
Sepuluh menit kemudian setelah Niky absen, dia segera bergegas masuk ke ruang kerjanya. Dia menaruh tas yang dibawa ke meja lalu duduk dan mengeluarkan kembali ponsel untuk membaca detail pesan text yang di kirim oleh Sisca padanya.
“tick...” Niky men-scroll layar ponsel nya untuk membaca pesan text yang masuk. Dahinya dampak berkerut setelah membaca pesan itu sekali lagi lalu menaruhnya ke meja.
“Kenapa harus bertemu di hotel... apa mungkin... tidak mungkin wanita itu seperti itu...” batin Niky yang merasa janggal dan sempat berpikiran buruk namun semua ditepisnya.
“Mungkin itu hanya pikiranku saja. Mungkin memang ada acara di sebuah hotel. Proyek Wonderland harus dapat investor.” batin lelaki itu lagi mencoba meyakinkan dirinya dan menyemangati dirinya kembali agar fokus pada tujuannya.
Niky pun menghela nafas lalu mulai mengambil berkas data investor dan memeriksanya lagi untuk mempersiapkan follow-up setelah urusan nya dengan Sisca selesai.
“tik... tik....” jemari Niky kembali bergerak dengan lincah di atas keyboard mengetikkan proposal yang akan di ajukan nya pada investor berikutnya.
Selesai mengerjakan laporan yang dibuatnya diapun segera mengeprint lalu menyusunnya sedemikian rupa.
Sore hari berlalu dengan cepat dan para staf termasuk Niky keluar dari kantor. Beberapa ada yang lembur juga di sana karena mengejar deadline laporan mereka.
Tampak di lain tempat tepatnya di rumah Sisca. Wanita itu coba tersenyum di depan cermin dengan mencoba beberapa baju yang sudah dikeluarkan nya dari lemari.
“Yang mana ya... aku suka semua gaun ini.” gumamnya mengambil gaun lain yang dia taruh di atas tempat tidurnya dan mencobanya.
“Yang ini kurang oke...” ucapnya mencoba gaun lainnya.
“Sepertinya yang ini pas sekali. Aku tampak masih berusia 17 tahun memakai gaun ini dan tak ada yang menyangka jika statusku sebenarnya janda.” gumamnya lagi tersenyum lebar mengagumi dirinya sendiri di cermin.
“Aku yakin... aku akan tampak memukau di acara nanti dan pastinya pemuda itu juga akan terpukau oleh kecantikan ku.” batin Sisca setelah menemukan gaun yang pas untuknya. Dia segera mengembalikan gaun lainnya yang tidak dipakainya.
Tak lama kemudian dia masuk ke kamar mandi untuk bersiap. Satu jam setelahnya Sisca sudah tampak siap dan tampak memukau dalam balutan gaun berwarna biru navy yang memberikan kesan elegan. Dia pun segera meluncur dengan mobilnya menuju ke hotel Havana tempat acara di kantornya berlangsung.
Tampak di lain tempat Niky juga bersiap. Dia memakai baju formal setelah berpikir dia pasti menghadiri sebuah acara formal.
“Oh... aku harus segera berangkat sekarang karena acaranya akan segera dimulai.” gumamnya saat melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 16.30 sore.
Tak berapa lama kemudian Niky menaiki maserati putihnya dan melaju mobilnya menuju ke hotel Havana.
Setibanya di sana, Niky berjalan masuk menuju ke hotel Havana. Tampak banyak orang yang juga datang ke hotel itu dengan pakaian resmi.
__ADS_1
“Jadi memang benar ada acara di sini. Tapi acara apa... ??” batin Niky yang merasa tenang karena memang ada acara resmi meskipun dia tidak mengetahui apa sebenarnya acar tersebut.
Setibanya di dalam hotel tampak Niky yang terlihat sedikit bingung di tengah keramaian mencari Sisca. Lama dia menatap ke sekitar untuk mencari sosok wanita itu, namun sayang dia tak menemukan Sisca.
“Apa yang harus kulakukan...” batin Niky merasa canggung berada di sana karena tak ada satupun dari yang hadir di sana yang dikenalnya.
Tampak di depannya jamuan makan dimana di sana banyak terhadap berbagai jenis makanan dan minuman serta banyak orang yang tidak di kenalnya yang berada di sana mengambil beberapa hidangan.
“Apa aku coba menghubungi dia dulu...” ucap Niky lirih lalu mengeluarkan ponsel dari saku bajunya.
