Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 111 Prestasi Cassia


__ADS_3

Tiga bulan berlalu dan tak terasa Cassia Group sudah beroperasi selama enam bulan. Dan selama enam bulan ini perusahaan itu menunjukkan kemajuan yang signifikan dan terus merangkak naik ke posisi di atasnya di jajaran top 10 perusahaan baru.


Di tempat kerja tampak Niky sedang duduk di kursi setelah mengambil buletin tri semester daftar perusahaan secara nasional.


“Srak... srak... srak...”


Niky membuka halaman demi halaman buletin yang dipegangnya. Dia membaca informasi terbaru mengenai beberapa perusahaan yang sedang melejit saat ini dan berhenti di halaman yang menampilkan daftar perusahaan baru yang masuk top 10 dalam semester ke dua ini.


“Siapa saja yang masuk dalam daftar top 10 kali ini...” gumam Niky membaca satu persatu nama perusahaan yang tertulis di sana. Pandangan nya berhenti dan tempat terkejut sekali saat melihat perusahaannya ada dalam urutan ke-5.


“Benarkah ini... aku sama sekali tak pernah menyangka nya jika perusahaan ku bisa naik pesat hanya dalam tiga bulan terakhir.” gumamnya tersenyum lebar dan membaca kembali karena masih merasa tak percaya.


“Rencana ku sudah berjalan dengan lancar. Jika bisa terus bertahan seperti ini sampai tahun depan dan beberapa tahun berikutnya aku bisa masuk ke tahap dua rencana pembalasan dendam ku.” gumam Niky merasa optimis dan merasa sangat senang. Di saat seperti itu Dia teringat pada Cassia, karena berkat gadis itu semuanya bisa seperti ini.


Niky mengeluarkan ponsel dari laci meja dan menghubungi nomor Cassia.


“Halo sayang... apa kau sudah membaca buletin terbaru semester ini ?” tanya Niky pada Cassia setelah telepon tersambung.


“Belum kakak... aku sedang ada di kampus saat ini. Ada kabar apa ?” balas Cassia sambil berjalan keluar dari kelas dan menuju ke tempat parkir.


“Sayang... perusahaan kita kali ini masuk dalam urutan ke-5.” balas Niky menjelaskan.


Cassia yang berjalan dan sampai ke mobilnya segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Dia merasa terkejut sekali dengan apa yang barusan Niky ceritakan.


“Kakak.... apakah itu benar ?” tanya Cassia sambil menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


“Ya sayang.... tentu saja benar dan ini semua berkatmu. Kau memang gadis ku yang bisa ku andalkan.” ucap Niky memuji-muji kekasihnya.


“Aku hanya melakukan yang terbaik dan itu semua untuk kakak.” balas Cassia sambil tersenyum kecil.


“Terima kasih sayang...aku sangat mencintaimu. Nanti sore kau akan datang ke rumah kan ?” tanya Niky pada gadis itu.


“Ya kakak... bersabarlah. Aku juga sangat mencintaimu dan sangat merindukanmu. Setelah ini aku mau ke kantor dan nanti sore aku akan ke rumah.” balas Cassia.


Setelah percakapan berakhir gadis itu melajukan mobilnya menuju ke perusahaan Niky.


Dua puluh menit kemudian mobil kuning yang dikendarai oleh Casisa tiba di Cassia Group.


“Brak...” Cassia menutup kembali pintu mobil setelah membukanya. Dia berjalan masuk menuju ke lantai lima untuk mengecek beberapa laporan.


Sementara itu di lain tempat Wardana sedang duduk di ruangannya dan baru selesai memberikan tanda tangan serta stempel pada tumpukan dokumen yang ada di meja kerjanya.


Wardana menoleh ke kiri dan meletakkan bolpoin yang dipanggangnya kemeja.


“Ya masuk...” ucap Wardana dari dalam dan setelahnya seseorang membuka pintu.


Seorang lelaki yang merupakan anak buah Wardana memakai setelan jas serba hitam dan berkacamata hitam masuk ke ruangannya.


“Bos... ada info baru...” ucap lelaki itu melaporkan.


Wardana seketika berdiri dan menghampiri lelaki tadi.

__ADS_1


“Informasi apa yang mau kau laporkan... ku harap itu kabar bagus untukku.” jawab Wardana penasaran.


“Ini boz...” jawab lelaki tadi menyerahkan buletin perusahaan nasional tri semester pada nya.


“Perusahaan nona Cassia menduduki posisi kelima di daftar perusahaan baru pekan ini.” lanjut lelaki tadi.


Seketika Wardana langsung membuka buletin yang barusan diterimanya untuk memastikan kebenaran apa yang disampaikan anak buahnya.


Wardana membalik halaman demi halaman untuk mencari nya dan akhirnya dia menemukan nya.


“Ya ternyata benar yang kau katakan. Kerja bagus. Terus pantau perkembangannya jika ada yang perlu dilaporkan segera laporkan padaku. Kau boleh pergi sekarang.” ucap Wardana kembali duduk ke kursinya dan tersenyum lebar.


“buk...” Lelaki itu melempar buletin yang dipegangnya ke meja setelah selesai membacanya lalu menautkan kedua tangannya untuk menopang dagunya.


“Cassia... kau memang luar biasa. kau benar-benar mewarisi darahku sebagai seorang pebisnis sejati. Hahaha...” ucap Wardana tertawa lebar sampai terlihat semua gigi depannya.


“Jika kau bisa bertahan dalam kurun waktu satu tahun aku akan memberi mu satu perusahaan baru untuk kau jalankan.” ucap Wardana kembali tersenyum lebar lalu keluar dari ruangannya.


Kembali pada Niky yang masih ada di kantor. Lelaki itu sudah menyelesaikan pekerjaannya hari ini dan melirik ke arloji nya dan menunggu jam istirahat.


Dia pun menyadarkan bahunya yang terasa sedikit pegal ke kursi dan meregangkan kedua tangannya untuk melemaskan otot bahunya yang kaku setelah mengetik seharian.


“Jika prediksi ku benar... saat ini Wardana pasti sudah tahu prestasi yang Cassia capai dan membuat perusahaan ku menduduki urutan kelima. Dan aku hanya perlu menunggu semuanya berjalan seperti prediksi ku.” gumam Niky tersenyum kecil membayangkan wajah Wardana yang tampak tersenyum lebar di depannya.


Tiga puluh menit kemudian, Niky keluar dari kantornya untuk makan siang di luar.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2