
Niky membaca setiap kata dalam pesan text yang diterimanya. Tangannya tampak gemetar setelah selesai membaca isi dari teks yang dikirim oleh Sisca padanya.
“Wanita itu mau mengajak ku bertemu lagi... kira-kira apa yang mau dia lakukan padaku...” batinnya dengan alis berkerut dan dan menatap ponselnya yang tergeletak di meja.
Dia enggan untuk membalas pesan teks itu dan lebih memilih ih tenggelam dalam kesibukannya di depan laptopnya.
“Aku harus memikirkan strategi selanjutnya untuk me-follow up Pelangi Group.” batinnya mencoba mengalihkan pikiran dan fokus pada targetnya.
“Ehm...siapa ya clien dari Pelangi Group...” batin Niky lagi saat perhatikan data investor yang ada di tangannya.
“Selly... seorang wanita lagi...” gumamnya lirih setelah membaca nama pada data investor yang dipegangnya.
Dia pun menaruh kembali berkas data investor yang dipegangnya kemeja. Niky lalu menggerakkan jarinya di atas keyboard dan mengetik untuk mencari profil data dari internet.
“klik...” beberapa saat kemudian Niky menutup semua data yang berisi tentang profil Pelangi Group berikut dengan data Selly.
Niky melihat foto pada monitor laptopnya seorang wanita blasteran berusia hampir 40 tahunan dengan tubuh ramping, tinggi ideal.
“Semoga saja wanita ini bisa ku taklukkan dan menjadi investor kedua dengan mudah.” batin Niky lalu menutup semua informasi itu setelah selesai membacanya.
Niky kembali menyandarkan punggungnya yang terasa kaku setelah berapa jam menatap layar laptop, sekedar untuk meluruskan otot punggungnya yang kaku.
“kring... kring...” Ponsel Niky berdering. Dia segera mengambilnya dan mengangkatnya setelah ponsel itu terus berdering berulang kali karena dia enggan menerima telepon dari Sisca sebelumnya.
“Ehm... ya halo... nona Sisca.” jawab Niky dengan terpaksa menyadari jika wanita itu adalah investornya. Jika saja dia bukan salah satu investor Wonderland dia tak akan mengangkatnya.
“Hay Niky... bagaimana kabarmu hari ini... oh ya... apa kau ingat dengan kejadian semalam ?” tanya Sisca dengan lancar dari telepon.
Beberapa pasang mata menatap Niky seketika setelah mendengar suara dari ponsel Niky yang terdengar.
“Ehm... sebentar nona Sisca...” Niky berdiri dari tempat duduknya karena merasa rekan kerjanya di sana mengawasi dirinya dan juga mendengarkan pembicaraannya.
Dia berjalan melangkah keluar dari ruangan kerjanya dan mencari tempat yang sepi.
__ADS_1
“Halo... nona Sisca... apa maksud anda ? Aku tak menyangka jika Sisca melakukan perbuatan hina itu pada ku...dan pasti kau yang menaruh sesuatu di minumanku !” jawab Niky yang akhirnya marah dan tak bisa menahan emosinya lagi.
“hihihi... kau jangan menuduh aku seperti itu. Aku hanya membantumu mendinginkan tubuhmu yang panas semalam...” jawab wanita itu dari telepon sambil tertawa yang membuat Niky semakin bertambah emosi.
Niky tampak diam menahan amarahnya yang semakin memuncak, jika saja dia tak ingat wanita itu dia sudah membanting teleponnya dari tadi.
“Niky... kau marah pada ku ya... ingat aku ini investor pertama mu di proyek Wonderland. Jika kau mau aku tidak mencabut investasi ku di sana kau harus menuruti permintaanku...” ucap Sisca melanjutkan ucapannya dengan nada lembut meskipun sebenarnya dia mengancam.
Niky hanya mengepalkan tangannya kuat-kuat mendengar ancaman dari wanita itu.
“Lalu apa yang nona Sisca ingin aku lakukan sekarang... ?” tanya balik Niky pada wanita itu.
“Aku senang kau bisa mengerti ucapan ku. Simple saja... kau datanglah memenuhi undangan ku makan malam sebagai permintaan maaf dariku...” sambung wanita itu ditelepon yang membuatnya mau mau tak mau dia harus menuruti perkataan wanita itu.
