
Keesokan harinya Niky bangun dari tidur dan menoleh ke samping kiri menatap Cassia yang masih tertidur dan memeluknya di balik selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka.
Niky mengecup kening Cassia yang membuat gadis itu terbangun karenanya.
“Kakak... kau sudah bangun... ?” ucap Cassia membuka mata dan mencium pipi Niky.
Niky menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul 05.00 pagi. Dan merasa waktunya masih panjang.
“Sayang... masih terlalu pagi bagiku untuk berangkat kerja. Apa kau masih kuat... ?” tanya Niky mulai mencium kembali bibir Cassia.
“Emm...” Cassia tak bisa menolak walaupun sebenarnya dia merasa lelah setelah semalam bergulat dengan Niky sampai tiga ronde, dan hanya bisa pasrah saat lelaki itu menarik selimut yang menutupi tubuh mereka agar dia bisa leluasa bergerak.
Niky sudah berada di atas tubuh khasiat dan memeluknya dengan erat sambil membenamkan tubuhnya.
“Aah... kakak...” desah Cassia sambil memeluk pinggang Niky erat.
Entah kenapa Niky tak bisa mengontrol dirinya saat berada di dekat Cassia dan terus semuanya mendesah dalam pelukannya sepanjang hari.
Sembilan puluh menit kemudian Niky kembali berbaring di samping Cassia dengan keringat bercucuran.
Setelah keringatnya kering dan staminanya sedikit pulih, Niky berdiri dan keluar dari kamar bersiap untuk berangkat kerja.
Sedangkan Cassia segera bangun dan memakai bajunya.
“Argh.... pinggang ku sakit sekali rasanya...” rintih Cassia saat mencoba berdiri setelah menghabiskan tiga malamnya bersama Niky.
Gadis itu mengambil bajunya yang berserakan di lantai dan mengenakannya lalu kembali duduk di tempat tidur. Karena merasakan pinggangnya masih nyeri, dia pun kembali merebahkan dirinya di tempat tidur.
Tak berapa lama kemudian Niky
__ADS_1
keluar dari kamar mandi dan sudah memakai baju lengkap.
“Sayang... aku berangkat dulu...” ucap Niky berpamitan pada khasiat dan kembali masuk ke kamarnya.
“Kau tertidur rupanya...” gumamnya sambil tersenyum dan mengocok kening Cassia.
“Tunggu aku pulang sayang... aku akan memanjakan mu lagi malam nanti.” gumam Niky lalu berjalan keluar dari kamar dan berangkat ke tempat kerja.
Tak beberapa lama kemudian Niky tiba di tempat kerjanya. Dia keluar dari tempat parkir dan berjalan menuju ke ruang kerjanya. Di jalan beberapa staf menyapanya.
“Selamat pagi Pak Niky...” sapa salah seorang staf dari lembaga lain dengan sopan.
“Pagi...” balas Niky dengan tersenyum meskipun dia tak mengenal siapa lelaki tadi.
“Aneh sekali... setelah aku naik jabatan, beberapa pekan ini banyak staf yang tidak ku kenal menyapa ku. Ah sudahlah itu tak penting bagiku...” batin Niky saat bertemu beberapa staf lain yang juga menyapanya dengan sopan.
“duk...” Niky duduk di kursinya dan menaruh tasnya ke meja. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap layar laptopnya.
“Cassia... aku tak menyangka kau bisa bertahan dengan ku selama tiga hari ini...” gumamnya sambil tersenyum saat teringat suara ******* Cassia yang tak bisa ia lupakan.
Niky mencoba mengalihkan pikirannya dari Cassia dengan menyebutkan dirinya.
“Sudah berapa banyak laporan yang masuk kali ini...” gumamnya menatap monitor dan melihat inbox nya penuh.
Niky membaca dan memeriksa satu persatu laporan keuangan yang masuk padanya dengan teliti.
“Huft... aku perlu istirahat sebentar.” gumamnya setelah merasa lelah memeriksa banyak laporan keuangan yang masuk sampai siang hari.
“krak... krak...” Niky meregangkan ototnya tangan dan pinggangnya yang terasa kaku lalu menyadarkan kembali punggungnya ke kursi.
__ADS_1
Dia duduk tegak di kursinya menatap monitornya. Tiba-tiba dia teringat pada sebuah rencana yang dia tulis pada buku sakunya.
Niky membongkar lagi dan mengeluarkan buku sakunya. Dia mulai membuka halamannya dan membaca apa yang sudah dia tulis sebelumnya.
“Benar... aku harus mendirikan sebuah kantor yang bisa menyanyi salah satu bisnis Wardana.” ucapnya lirih setelah selesai membaca tulisan tangan nya.
Tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya dari balik saku bajunya.
“klik...” Niky mengusap layar ponselnya dan masuk ke aplikasi mobile banking. Dia pun mengetikkan kode sandinya lalu masuk ke menu utama untuk melihat saldonya yang sudah lama tak pernah dia cek.
“Wow... sepertinya tabunganku ditambah dengan gaji ku setelah mendapat jabatan baru cukup untuk membangun sebuah perusahaan.” gumam Niky sambil tersenyum kecil saat melihat saldo rekeningnya yang hampir mencapai bilangan triliun.
“Jika begitu aku harus memutuskan untuk membangun perusahaan di bidang apa.” gumamnya lagi lalu menutup kembali aplikasi mobile banking nya.
Lama lelaki itu diam dan berpikir mencari bisnis tepat yang akan dikembangkannya namun dia belum menemukan ide.
“Hmm... kenapa tak terpikirkan olehku...” batinnya setelah terlintas sebuah ide di otaknya.
Dia pun mencari di internet dan melihat apa saja bisnis Wardana yang saat ini sedang melejit dan bermaksud menyainginya.
Satu jam kemudian Niky keluar dari kantor saat jam istirahat. Dia pun bergegas kembali ke rumah karena ingin makan siang bersama Cassia di rumah.
Niky melanjutkan maserati putihnya di jalanan. Di tengah jalan dia melihat sebuah rumah makan dan berhenti sebentar.
“Pasti Cassia tidak masak... lebih baik aku memesankan beberapa menu untuknya juga.” gumamnya kecil saat turun dari mobil dan memesan makanan.
Setelah selesai memasang dia pun keluar dari rumah makan itu dan kembali masuk ke maserati putihnya.
Baru saja dia duduk ponselnya berdering. Dia mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan menaruhnya ke dasbor mobil setelah melihat siapa peneleponnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...