
Sore harinya Niky yang merasa pusing dengan beban kerjanya yang berat memilih mematikan ponselnya. Dia tak ingin di ganggu malam ini oleh siapapun termasuk Sisca ataupun Selly.
“Sebaiknya aku pergi ke mana...” batin Niky mengendarai maserati putihnya di tengah jalan tanpa tujuan yang pasti.
“Apa sebaiknya aku pulang ke rumah saja...” gumam Niky teringat pada senyum ibu dan kedua adiknya.
“Ah... tidak... aku ingin sendiri kali ini... entah kemanapun itu.” ujarnya lagi.
Niky memacu jalannya sampai di ujung jalan dan berhenti di sebuah jembatan di suatu tempat yang sepi.
“Ckiit...” Niky menghentikan mobilnya di tepi jembatan. Dia lalu keluar dari mobilnya dan menepi ke jembatan.
Di malam itu hanya ada dirinya sendirian di sana bahkan tak ada seekor burung pun yang terbang di sana.
“Sepi... sekali.... tenang...” ucapnya saat duduk di jembatan dan melihat ke atas menatap langit.
Jutaan bintang bertaburan di langit dan bersinar terang menyinari hatinya yang kelam.
“Di malam yang sesunyi ini aku sendiri tiada yang menemani...” gumamnya tersenyum sendiri menatap bintang di langit.
Dia teringat pada luka di hatinya satu per satu yang telah menyayat hatinya dan membuat nya menjadi emosi.
“Tuhan... apa salahku padamu... Kenapa kau membuat hidupku tidak sesuai dengan apa yang ku harapkan. Semua diluar kendaliku tanpa aku bisa mengontrolnya...” ucap nya berteriak sambil menatap ke langit.
“Apa kau pernah menyayangiku... ?Kenapa kau membuat hidup ku seperti ini ?! sebegitu senangnya kah kau membuatku menderita ?” ucapnya berteriak sebagai wujud protes sambil memukul dadanya yang terasa sesak.
“Hah...” Niky menundukkan kepala dan menatap air di bawah jembatan. Dia mengambil beberapa Kerikil yang ada di sekitar kakinya dan melemparkannya ke sungai untuk meredakan kekesalan hatinya.
“Jika kau benar-benar mengasih umatmu... tolong bantu aku keluar dari semua masalahku Tuhan... !!! Teriaknya sambil melempar batu ke atas yang jatuh ke sungai.
Di lain tempat di sebuah hotel. Tampak Sisca yang sedari tadi sedang menelepon Niky namun tidak tersambung.
“Sekali lagi... aku akan mencoba meneleponnya lagi.” ucap Sisca kembali menelepon Niky setelah sudah dua puluh kali mencoba meneleponnya.
“Kemana sih sebenarnya dia... Kenapa dia mematikan ponselnya ? Tidak tahu apa aku sangat membutuhkannya saat ini...” umpatnya kesal lalu melempar ponselnya dengan keras ke tempat tidur bersamaan dengan merebahkan tubuh.
Di lain tempat juga terjadi hal yang sama. Malam itu tampak Selly sedang duduk di kamarnya sambil mengenakan lingerie super seksi dan terus menghubungi ponsel Niky.
__ADS_1
“Kenapa dari tadi tak bisa dihubungi...Niky sayang... aku sangat merindukanmu malam ini.” gumam Selly meletakkan ponselnya kembali ke meja setelah berulangkali menelepon dan tidak tersambung.
Kembali ke Niky yang masih ada di jembatan. Lelaki itu berdiri di tepi jembatan sampai larut malam. Tampak beberapa kali dia menguap dan matanya sedikit berat.
Dia pun berjalan kembali menuju ke maserati putihnya namun dia tidak masuk ke dalam nya, melainkan berbaring di atas kap mobilnya.
“Begini lebih bagus...” ucap Niky sambil menatap ke atas langit. Tak beberapa lama kemudian lelaki itu tertidur di sana di tengah dinginnya malam yang sepi.
Pagi hari Niky membuka mata dengan pikiran yang sudah fresh. Benda pertama yang dia lihat adalah jam tangannya.
“Jam berapa ini...” gumamnya mengangkat tangannya untuk melihat jam di tangannya.
“Masih terlalu pagi rupanya...” gumamnya lagi lalu mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan menyalakannya kembali.
Dia melihat ada banyak sekali panggilan tak terjawab Dan pesan masuk dari Sisca dan juga Selly.
“klik... !” Tanpa membacanya Dia segera menghapus semua pesan masuk dan juga panggilan masuk dari dua wanita itu lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku baju.