“Huft... baiklah nona Sisca... aku akan makan malam dengan mu nanti.” jawab Niky terpaksa menuruti perkataan dari wanita itu.
Panggilan berakhir setelah terdengar suara Sisca yang tertawa dari balik telepon.
“Sial sekali aku... dapat investor seperti itu...” umpatnya dengan kesal dan memukulkan tangannya dengan keras ke dinding.
“Aku harus segera menyerahkan proposal ini dan bertemu dengan Bu Selly agar proyek Wonderland ini segera berjalan.” gumamnya lirih memutar kemudi masuk ke tempat parkir perusahaan milik Pelangi Group.
“klik...” Niky membuka pintu mobilnya dan menutupnya kembali setelah keluar dari sana. Dia berjalan masuk ke gedung itu.
Sesampainya di lobby dia menemui petugas resepsionis yang ada di sana sambil membawa proposal penawaran yang akan diajukan.
“Ada yang bisa dibantu kak...?” tanya salah satu petugas resepsionis pada Niky saat lelaki itu menghampirinya.
“Maaf... saya dari Atmaja Group dan ingin bertemu dengan ibu Selly.” ucap Niky pada petugas resepsionis itu.
“Apa sebelumnya sudah ada janji bertemu dengan ibu Selly ?” tanya petugas resepsionis dan Niky menggeleng.
“Maaf jika boleh tahu ada keperluan apa ingin bertemu dengan bu Selly ?” tanya petugas resepsionis itu lagi pada Niky.
__ADS_1
Niky menunjukkan berkas yang dibawanya pada petugas resepsionis.
“Ini... aku ingin menyerahkan proposal ini pada ibu Selly. Tapi aku sangat berharap bisa bertemu dengannya.” jawab Niky menaruh perkasa di bawahnya di meja resepsionis.
“Baiklah mohon di tunggu sebentar.” jawab petugas resepsionis itu. Lalu petugas Itu tampak melakukan panggilan setelahnya dan berbicara selama beberapa menit kemudian menaruh gagang telepon yang kembali.
“Maaf... ibu Selly masih ada meeting hari ini. Beliau berpesan untuk meninggalkan berkasnya saja disini dan nanti beliau akan menghubungi.” jawab petugas resepsionis itu pada Niky yang masih berdiri di hadapannya.
“Terima kasih...” jawab Niky dengan tersenyum sambil menahan rasa kecewa karena tak bisa bertatap muka langsung dengan yang dicarinya. Dia pun menyerahkan proposal pengajuannya pada petugas resepsionis sebelum pergi dari perusahaan itu.
Malam harinya tampak Sisca yang sudah selesai bersiap keluar dari rumahnya. Dia masuk ke mobil metaliknya dan segera meluncur ke jalanan dan menuju ke sebuah hotel tempat dia mengadakan janji makan malam dengan Niky.
Di lain tempat tampak Niky juga mau menerima syarat itu artinya menuju ke lokasi yang ditunjukkan oleh Sisca padanya.
Tak lama kemudian mereka berdua tiba di lokasi secara bersamaan.
“klik...” Sisca jalan menuju lobi setelah keluar dari mobilnya. Selang beberapa menit tanpa Niky juga berjalan menuju ke lobby hotel.
“Oh Niky... kau sudah datang...” ucap Sisca saat berbalik dan hendak duduk. Sedangkan Niky hanya diam saja dan tak menjawabnya.
“Ayo ikuti aku...” ajak wanita itu kemudian berjalan naik ke lantai empat lewat lift.
“Ting...” pintu lift terbuka dan mereka berdua keluar dari sana. Niky mengikuti Siska yang berjalan menuju ke sebuah ruangan dimana wanita itu sudah melakukan reservasi sebelumnya.
“Kau mau pesan apa... ?” ucap wanita itu setelah duduk berhadapan dan menyerahkan tabel menu pada Niky.
“prok... prok...” Sisca bertepuk tangan untuk memanggil waiter yang menunggunya berdiri di ujung pintu.
Lelaki itu segera menghampiri wanita yang memanggilnya.
“tolong.... ini pesanan kami...” ucap Sisca menyodorkan daftar pesanannya pada waiter.
Lelaki itu segera pergi setelah menerima daftar pesanan dari Sisca.
__ADS_1
Tampak Niky diam melihat ke sekitar menikmati suasana sepi dalam lampu redup yang terasa hangat.
BERSAMBUNG...