Cassia.


“Ya kakak... cepatlah pulang...aku masih sangat rindu padamu.” balas Cassia duduk sambil tersenyum.


Setelah Niky pergi, Cassia bercermin dan melihat banyak sekali kissmark di leher dan dadanya. Dia pun kemudian memakai pakaiannya.


“Ah... noda darah ini...” pekik Cassia saat melihat darahnya di sprei.


“Sebaiknya aku ganti sprei kotor ini dengan yang baru.” gumamnya.


Cassia menarik sekolah yang ada bekas darahnya dan menggantinya dengan sprei baru yang bersih lalu memasukkannya ke mesin cuci.


Dia pun merasa badannya lengket penuh dengan keringat yang sudah mengering. Dia pun bergegas masuk ke toilet dan berendam di bathtub sambil bayangkan kembali apa yang barusan dia lakukan dengan Niky.


Sementara itu Niky terus melirik jam tangannya dan dia mempercepat laju mobilnya agar tidak telat sampai ke kantor.


Tak lama kemudian Niky tiba di tempat parkir. Dia berjalan dengan cepat setelah turun dari maserati putihnya.


“Kurang lima menit lagi masuk.” gumamnya terus melihat arloji di tangan kirinya saat berjalan.


Dia pun segera absen begitu tiba di ruangannya. Padahal sebenarnya tak masalah juga jika lelaki itu terlambat.


“Untung saja aku tidak terlambat...” ucapnya lirih lalu duduk ke kursi.


Niky menyandarkan bahunya ke kursi sambil menarik nafas panjang setelah di buru waktu dan aktivitas paginya bersama Cassia untuk mengumpulkan tenaganya kembali.


Dia menyalakan laptop dan pikirannya masih melayang pada Cassia pada apa yang sudah dilakukannya pada gadis itu.


“Apa yang telah kulakukan pada Cassia... aku tak ingin menjadikan nya pelampiasan balas dendam ku. Tapi semuanya sudah terlanjur...” desah Niky yang merasa menyesal dengan perbuatannya.

__ADS_1


Dia merasa hidupnya rumit dan dia jadi tak bisa membedakan antara cinta dan dendam yang ada dalam dirinya setelah kejadian barusan.


“tik... tik...” Niky menjentikkan jarinya di atas keyboard dan mulai bekerja namun pikirannya tetap tak bisa fokus.


“Argh.... aku tak bisa mundur hanya karena cinta...” gumamnya sambil menaruh mouse dan menatap kosong keluar ruangan.


Niky pun mengesampingkan rasa cintanya pada Cassia sementara waktu agar dia bisa berpikir dengan jernih.


Lama lelaki itu terdiam dan berpikir. Dia pun kemudian menemukan beberapa ide sebagai langkah awalnya untuk menuntaskan dendamnya pada Wardana.


“srak... srak....” Niky mulai menulis pada sebuah buku kosong semua ide yang bermunculan dalam otaknya dengan cepat sebelum dia lupa pada ide itu.


Selesai menulis Niky membaca kembali apa yang telah ditulisnya sebagai afirmasi untuk menguatkan target dan tujuannya selama ini.


“Klik... !” Setelah mengingat apa yang ditulisnya dia memasukkan buku saku itu ke dalam laci dan menguncinya.


Tiga puluh menit kemudian dia kembali menatap layar laptopnya dan mulai bekerja. Dia membuka satu persatu laporan keuangannya dikirimkan padanya dan memeriksanya.


Di tengah kesibukannya dia mendengar nada pesan masuk pada ponselnya.


“Ding....ding...”


Niky mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan mengusap layar ponselnya.


“Pesan dari Cassia... ?” gumamnya saat dia melihat ada pesan masuk dari gadis itu. Niky mencoba membacanya.


“Kakak... cepatlah pulang... aku rindu sekali dengan mu. Aku tak bisa melupakan kejadian barusan.” gumam Niky membacanya dengan lirih.


Dia pun tersenyum lebar membaca pesan dari Cassia dan mengetik pesan untuk membalasnya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2