Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 77 Surprise Untuk Niky


__ADS_3

Setelah beberapa jam kemudian, Cassia akhirnya menemukan sebuah rumah baru yang sesuai dengan seleranya.


“Pak Rahmat... kita berhenti di sini.” ucap Cassia saat melihat sebuah rumah berukuran sedang, berlantai dua dengan model baru saat ini.


Gadis itu kemudian turun dari mobil sedangkan sopirnya tetap menunggu di dalam mobil. Cassia berjalan menuju ke rumah itu dan menemui pemilik rumah yang menjual rumah itu.


“Permisi...aku mau melihat-lihat dulu rumah ini...” ucap Cassia pada seorang lelaki berumur paruh baya yang merupakan pemilik rumah itu.


“Ya nona silahkan masuk untuk melihat-lihat dulu... semoga saja cocok.” balas lelaki itu tersenyum dengan ramah dan mengajaknya masuk untuk melihat seisi rumah.


Setelah berkeliling di rumah itu dan tertarik pada rumah itu, Cassia menanyakan berapa harga yang ditawarkan oleh lelaki itu.


“Berapa pak kira-kira harganya... ?” tanyanya ingin tahu harga yang ditawarkan padanya. pemilik rumah menyebutkan sebuah nominal dan Cassia tampak melakukan negosiasi dan menawar harganya.


Pada awalnya pemilik rumah keberatan Dan menolak dengan harga yang di ajukan oleh Cassia. Namun lelaki itu berubah pikiran setelah Gadis itu berjalan pergi dari rumahnya sejauh tiga meter.


“Nona tunggu... !” panggil pemilik rumah sambil berlari berjalan keluar rumah.


Cassia berhenti dan berbalik sebentar.


“Iya pak... ada apa ?” tanya Cassia berpikir mungkin lelaki itu berubah pikiran.


“Nona... baiklah aku akan melepas rumah ini pada Nona dengan harga yang tadi nona sebutkan.” ucap lagi itu berjalan menghampiri Cassia.


Gadis itu tampak tersenyum lebar mengetahui penjual itu bersedia melepas rumahnya padanya dengan harga 2 miliar kurang. Dia pun segera menyetujui sebelum menjual itu berubah pikiran.


“Baiklah pak... terima kasih...” ucapnya lalu mengikuti pemilihan rumah masuk kembali ke rumah dan melakukan transaksi pembelian. Pemilik rumah menyerahkan sertifikat rumah pada gadis itu setelah Cassia menuliskan sebuah cek dengan nominal harga yang telah mereka sepakati bersama dan menyerahkannya pada lelaki itu.


tak beberapa lama setelah itu Cassia keluar dari rumah tadi dengan tersenyum lebar sambil membawa kunci rumah angkat bersama sertifikatnya.


“klik...” Pak Rahmat langsung membukakan pintu saat melihat gadis itu sudah berdiri di pintu sebelah kiri.


“Terima kasih Pak Rahmat...” jawabnya singkat lalu masuk dan duduk, memasang sabuk pengaman.

__ADS_1


"Bagaimana non... apa rumah itu sudah dibeli ?” tanya sang sopir saat melihat gadis itu memasukkan kunci rumah ke dalam tasnya.


Cassia mengangguk menatap sang sopir sambil tersenyum kecil padanya.


“Ya mudah saja bagi nona untuk membeli rumah dengan harga mahal seperti itu dengan uang saku pemberian dari tuan tiap bulannya.” batin sang sopir yang berandai-andai memiliki kekayaan seperti tuannya.


“Pak... kita jalan sekarang.” perintah Cassia sambil melirik jam tangan di tangan kanannya.


Sang sopir hanya mengangguk kemudian menatap ke depan kembali dan segera melajukan mobilnya. Beberapa saat kemudian lelaki itu menurunkan Cassia di depan Dream Fantasy dan meninggalkannya kembali melaju di jalanan.


“tap... tap... tap...” Cassia berjalan melangkah menuju ke Dream Fantasy. Di tengah jalan dia berhenti dan mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


“klik...” Gadis itu menekan sebuah nomor untuk melakukan panggilan namun mengurungkan niatnya dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.


“Di jam ini biasanya kakak Niky sibuk. Jika aku meneleponnya mungkin dia akan terganggu.” gumamnya setelah sadar beberapa kali dia sering seperti itu padanya.


Di lain tempat Niky yang sedang duduk di depan monitor laptop, tampak sibuk memeriksa banyak laporan yang masuk ke emailnya. Di tengah-tengah kesibukannya dia menyempatkan diri untuk melihat ponsel yang dia taruh di meja.


