
Beberapa petugas medis keluar dari ruangan tempat Cassia di rawat melewati Wardana yang sedang menunggu di luar ruangan, duduk di sebuah kursi tunggu.
Wardana ketika berdiri saat melihat petugas medis keluar dari ruangan Cassia.
“Bagaimana keadaan pasien ?”ucap wardana bertanya pada salah satu petugas medis.
“Putri bapak masih belum siuman, dan kami masih melakukan tes laboratorium. Dalam satu jam ke depan akan keluar hasilnya.”jawab salah satu petugas medis menjelaskan.
Wardana kembali duduk menunggu sedangkan petugas medis yang membawa sampel darah Cassia berjalan menuju ke lab untuk melakukan pengecekan.
“tap... tap... tap...”Wardana masuk ruangan. Dia menghampiri Cassia masih belum sadarkan diri.
Dia menatap Cassia dan masih tak percaya jika putrinya menjalin hubungan dengan putra dari Osman, orang yang paling dibencinya.
“Semoga saja bocah itu tidak melakukan apapun padamu.”batin Wardana menatap Cassia yang tampak pucat.
Tiga puluh menit kemudian saat Wardana duduk menunggu di samping Cassia. Tiba-tiba gadis itu membuka matanya.
“Ayah... dimana aku...”ucap Cassia begitu sadar. Dia melihat infus terpasang di tangannya kemudian melihat ruangan dan menatap ayahnya.
“Kau sudah sadar nak... kau ada di rumah sakit.”jawab Wardana berdiri kemudian menghampiri putrinya.
Cassia mencoba untuk duduk namun dia merasakan tubuhnya masih lemas.
“Sudah kau tiduran saja tidak usah duduk.”ucap Wardana sambil memegang bahu Cassia dan merebahkan Cassia lagi ke tempat tidur.
__ADS_1
“Ayah... aku mau pulang saja aku tidak sakit...”ucap Cassia merasa tidak nyaman berada di rumah sakit.
“Ya kau akan pulang setelah menunggu hasil pemeriksaan dan dinyatakan baik-baik saja.”balas Wardana kembali duduk di kursi di samping Cassia.
Cassia diam dan merenung dia mencoba mengingat kembali kejadian sebelumnya. Saat ini dia teringat kembali pada Niky yang tadi babak belur karena ayahnya.
“Ayah... bagaimana keadaan kakak Niky ?”tanya Cassia masih mengkhawatirkan kekasihnya itu.
Seketika Wardana berubah menjadi marah sesat mendengar Cassia menyebut nama lelaki itu.
“Cassia... kau jangan pernah sekalipun menanyakan dia lagi dan jangan pernah berhubungan dengan dia lagi !”balas Wardana dengan muka menakutkan.
“kriek...” seorang petugas medis masuk ke ruangan dengan membawa hasil laborat.
“Bagaimana hasil tes labnya ?”tanya Wardana menghampiri petugas medis.
Wardana tersenyum mendengar hasil laboratorium dari petugas medis yang menyatakan Cassia baik-baik saja.
“Kira-kira kapan aku boleh pulang ?”tanya Cassia pada petugas medis.
“Nanti setelah di pastikan kondisi Anda stabil.”jawab petugas medis tadi pada Cassia.
“Oh ya masih ada satu diagnosa lagi pak...”ucap petugas medis membuka satu laporan lain yang dipegangnya.
“Berita bagus pak... pasien dinyatakan positif hamil dua minggu. Di sarankan pasien untuk tidak terlalu banyak berpikir dan stress.”ucap petugas medis menjelaskan sambil tersenyum.
__ADS_1
Wardana dan Cassia terlihat syok mendengar diagnosa yang barusan disampaikan oleh petugas medis tadi.
Setelah petugas medis memberikan vitamin pada Cassia dan keluar dari ruangan itu. Wardana menghampiri Cassia yang masih tampak syok dan diam saja.
“Cassia... plak !”Wardana menampar pipi Cassia dengan keras.
“Kau... apa saja yang kau lakukan dengan bocah itu ? Kenapa kau bodoh sekali ? Kau mempermalukan keluarga kita !”bentak Wardana menatap Cassia dengan tajam.
Sementara Cassia hanya diam dan memegang pipinya terasa sakit setelah terkena tamparan ayahnya.
“Dari sekian banyak lelaki kenapa kau memilih bocah brengsek itu ?Aku tidak sudi melihat keturunan Osman ! Aku tak mau tahu kau harus menggugurkannya !”ucap Wardana lagi dengan marah menatap Cassia dan tak mau mendengar penjelasan darinya. Dia pun segera keluar dari ruangan itu dengan mengepalkan tangannya menahan emosinya, untuk mencegah dirinya kalap dan melakukan hal yang akan melukai Cassia lagi.
Setelah ayahnya pergi, Cassia duduk. Dia meneteskan air mata sambil memegang perutnya.
“Ayah... aku tidak akan pernah menggugurkan janin ini. Apa pun yang terjadi aku akan melindunginya.”gumam Cassia yang sangat terpukul dan sedih sekali dengan permintaan ayahnya.
Cassia mencoba untuk tenang dan menghapus air matanya.
“Kakak Niky... aku tak percaya saat ini aku sedang mengandung anak mu. Aku harap kau senang dan menerima anak ini seperti diriku.”gumam Cassia lagi sambil lembut perutnya.
BERSAMBUNG....
Dear all readers...
Terima kasih atas dukungannya
__ADS_1
Baca juga kisah baru lainnya berjudul Mafia Penghancur Play-boy ya...
☺️🌻