
Beberapa hari berlalu, tak terasa sudah empat bulan proyek Wonderland berjalan dan pembangunan di sana sudah tiga puluh persen.
Suatu pagi Niky keluar kantor setelah urusannya di kantor selesai. Seperti biasa dia melajukan mobilnya menuju ke Wonderland untuk memantau pembangunan wahana di sana.
“tap... tap... tap...” Niky berjalan dan berkeliling dari satu wahana ke wahana lain yang ada di sana.
“Sejauh ini semua sudah sesuai dengan desain dan konsepnya.” batin lelaki itu setelah berkeliling ke seisi Wonderland.
Hari semakin siang dan Niky pun merasa lelah setelah berkeliling di sana. Dia pun duduk sebentar untuk meredakan lelahnya sambil meminum sebotol air mineral yang dibawanya dari kantor tadi.
“Ahh... segar sekali rasanya.” ucapnya setelah menghabiskan sebotol air mineral dan membuang botol kosongnya ke tempat sampah.
Niky menatap ke sekitar dan melihat para pekerja yang beristirahat di saat jam istirahat dan menyadarkannya jika sudah waktunya makan siang.
“Apa sekarang sudah jam makan siang...? Cepat sekali... aku sampai tak melihat waktu...” gumamnya sambil melirik arloji di tangan kirinya yang menunjukkan pukul 12 lebih.
Sebelum berdiri dia mengambil ponsel yang dia setting dalam mode silent dari balik saku bajunya dan melihatnya.
“klik...” Niky membuka layar kunci ponsel dan untuk memeriksa panggilan masuk ataupun pesan yang masuk.
“Aneh... kenapa sepi sekali... Cassia juga tidak meneleponku seperti biasanya.” ucapnya lirih saat mendapati sama sekali tak ada pesan ataupun panggilan masuk.
Niky berdiri dan mengerutkan dahinya masih menatap ponselnya. Dia mengecek lagi dan ternyata memang tak ada pesan atau panggilan yang masuk.
“Aneh sekali... tak biasanya ponsel ku sepi begini. Lalu kira-kira sedang apa Cassia ?” batinnya yang masih merasa heran menatap ponselnya yang sepi.
Niky berjalan keluar dari Wonderland masih ada yang mengganggu pikirannya. Dia masih penasaran pada Cassia. Lelaki itu pun tak ingin berada dalam rasa penasaran dan dia memutuskan untuk menelepon gadis itu.
“tuut... tuut.... tuut...” Telepon tidak tersambung dan Niky mengakhiri panggilan.
“Ah sudahlah mungkin gadis itu sedang tidak di Dream Fantasy. Lebih baik aku makan siang sendiri.” gerutunya yang kesal karena gadis itu tak mengangkat telepon darinya.
Niky melanjutkan langkah menuju ke maserati putihnya dan keluar dari area Wonderland menuju ke Dream Fantasy.
__ADS_1
Sesampainya di depan Dream Fantasy dia pun mematikan mobilnya. Entah kenapa hati kecilnya mengatakan jika dia harus masuk ke Dream Fantasy saat ini juga.
“Tak apalah aku masuk sebentar hanya untuk melihat-lihat perkembangan pembangunan wahana baru yang dulu pernah diceritakan oleh Cassia.” batinnya berjalan menuju ke pintu masuk wahana itu dan membeli tiket masuk.
Niky berjalan memasuki wahana. Dia berjalan cepat mencari wahana baru yang pernah diceritakan oleh Cassia padanya.
Dari kejauhan dia melihat ada sebuah bangunan yang masih baru di bangun dan masih 20 % dalam tahap pembangunan.
“Mungkin itu ya... yang dimaksud oleh Cassia...aku penasaran seperti apa wahana itu.” gumamnya sambil berjalan menuju ke tempat itu.
Tak beberapa lama kemudian dia tiba di depan wahana yang masih dalam tahap pengerjaan. Dia berdiri di depan batas yang di pasang dan mengamati pengerjaan wahana itu.
"Ku rasa Wonderland nanti akan lebih memukau dari pada di sini apalagi setelah desain yang ku ajukan sudah disetujui oleh Presiden Direktur.” gumam Niky sambil tersenyum kecil.
Baginya sudah cukup melihat wahana yang masih dalam proses pengerjaan itu dan dia harus segera keluar dari sana karena jam istirahatnya sebentar lagi akan habis.