Niky membuka kunci layar ponselnya dan melihat pada ponselnya ada pesan atau chat yang masuk atau tidak.


“Apa sebaiknya aku mengirimkan pesan saja untuknya...” batinnya. Dia pun menggerakkan jarinya mengetik pesan untuk Cassia.


“drrt...” Niky segera membuka pesan masuk yang ternyata adalah dari Cassia. Lelaki itu tampak tersenyum setelah membaca balasan dari gadis itu dan merasa lega lalu menyerahkan kembali ponselnya kemeja dan kembali bekerja dengan tenang.


Siang hari tepat di saat dia melangkahkan kaki di tempat parkir, ponsel nya berdering.


“Halo... ya Cassia...” jawabnya sambil membuka Indomobil dan segera duduk di sana.


“Kak... aku tunggu di depan Dream Fantasy ya... ada yang mau ku tunjukkan pada kakak.” ucap Cassia.


“Ya... aku sudah di jalan sekarang, mungkin sepuluh menit lagi sampai.” balas Niky yang sudah melajukan maserati putihnya di jalanan menuju ke Dream Fantasy.


Tak Berapa lama kemudian Niky tiba di depan Dream Fantasy. Cassia yang sudah standby di sana dan melihat mobil Niky datang segera berlari dan menuju ke tempat mobil itu berhenti.

__ADS_1


“klik...” Niky membuka pintu mobilnya, dan Cassia segera masuk lalu duduk disampingnya.


“Kau belum makan siang kan... kita coba makan di tempat lain ya...” ucap Niky melajukan kembali mobilnya di jalanan ke rumah makan lainnya karena dia merasa bosan makan di rumah seafood.


“Kak... nanti saja kita makan siangnya. Sekarang Tolong antarkan aku sebentar ke ke alamat ini.”ucap gadis itu memberikan sebuah alamat yang dia tulis pada secarik kertas pada Niky.


"Ya Cassia...” jawabnya singkat tanpa bertanya ke mana sebenarnya tujuan mereka. Beberapa saat kemudian mereka tiba di alamat yang ditunjukkan oleh Cassia.


Mereka berdua turun dari mobil. Niky berjalan mengikuti Cassia menuju ke sebuah rumah mewah dengan rasa penasaran yang tinggi namun dia menahan untuk tidak bertanya dulu.


“Kakak Niky... bagaimana menurutmu rumah ini ?” tanya gadis itu setelah mengajak Niky melihat-lihat rumah itu.


“Rumah ini bagus dan nyaman. Apa kau akan tinggal di sini sementara waktu ?” tanya Niky yang duduk di sofa di samping Cassia.


“Apa Cassia sendiri yang membeli rumah mewah ini... ? Harga rumah ini tak mungkin murah... tapi dari mana dia mendapatkan uang sebanyak ini setengah dia masih seorang pelajar...” batinnya bertanya-tanya dan tak menyangka saja.


“Tidak... bukan aku yang akan tinggal di sini... tapi kita akan tinggal di sini...” balasnya sambil tersenyum yang membuat Niky terkejut.


“Apa... jadi kau membeli rumah ini untukku ?”


“Ya... kakak bisa tinggal di sini daripada pulang ke luar kota setiap hari, dan aku akan tinggal di sini juga saat menunggu ayah pulang dari dinas luar kota.” jawab gadis itu sambil mengangguk lalu menggeser duduknya lebih dekat dengan Niky dan menyandarkan kepalanya ke bahu Niky dengan manja.


“Cassia... rumah ini pasti mahal... dan kau tak perlu membelikan aku rumah. Aku sudah biasa perjalanan ke luar kota...” jawabnya menolak dan gadis itu tampak sedih dengan penolakannya.


“Kakak... kau tak perlu sungkan seperti itu denganku. Kita adalah kekasih dan wajar jika aku ingin membuatmu senang. Ku mohon jangan menolak nya...” pinta Cassia memohon.


Niky tak kuasa menolaknya dan dia pun mengangguk meskipun sebenarnya dia berat dan merasa pantas menerimanya.


“Lalu sebagai balasannya kau minta apa... ?” tanya Niky.


Cassia berdiri dan beralih duduk di pangkuan Niky sambil memegang wajahnya. Dia kemudian mendekatkan wajahnya dan memejamkan matanya.


Niky yang tanggap pada permintaan gadis itu memegang dagunya lembut dan mencium bibir merah Cassia yang terasa lembut.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2