“Tiit....” Niky menekan nomor telepon Sisca dan menghubunginya. Tiba-tiba dia merasa ada yang menyentuh bahunya. Dia pun menoleh ke belakang.
“Nona Sisca...” ucap Niky terkejut sekaligus senang melihat kedatangan wanita itu. Dia kemudian membatalkan panggilannya dan memasukkan kembali ponselnya ke saku baju.
“Maaf membuat mu lama menunggu...” ucap Sisca sambil membawa segelas lemon jus yang tampak sudah dia minum setengahnya.
Tampak Niky sedikit terpesona melihat wanita itu dalam balutan gaun yang membuat Sisca tampak lebih cantik dari biasanya.
“Ya tak apa nona Sisca... jadi ini sebenarnya acara kantor Aurora Group ?” tanya Niky berbasa-basi.
“Apa tak masalah jika aku yang merupakan orang luar ikut dalam acara perjamuan kali ini ?” ucap Niky yang merasa canggung setelah mengetahui jika aja itu sebenarnya khusus diadakan untuk para staf Aurora Group.
“Tak apa... ayo kita bicara di sana.” ucap Sisca mengajak Niky berjalan menuju ke meja kosong yang ditunjuk olehnya.
Niky mengikuti wanita itu berjalan ke tempat yang ditunjuk. Dia ikut duduk setelah Sisca duduk terlebih dulu.
Di meja itu sudah terhidang beberapa menu makanan dan juga minuman yang ditata sedemikian rupa.
“Jadi Nona Sisca... bagaimana dengan proposal proyek Wonderland baru yang sudah ku ajukan sebelumnya... ?” tanya Niky langsung ke topik pembicaraan karena merasa sudah tak sabar sama sekali menunggu jawaban dari Sisca.
“Santai dulu Niky... minumlah dulu...” Sisca menyodorkan jus strawberry yang sebelumnya sudah dia campuri dengan obat pada Niky.
Niky yang tak sabar membicarakan masalah pekerjaan, menerima begitu saja minuman yang diberikan oleh Sisca.
“glek... glek...” Tanpa rasa curiga sama sekali Niky menghabiskan minuman yang diberikan oleh Sisca padanya.
__ADS_1
“Bagaimana rasanya Niky... ?” tanya Sisca sambil tersenyum dan terus menatap lelaki itu.
“Ah ya segar sekali....” jawab Niky sambil menaruh gelas kosong yang dipegangnya kemeja.
Setelah beberapa saat kemudian Niky mulai merasakan kepalanya pusing dan pandangan matanya berkunang-kunang tanpa sebab.
Namun dia mencoba untuk menahan nya dan fokus pada tujuan awalnya.
“Nona Sisca... bagaimana dengan proyek Wonderland, apa nona Sisca mau berinvestasi di sana ?” ucap Niky bertanya pada wanita itu sambil memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
Sisca tampak tersenyum melihat obat yang dia campurkan dari mulai bereaksi.
“Ya Niky.... aku mau berinvestasi pada proyek Wonderland.” jawab Sisca kembali tersenyum sambil meminum lemon jus yg ada di meja.
“Benarkah... apa aku tidak salah dengar ?” ucap Niky bertanya balik karena merasa tak percaya pada apa yang barusan didengarnya.
Sisca mengangguk menjawab pertanyaan dari Niky.
“Kalau begitu tolong tandatangani berkas ini jika memang akan berinvestasi pada proyek Wonderland.” Niky mengeluarkan sebuah berkas dan juga pen lalu menyodorkan pada Sisca.
“Niky nanti saja... aku akan membubuhkan tanda tangan ku di sana.” jawab Sisca menerima berkas yang diberikan oleh Niky padanya dan menaruh nya ke atas meja.
Niky yang tak sabar dan tak ingin di perdaya lagi oleh Sisca terus mendesak wanita itu.
“Nona Sisca tolong segera tandatangani berkasnya agar akau yakin...” ucap Niky terus mendesak dan kembali memegang kepalanya yang terasa semakin pusing.
“Baiklah...” jawab Sisca singkat lalu membubuhkan tanda tangannya di sana dan menyerahkan kembali berkas itu pada Niky.
Setelah menerima berkas dari tangan Sisca, Niky merasa semakin pusing dan tak bisa menahan nya lagi selain itu dia juga merasa tubuhnya panas.
“Niky kau tampak tidak sehat... biar ku antar kau sebentar ke sebuah ruangan.” ucap Sisca menawarkan dan ternyata Niky menyetujuinya.
Tak lama kemudian Sisca membawa Niky menuju ke sebuah kamar yang sudah dia booking sebelumnya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1