Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 44 Sisca Setuju Untuk Membantu


__ADS_3

Pagi harinya Niky bangun dan melihat Sisca yang masih tertidur pulas meskipun dia berulang kali mencoba untuk membangunkannya.


“Sudahlah biarkan saja dia tidur...” gumamnya lalu turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.


Tak beberapa lama kemudian dia keluar dari kamar mandi. Melihat Sisca yang masih tertidur pulas, dia Meninggalkan pesan di meja yang ditulis pada secarik kertas.


“klik...” Niky mengunci pintu kembali setelah keluar dari sana. Dia kemudian segera menuju ke tempat parkir dan mengendarai maserati putihnya menuju ke jalan raya.


Tak lama kemudian Niky tiba di tempat kerja. Dia segera duduk di kursinya dan memutar pinggangnya yang terasa pegal ke samping kiri dan ke samping kanan.


“krak... krak...” Joey yang ada di sebelah Niky seketika langsung menoleh padanya.


“Wow... Niky... fantastis sekali. Aku baru mendengar suara gemeretuk yang keras seperti itu. Kau habis olahraga apa di pagi buta begini ?” tanya Joey yang nyerocos tiba-tiba.


Dari meja lain ada yang membalas omongan Joey. Tampak Angel menatap Niky setelah berfantasi liar.


“Niky olahraga di tempat tidur...” ucap Angel spontan setelah berimajinasi membayangkan dirinya bersama Niky melakukan kegiatan itu.


“Apa.... !? Tidak... tidak aku tidak melakukannya. Aku hanya jogging pagi saja.” jawab Niky sambil menelan ludah dan heran kenapa Angel bisa mengetahuinya.


“Kau ini pagi-pagi sudah ngelantur...” ucap Bella pada Angel sambil menjitak kepala gadis itu.


“Hahaha....” terdengar suara tawa dari yang lainnya di ruangan itu.


“tap... tap...” Jessi masuk dan mendengar suara berisik di ruangan lalu menatap ke sekitar.


“Kalian semua pagi-pagi begini sudah berisik... !” ucap Jessi pada semua staf yang ada di sana. Sontak saja semua staf yang ada di sana seketika terdiam, termasuk Niky. Tak ada yang bercanda lagi dan semuanya kembali serius menatap layar laptopnya setelah lady killer datang.


Niky kembali mengecek daftar investor pada layar laptopnya. Dia kembali membaca daftar nama Para investor yang harus dia follow up.


Di lain tempat, tampak Sisca yang baru bangun dari tidur dan menatap ke sekitar.


“Hah... jam berapa ini... ?” pekiknya saat melihat sinar matahari yang masuk melalui kisi-kisi di dinding kamar hotel.


“Astaga sudah jam 09.00 dan aku baru bangun. Ini gara-gara semalam aku lembur bersama Niky.” gumamnya setelah menatap jam dinding yang ada di kamar itu.

__ADS_1


Dia pun segera beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Keluar cari kamar mandi dia mengambil tasnya yang ada di meja.


“Apa ini...” ucapnya saat melihat secarik kertas yang dilipat dengan cantik di sebelah tasnya. Dia kemudian mengambil surat itu dan mulai membacanya.


“Ha...” Sisca tersenyum kecil setelah selesai membaca surat dari Niky yang menagih janjinya.


Tiga puluh menit kemudian Sisca keluar dari hotel dan berangkat menuju ke tempat kerjanya.


“Ting...” pintu di ruangannya terbuka dan wanita itu segera masuk lalu duduk di kursinya.


“Evi... selama aku tak ada ditempat apa ada sesuatu yang urgent... atau ada yang mencari ku ?” tanyanya pada sekretarisnya yang duduk di seberang meja kerjanya.


“Ah Bu Sisca... tidak ada yang urgent atau pun yang mencari ibu hanya beberapa dokumen saja yang harus segera ditandatangani dan sudah aku taruh di meja ibu.” jawab Evi sambil memandang Atasannya itu yang tampak segar dari hari ke hari.


“Ya sudah kalau begitu...” jawab Sisca datar lalu memeriksa berkas yang ada di mejanya.


Sementara itu Evi terlihat beberapa kali mencuri pandang ke arah atasannya itu karena merasa ada yang berbeda pada wanita itu akhir-akhir ini.