Niky melangkahkan kakinya keluar dari Dream Fantasy. Di tengah jalan langkah nya terhenti saat melihat sosok Cassia dari kejauhan yang sedang tersenyum dan kelihatan dekat dengan seseorang lelaki.
“Itu seperti Cassia...” gumamnya saat berhenti di depan sebuah wahana dan lebih mendekat agar lebih jelas melihatnya dan memastikan apakah yang dilihatnya benar gadis itu atau bukan.
Di depan wahana, Cassia bersama seorang lelaki yang berusia sebaya dengan dirinya sedang makan es krim berdua dan berbincang-bincang sambil sesekali tersenyum.
“Cassia.... kau di sini rupanya...” ucap Niky saat sampai di belakang gadis itu dengan menahan kesal. Entah kenapa dia tidak suka saja melihat gadis itu dekat dengan lelaki lain selain dirinya sendiri apalagi melihatnya tersenyum pada lelaki lain.
Cassia dan teman lelakinya menoleh ke belakang setelah mendengar suara Niky. Gadis itu menatap teman lelakinya kemudian menatap Niky dengan terkejut.
“Kakak Niky... sejak kapan kakak berada di sini ? Kenapa tidak memberitahu ku ?” tanya gadis itu dengan gugup.
“Ehm... coba kau lihat ponsel mu.” jawab Niky singkat dan menatap lelaki yang berada di sebelah gadis itu.
“Jadi kakak menelepon ku tadi ?Maaf di sini berisik aku tidak mendengarnya...” jawab Cassia merasa bersalah dan tak enak hati pada Niky.
“Tak apa.... aku tahu kau sedang sibuk jadi lanjutkan saja. Maaf aku sudah mengganggu kencan mu.” ucapnya lalu berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Cassia tahu jika Niky telah salah paham padanya dia berusaha menjelaskan padanya, namun Niky terus terlalu darinya.
“Kak...kakak Niky... tunggu... aku bisa jelaskan... !” panggil Cassia baterainya Untuk menghentikan langkah Niky. Namun lelaki itu terus berjalan pergi meninggalkan dirinya, bahkan menoleh ke belakang saja tidak.
Cassia berusaha mengejar namun teman lelakinya menarik tangannya yang membuatnya berhenti mengejar Niky.
“Cassia... kenapa kau tampak bingung begitu dan peduli sekali pada lelaki tadi ? Apa dia kekasih mu ?” tanya lelaki itu yang melihat sikap Cassia yang tidak seperti biasanya.
“Ah... bukan... dia bukan kekasihku, Bram...” jawabnya dengan pikiran yang masih gelisah dan takut Niky akan salah paham padanya.
“Lalu kenapa kau sangat peduli sekali padanya... ?” tanya lelaki itu lagi dan Cassia diam tak bisa menjawab pertanyaan temannya itu.
“Ah sudahlah... kurasa pertemuan kita kali ini sampai di sini dulu. Besok kita diskusikan lagi mengenai bahan dan desain yang pas untuk wahana baru.” ucap Cassia mengakhiri percakapan mereka.
Gadis itu kemudian berlari meninggalkan Bram, desainer yang khusus merancang Dream Fantasy dari awal pembangunannya.
“Hey... Cassia... tunggu... kita belum selesai bicara... !” ucap Bram berharap gadis itu kembali. Namun Cassia hanya menulis saja menatapnya dan terus berlari keluar dari Dream Fantasy.
Cassia berani sambil menatap ke sekitar untuk mencari Niky, namun tak menemukan keberadaan lelaki itu di sana.
“Apa dia ada di rumah makan seafood....” gumamnya kemudian berlari menuju ke rumah makan itu.
Sesampainya di sana dia masuk ke rumah makan dan menatap ke sekitar mencari keberadaan Niky, namun dia juga tak menemukannya.
“Kemana sebenarnya dia pergi ?” batinnya yang gelisah dan berjalan keluar rumah makan, kembali mencari nya di luar.
“Di sini juga tidak ada...” ucapnya sambil terus berjalan dan mencari sampai ke tempat parkir.
Dia pun merasa kehabisan nafas setelah berlari jauh dan berhenti sejenak. Sambil mengatur nafasnya yang tidak beraturan dia pun mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mencoba menghubungi Niky, namun tak tersambung.
“Ahh... sepertinya dia marah dan mematikan ponselnya.”
Cassia pun akhirnya kembali berjalan masuk ke Dream Fantasy setelah gagal menemukan Niky dan berjalan gontai.
__ADS_1
BERSAMBUNG....