Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 119 Mengecoh Wardana


__ADS_3

Cassia menghampiri Niky dengan wajah pucat menatapnya. Dia sendiri juga bingung apa yang harus dia lakukan. Di satu sisi dia tak ingin menyakiti Niky dengan memintanya untuk segera pergi dari perusahaannya, tapi dia juga tak ingin ayah nya melihat Niky.


“Sayang... kenapa kau tampak gelisah ? Aku akan menemui ayahmu jika memang dia ke sini.”ucap Niky yang bersikap gentle di depan Cassia walaupun sebenarnya dia malas bertemu dengan Wardana. Dia berakting begitu agar Cassia yang berinisiatif menyuruhnya pergi.


“Emm... kakak... jangan marah padaku. Aku tak ada maksud negatif atau lainnya.... hanya saja ayah ku orang nya keras. Aku tak ingin sampai ayah bersikap tidak menyenangkan pada kakak...”ucap Cassia berusaha menjelaskan pada Niky.


Gadis itu kemudian berbisik di telinga Niky.


“Kakak... kita tunggu waktu yang tepat untuk bertemu dengan ayahku...”ucapnya lirih sambil mengalungkan tangannya ke leher Niky.


Niky tersenyum kecil karena aktingnya berhasil membuat yang Cassia berinisiatif lebih dulu tidak mempertemukan mereka berdua.


“Ya sayang...aku mengerti...”balas Niky sambil memegang pinggang gadis itu.


“Kakak tidak marah pada ku ?”tanya Cassia menyentuh wajah Niky yang mengira lelaki itu akan marah padanya.


Niky menggeleng dan tersenyum kecil sambil membelai rambut panjangnya.


“Jika begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa sayang...”ucap Niky kemudian mencium bibir Cassia dengan cepat lalu melepaskan tangannya dari pinggang Cassia.


“Ya kakak... hati-hati...”balas Cassia menatap Nike yang berjalan ke pintu dengan cemas.


Niky berjalan menuju ke lift yang ada di samping ruangan Cassia. Dia berjalan dengan cepat sebelum Wardana tiba di ruangan itu.


Sebelum masuk ke lift, Niky mengeluarkan kacamata hitam yang biasa di pakainya dari balik blazernya dan memakainya untuk menyamakan identitasnya.


“Ding...”Niky menekan tombol ke lantai dasar setelah masuk ke lift. Dan beberapa saat kemudian pintu lift tertutup.


Sementara itu Wardana kembali menoleh ke belakang sebelum masuk ke pintu perusahaan. Dia melihat ada mobil putih terparkir di sana.

__ADS_1


“Mobil itu... aku seperti pernah melihatnya. Dimana ya...” kumannya berusaha mengingat-ingat kembali dimana Dia pernah menjumpai mobil itu.


Setelah sepersekian detik, Wardana pun akhirnya bisa mengingatnya.


“Itu kan mobil yang pernah kulihat melintas di depan rumah saat Cassia pergi. Mungkinkah itu milik kekasih Cassia... ?”batin Wardana.


Lelaki itu pun kemudian segera masuk dan melangkahkan kakinya dengan cepat karena ia penasaran pada pemilik mobil putih yang juga merupakan kekasih dari putrinya.


Wardana berjalan menuju ke tempat lift berada untuk menemui Cassia.


“klak...” suara pintu lift terbuka.


Niky keluar dari lift dan berjalan menuju ke lobby. Dari kejauhan dia melihat sosok Wardana berjalan ke arahnya.


“Sialan.... ! Kenapa si tua bangka itu cepat sekali sudah sampai di sini.”batin Niky mencoba bersikap tetap tenang dan tetap berjalan dengan kecepatan sedang.


Dia sama sekali tidak menoleh ke samping saat Wardana menatapnya dan terus melangkah menuju ke lobby.


“Siapa lelaki tadi... apa dia staf di sini... ?”batin Wardana berhenti sebentar kemudian berbalik dan menghadap Niky yang sudah sampai di ujung lobi.


Wardana kembali melangkahkan kakinya menuju ke lift dan beberapa saat kemudian pintu lift tertutup.


“Huft...”suara Niky makanan nafas panjang setelah sampai di depan mobilnya.


“Untung saja bajingan itu tidak mengenali diriku.”gumam Niky sambil melepas kacamata hitamnya dan menaruhnya kembali di balik blazernya.


“Klik...”Niky segera membuka pintu mobil dan menutupnya kembali setelah dia duduk di depan kemudi.


“Aku selamat kali ini dan aku harus segera pergi dari sini...”ucap Niky kemudian segera melajukan Maserati putihnya keluar dari Flower Corporation menuju ke jalanan.

__ADS_1


Niky melirik arloji di tangan kirinya yang menunjukkan masih pagi hari. Karena pekan ini dia belum mengunjungi ibu dan adiknya dia pun memutuskan untuk melajukan mobilnya menuju ke rumah ibunya berada.


Kembali ke perusahaan Cassia.


Cassia saat itu sedang berdiri di jendela dan menetap keluar jendela.


“Untunglah... kakak Niky sudah pergi dari sini dan tidak bertemu dengan ayah.”gumam Cassia dia merasa lega setelah melihat masih lagi putih milik Niky meluncur keluar dari area parkir yang bisa dilihat dari ruangannya.


“klak...”Pintu lift terbuka, tampak Wardana keluar dari sana dan berjalan menuju ke ruangan Cassia.


Wardana berjalan dengan cepat agar bisa bertemu dengan lelaki yang merupakan kekasih dari putrinya.


“Ayah... ?!”ucap Cassia terbalik saat mendengar adalah langkah kaki yang masuk ke ruangannya dan menempati ayahnya sudah berdiri di depannya.


Wardana mengedarkan pandangan ke sekitar namun tak menemukan siapapun di sana. Dia pun berjalan ke sebuah ruangan lain yang ada di sana dan membukanya, namun tidak ada juga.


“Ayah... ayah mencari siapa... ?”tanya gadis itu menghampiri ayahnya.


“Oh... tidak... ayah hanya ingin tahu saja isi ruangan ini.”jawabnya lalu menutup kembali pintu itu.


Wardana belum puas dia pun berjalan ke arah jendela untuk melihat ke area parkir, mencari sosok lelaki pemilik mobil putih.


BERSAMBUNG...


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Dear pembaca semua... baca karya baru ku lainnya yang berjudul Sang Mafia Penghancur Play-boy ya...


Terima kasih 🙏❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2