Tiga puluh menit kemudian, Niky memutuskan untuk kembali dan berangkat kerja. Dia melanjutkan maserati putihnya ke jalanan dan mampir sebentar ke warung makan untuk mengisi perutnya sebelum berangkat kerja.
“broom...” Selesai makan Niky kembali meluncur di jalanan. Kali ini pikirannya benar-benar sudah fresh dan dia sudah bisa berpikir dengan jernih lagi seperti biasanya.
Tak beberapa lama kemudian Niky tiba di tempat kerjanya. Dia duduk di kursinya dan dengan semangat menyiapkan proposal Wonderland untuk jalan investor berikutnya.
Dia sudah selesai mengerjakan proposalnya dan tinggal menunggu hasil cetaknya. Sambil menunggu lelaki itu menusukkan pena ke dagunya dan berpikir.
“Mayoritas calon investornya adalah seorang wanita. Menurutku para wanita suka dengan lelaki tampan. Apa mungkin aku harus mencoba menggoda mereka agar semua proposal ini gol ??” batinnya setelah menemukan ide nakal dalam pikirannya.
“Ya benar hanya menggoda saja tidak lebih...” batinnya lagi sambil tersenyum simpul.
“Tak ada salahnya dicoba...” ucapnya lirih kemudian menaruh pena yang dipegangnya kembali ke meja.
Lelaki itu tampak bersemangat kembali. Setelah beberapa berkas laporannya selesai, dia pun segera keluar dari ruangannya dengan membawa berkas tadi bersamanya.
“broom...” Tampak Niky melajukan maserati putihnya menuju ke suatu perusahaan untuk melawankan berkas berpuasa Wonderland.
“brak...” Niky menutup kembali pintu mobil setelah keluar dari sana. Dia pun jalan masuk ke perusahaan dan menemui resepsionis untuk menyampaikan maksud kedatangannya.
__ADS_1
“Pagi... maaf bisa minta bantuannya ? Saya dari Atmaja Group mau mengajukan kerjasama dalam proyek Wonderland, ingin bertemu dengan manajer atau pimpinan lainnya di perusahaan ini, apa bisa ?” tanya Niky saat sudah berada di depan petugas resepsionis.
“Baik... mohon di tunggu sebentar dulu.” jawab petugas resepsionis itu kemudian mencoba menghubungi manajer di perusahaan itu.
“Silahkan ikuti saya...” ucap Apa tugas resepsionis mengantar Niky ke ruang tamu.
Niky duduk menunggu sambil melepas dua kancing atas kemejanya yang memperlihatkan dada bidangnya yang beraroma tulip segar.
Sesaat kemudian datanglah seorang wanita manis berusia 30 tahunan berambut sebahu masuk ke ruangan itu.
“Pagi... perkenalkan aku Dinar.” sapa wanita itu setelah masuk ke ruang tamu dan menjabat tangan Niky.
“Niky dari Atmaja Group.” balasnya sambil tersenyum dan menjabat lembut tangan wanita itu.
Sengaja Niky berpose menggoda di depan wanita itu dan melihat reaksinya.
“Jadi saudara Niky apa yang anda tawarkan pada perusahaan ini ?” tanyanya wanita itu setelah duduk di depan Niky.
“Ini... tolong di baca dan dipelajari dulu.” jawabnya menyerahkan proposal proyek Wonderland pada wanita itu.
Wanita itu tampak membaca dan mempelajari proposal yang diajukan oleh Niky padanya. sesekali wanita itu melirik dada bidang Niky yang terlihat dari balik kemeja ya.
“ulala... lelaki ini seksi sekali...” batin wanita itu sambil menelan ludah dan kembali menatap proposal di tangannya.
“Jadi bagaimana Bu... apakah bersedia menjadi investor ?” tanya Niky sambil menggerakkan tangannya yang kembali membuat darah bidangnya tersingkap dan nampak beberapa bulu lembut tumbuh di sana.
“Ya....” jawab wanita tadi melirik kembali kemeja Niky yang tersingkap.
“Jadi anda setuju menjadi investor kami ?” tanya Niky menegaskan kembali apa yang barusan didengarnya.
Sementara wanita tadi tampak gelagapan dan apa yang telah diucapkannya secara tak sadar dan tak mungkin menarik ucapannya kembali.
“Ehm... baiklah... urusan ini bersedia menjadi investor dari proyek Wonderland, namun aku ingin bertemu denganmu secara pribadi di luar jam kerja.
“Ya tentu saja, terima kasih Bu.” jawab Niky gembira dan tersenyum lebar tanpa merasa curiga sedikitpun.
BERSAMBUNG....
__ADS_1