“Kenapa ya Bu Sisca akhir-akhir ini sering terlambat dan juga terlihat lebih ceria dari biasanya....” batinnya mengamati wanita itu kembali dan segera menatap monitor di mejanya saat Sisca menyadari dia sedang menatapnya.


“Aku baru bisa membantu dia jika dia sudah mengirimkan proposal ke dua perusahaan itu.” gumamnya sambil mengetukkan jari telunjuknya kemeja nya yang terbuat dari kaca.


Sisca mengeluarkan ponsel dari tas kemudian memencet nomor telepon Niky, namun dia membatalkan niatnya untuk menelepon Niky dan lebih memilih mengirimkan pesan teks padanya.


“Pasti dia akan me-reject panggilanku jika aku menghubunginya.” gumamnya lalu mengetik pesan text dan segera mengirimkan nya pada Niky setelah selesai menyampaikan maksudnya.


“Ding...” ponsel Niky berbunyi yang menandakan ada pesan yang masuk. Dia segera mengambil ponsel yang di taruh nya di meja dan segera membukanya.


“Sisca... ??” batinnya saat mengetahui jika pengirim pesan itu adalah wanita itu. Dia pun dengan malas membukanya dan akhirnya membacanya.


“Tik... tik...” Tampak Niky mengetik pesan balasan untuk Sisca dan segera mengirimnya.


“Baiklah... aku akan menyiapkan proposal nya sekarang juga.” Gumam Niky lirih lalu kembali Menatap layar laptopnya dan mulai menggerakkan jemarinya di atas keyboard mengetik dengan cepat.


Beberapa saat kemudian setelah dia selesai mengetik proposal dan pencetaknya Dia segera bergegas menuju kedua perusahaan itu sebelum jam istirahat siang.

__ADS_1


“bam...” Tibalah Niky di Sinar Tech. Dia menutup pintu maserati putihnya dan masuk ke perusahaan itu.


Sesampainya di lobby dia menuju ke petugas resepsionis untuk menyerahkan proposal nya.


“Terima kasih...” jawab Niky saat petugas resepsionis di sana menerima laporan dan menyampaikannya ke bagian yang terkait.


Niky segera keluar dari Sinar Tech setelah mengucapkan Proposalnya kemudian kembali memacu maserati putihnya ke B&J Group.


“tud....” Niky segera menekan tombol kunci dari kunci mobilnya setelah keluar dari sana. lelaki itu segera masuk perusahaan B&J Group. Dia pun lakukan hal yang sama saat dia ke Sinar Tech.


Lelaki itu menitipkan proposal nya pada petugas resepsionis yang ada di sana.


“Terima kasih...” ucapnya pada petugas resepsionis kemudian keluar dari perusahaan Itu.


Di luar perusahaan tampak Niky mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya pada Sisca.


“bam...” Niky masuk ke Maserati fotonya dan memacu mobilnya keluar dari sana. Karena jam sudah menunjukkan jam istirahat dia pun meluncur di jalanan menuju ke sebuah rumah makan untuk mengisi perutnya yang terasa perih.


Di lain tempat, tampak Selly yang mulai bergerak. Wanita itu mengajukan proposal dari Niky pada Direktur Utama Pelangi Group.


Tampak wanita itu berjalan keluar dari ruangannya menuju ke ruang Direktur Utama.


“tok... tok...” Selly mengetuk pintu ruangan Direktur Utama.


“Masuklah...” jawab Direktur Utama dari dalam ruangan. Selly pun segera masuk ke sana lalu menghadap seorang lelaki yang tampak beberapa rambut di kepalanya sedikit putih.


“Ada apa Selly kau ke sini...” tanya Direktur Utama menatap Selly.


“Maaf Pak Akbar... maksud kedatanganku ke sini karena ingin membahas suatu hal.” ucapnya sambil duduk setelah di persilakan duduk oleh atasannya.


“Begini Direktur Utama... ada proposal kerjasama investor di proyek Wonderland perusahaan Atmaja.” ucapnya menjelaskan sambil menyerahkan berkas dari Niky pada lelaki itu.


“Atmaja Group ? Proyek Wonderland ?” tanyanya sambil mengerutkan dahinya. Sebelum bertanya ataupun berdiskusi dengan wanita itu dia membuka berkas yang diberikan oleh Selly padanya dan membacanya agar paham pada apa yang akan mereka diskusikan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2